Malam Natal: Yes 9:1-6;Tit 2:11-14; Luk 2:1-14
"Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar 
untuk seluruh bangsa"

Dalam rangka merayakan Natal dan Tahun Baru pada umumnya orang saling 
memberikan salam, antara lain dengan mengirimkan kartu Natal, namun pada masa 
kini pada umumnya tidak dengan kartu Natal lagi melainkan dengan pesan pendek 
(SMS) atau via email. Ketika saya masih bertugas sebagai Ekonom Keuskupan Agung 
Semarang sering menerima kartu Natal yang sama dari seseorang bagi kami 
berempat (Bapak Uskup, Vikjen, Sekretaris dan Ekonom Keuskupan). Ada satu kartu 
Natal yang menarik dan mengesan yaitu kami berempat menerima kartu Natal dalam 
bentuk `fotocopy". Harga satu lembar fotocopy saat itu Rp.25,-/lembar dan satu 
lembar kertas kwarto berarti bisa jadi 2 eks fotocopy kartu Natal. Sementara 
itu harga kartu Natal termurah di toko-toko adalah Rp.200,-. Yang mengesan bagi 
saya: pengirim adalah orang miskin dan tanpa membedakan jenis kartu Natal yang 
dikirimkan, semuanya sama dalam bentuk fotocopy. Semuanya menerima apa yang 
sama dan apa yang diterima murah meriah harganya. Seandainya yang bersangkutan 
mengirimkan kartu Natal asli kiranya tidak dapat mengirimkan sebanyak fotocopy. 
Bentuk kartu Natal berbeda tetapi hemat saya nilai spiritual atau maknanya 
sama. 

"Sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa"
(Luk 2:10) 
Bayi yang lahir dari rahim Bunda Maria, yang kita kenangkan kelahiranNya, 
adalah Penyelamat Dunia. Ia datang untuk menyelamatkan seluruh dunia, maka 
malaikat kepada para gembala berkata "Sesungguhnya aku memberitakan kepadamu 
kesukaan besar untuk seluruh bangsa".  Warta gembira melalui ini kiranya 
menjadi inspirasi tema pesan Natal Bersama  KWI dan PGI tahun 2009 ini, yang  
bertema "Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang ...", maka marilah kita refleksikan 
atau renungkan serta kemudian kita hayati atau laksanakan dalam hidup dan kerja 
kita setiap hari.

Semua orang/manusia di bumi ini mendambakan hidup bahagia, damai sejahtera, 
selamat lahir dan batin, jasmani dan rohani, namun dalam kenyataan saat ini 
masih cukup banyak orang tidak atau kurang bahagia, damai sejahtera dan 
selamat. Jika kita membuka mata dan telinga kita terhadap lingkungan hidup di 
sekitar kita, kiranya kita dapat melihat dan mendengar bahwa masih cukup banyak 
orang yang menderita serta membutuhkan uluran kasih atau bantuan. Marilah kita 
meneladan Sang Penyelamat Dunia, Allah yang turun ke dunia menjadi manusia sama 
dengan kita kecuali dalam hal dosa, dengan `turba' (=turun ke bawah), 
`menunduk' bukan menengadah. Ia telah `melepaskan ke Allah-anNya' atau 
kebesaranNya, maka kita pun dipanggil untuk dengan rela dan senang hati 
`melepaskan' sebagian harta/ uang, tenaga dan perhatian kita bagi 
saudara-saudari kita yang sedang menderita atau sakit, entah sakit hati, sakit 
jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh. Secara khusus kami menghimbau dan 
mengajak mereka yang berwenang dan berkuasa dalam hidup bersama alias para 
pemimpin atau petinggi untuk sungguh mengusahakan kesejahteraan umum. Tanda  
keberhasilan kinerja atau pelayanan pemimpin adalah semua anggota atau warganya 
hidup sejahtera, selamat dan bahagia lahir maupun batin. 

Cukup menarik bahwa yang pertama kali menerima kesukaan besar adalah 
"gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada 
waktu malam". Para gembala adalah orang-orang yang kurang diperhitungkan dalam 
percaturan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dengan kata lain 
mereka tidak memiliki pengharapan pada mereka yang menentukan hidup bersama di 
dunia ini dan pengharapan mereka terarah kepada Allah, Yang Ilahi. Setiap hari 
para gembala berada dan tidur di alam terbuka, beratapkan langit luas dengan 
sinar terang dari ribuan bintang. Kenyataan ini kiranya dapat menjadi 
permenungan atau refleksi kita; kepada siapa pengharapan, cita-cita atau 
dambaan kita diarahkan? Marilah mengarahkan pengharapan, cita-cita dan dambaan 
kita kepada Tuhan, Penyelamat Dunia yang telah lahir sebagai manusia di dunia 
ini, karena "Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan 
keingingan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijksana, adil dan beribadah 
di dalam dunia sekarang ini" (Tit 2:12)       
"Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan 
duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia 
sekarang ini" (Tit 2:12) 
Kita akan segera meninggalkan tahun 2009 dan memasuki Tahun Baru 2010, maka 
marilah kita tinggalkan juga kefasikan dan keinginan-keinginan dunia dan 
menghayati hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini. 
Setiap hari kita hidup mendunia, berpartisipasi dalam seluk beluk duniawi, maka 
kita diharapkan tidak bersikap mental materialistis atau duniawi alias 
`berbakti kepada berhala modern' seperti harta benda/uang, kedudukan/pangkat 
atau kehormatan duniawi, melainkan menghayati hal-hal duniawi sebagai sarana 
untuk mengusahakan kesucian hidup, semakin beriman, semakin berbakti kepada 
Tuhan. Kita semua dipanggil untuk mengusahakan kesucian dengan berpartisipasi 
dalam seluk beluk duniawi. 

Kesucian hidup tersebut antara lain dapat kita wujudkan dengan hidup bijaksana, 
adil dan beribadah. Bijaksana dan adil rasanya bagaikan mata uang bermuka dua, 
dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan; dua keutamaan ini kiranya mendesak 
untuk kita hayati dan sebarluaskan dalam kehidupan bersama kita masa kini. 
Berbagai masalah dan kasus hidup bersama yang muncul akhir-akhir ini nampak 
tidak diselesaikan dengan bijaksana dan adil, misalnya kasus KPK dan POLRI, RS 
Omni International dan Prita, dll.. Hemat saya cara bertindak bijaksana dan 
adil ini sedini mungkin perlu dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di 
dalam keluarga dan diperkembangkan serta diperdalam di sekolah, dengan 
keteladanan dari orangtua dan guru/pendidik. Jika anak-anak di dalam keluarga 
memperoleh pengalaman hidup bijaksana dan adil maka kelak kemudian hari mereka 
akan dengan mudah untuk bertindak bijaksana dan adil juga. 

Selain bijaksana dan adil kita juga dipanggil untuk beribadah. Dalam merayakan 
Natal kiranya juga ada kebiasaan misa Natal anak-anak dimana anak-anak 
bersembah sujud kepada `Sang Bayi', Penyelamat Dunia, yang ada dan tertidur 
nyenyak di palungan, sambil mempersembahkan sesuatu sebagai lambing persembahan 
diri mereka kepada Kanak-Kanak Yesus. Kebiasaan ini hendaknya menjadi 
peringatan bagi kita semua akan pentingnya ibadah kita kepada Tuhan dalam hidup 
sehari-hari. Ibadah itu antara lain dihayati dengan mendoakan doa-doa harian, 
seperti doa pagi, malam maupun mengawali dan mengakhiri kegiatan."Bangsa yang 
berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam 
di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar" (Yes 9:1). Hidup beribadah 
atau berdoa kiranya dapat menjadi terang dalam perjalanan tugas dan panggilan 
kita masing-masing. Marilah kita tidak melupakan hidup doa kita masing-masing. 

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap 
bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang 
dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara 
bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku 
bangsa" (Mzm 96:1-3).

"SELAMAT NATAL 2009 DAN TAHUN BARU 2010"

Jakarta, 25 Desember 2009


Kirim email ke