"Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan 
berpuasa dan berdoa".
(1Yoh 2:12-17; Luk 2:3640)

"Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku 
Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun 
lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat 
tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan 
berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap 
syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang 
menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Dan setelah selesai semua yang harus 
dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu 
kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh 
hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya" (Luk 1:36-40), demikian kutipan 
Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Pada hari ini kepada kita ditampilkan seorang nabi perempuan, bernama 
Hana, yang "tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah 
dengan berpuasa dan berdoa". Tokoh nabi Hana ini kiranya baik menjadi bahan 
refleksi bagi rekan-rekan perempuan. Dari berbagai pencermatan dan pengalaman 
kiranya dapat dikatakan bahwa rekan-rekan perempuan pada umumnya lebih berperan 
dalam "beribadah dengan berpuasa dan berdoa". Pertemuan-pertemuan bersama untuk 
pendalaman iman atau doa bersama di lingkungan/stasi pada umum lebih banyak 
dihadiri oleh rekan-rekan perempuan daripada rekan laki-laki. Perhatian ibu 
kepada anak-anaknya pada umumnya lebih besar daripada perhatian bapak terhadap 
anak-anaknya, sebagaimana sering dikumandangkan dalam sebuah lagu "Kasih ibu 
kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, 
bagai sang surya menyinari dunia". Maka dengan ini kami berharap kepada kita 
semua untuk sungguh bersyukur dan berterima kasih kepada ibu kita 
masing-masing, yang telah mengandung, melahirkan, membesarkan kita sehingga 
kita "bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat dan kasih karunia Allah" 
berkanjang dalam diri kita masing-masing. Sebagai ucapan syukur dan terima 
kasih hendaknya kita juga rajin `beribadah dengan berpuasa dan berdoa', yang 
menandai atau menjadi cirikhas hidup beriman atau beragama. Tujuan beribadah 
tidak lain adalah agar kita senantiasa tetap berada dalam `kasih karunia 
Allah', dan dengan demikian hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah, 
setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan dan terkait dengan cara hidup 
dan panggilan kita masing-masing. Maka baiklah kita saling membantu dan 
mengingatkan satu sama lain dalam hal `beribadah' ini.          
•       "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau 
orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab 
semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta 
keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia 
ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak 
Allah tetap hidup selama-lamanya" (1Yoh 2:15-17). Apa yang dimaksudkan dengan 
`mengasihi dunia'  disini kiranya adalah sikap mental materialistis atau 
duniawi atau bisnis, dimana orang mengurus atau mengelola aneka karya pelayanan 
secara materialistis atau bisnis melulu. Kita dipanggil mendunia sesuai dengan 
kehendak Allah, mengurus dan mengelola hal-ikhwal duniawi sesuai dengan 
kehendak Allah alias mengusahakan kesucian hidup dengan berpartipasi dalam 
seluk beluk duniawi. Ingat dan hayati bahwa kita baru saja merayakan pesta 
Kelahiran Penyelamat Dunia, yang datang untuk menyelamatkan dunia dengan 
mendunia. Maka baiklah kami mengingatkan dan mengajak kita semua dalam 
pelayanan atau kegiatan hendaknya sesuai dengan visi yang telah dicanangkan 
atau dimaklumkan. Setiap hidup dan kerja bersama maupun pribadi kiranya 
memiliki visi yang bagus dan indah serta baik, maka hendaknya visi tidak 
berhenti dalam tulisan atau wacana, melainkan sungguh menjiwai cara hidup dan 
cara bertindak kita. Bagi para anggota Lembaga Hidup Bakti, biarawan dan 
birawati, berarti hidup dan bertindak dijiwai oleh charisma pendiri, bagi 
suami-isteri berarti setia pada janji untuk saling mengasihi baik dalam untung 
maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati, dst.. Kepada para pejabat atau 
pemimpin masyarakat maupun bangsa kami harapkan untuk hidup dan bertindak 
dijiwai oleh semangat melayani, sehingga segala usaha dan kegiatan terarah pada 
kesejahteraan umum (`bonum commune'). Semakin berpartisipasi dalam seluk beluk 
duniawi/mendunia hendaknya juga semakin beriman; mendunia tanpa iman akan 
terjadi kekacauan. 

"Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan 
kekuatan! Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan 
masuklah ke pelataran-Nya! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan 
kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi! Katakanlah di antara 
bangsa-bangsa: "TUHAN itu Raja! Sungguh tegak dunia, tidak goyang. Ia akan 
mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran." (Mzm 96:7-10)

Jakarta, 30 Desember 2009


Kirim email ke