"Dari kepenuhanNya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia"
(1Yoh 2:18-21; Yoh 1:1-18)

"Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak 
mengenal-Nya.Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang 
kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya 
diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya 
dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari 
daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan 
dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita 
telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai 
Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yohanes memberi kesaksian 
tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku 
berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab 
Dia telah ada sebelum aku." Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima 
kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, 
tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.Tidak seorang pun 
yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan 
Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya" (Yoh 1:10-18), demikian kutipan Warta Gembira 
hari ini.  
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Hari ini adalah hari terakhir tahun 2009, dan kita akan segera memasuki 
tahun baru 2010. Selama tahun 2009 kiranya kita telah menerima berbagai macam 
kasih karunia Allah, yang kita terima melalui saudara-saudari kita yang telah 
berbuat baik kepada kita dalam berbagai kesempatan, maka marilah kita syukuri 
semuanya itu dengan mewujudkannya dalam hidup sehari-hari di tahun 2010 yang 
akan datang. Syukur tersebut kita wujudkan dengan meneruskan aneka kasih 
karunia yang telah kita terima, sehingga dalam kehidupan bersama kita 
senantiasa saling menerima dan memberi kasih karunia. Kasih karunia tersebut 
mungkin secara konkret berupa harta benda/uang atau kekayaan, kesehatan, 
kecerdasan, keterampilan, sahabat atau kenalan, dan bagi orangtua mungkin anak, 
sedangkan para pekerja mungkin kenaikan pangkat atau kesejahteraan. Hidup dan 
segala sesuatu yang menyertai hidup kita, yang kita miliki, kuasai atau nikmati 
sampai kini adalah kasih karunia Allah, maka baiklah di tahun yang akan datang 
ini kita senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah 
Allah, antara lain setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan dan terkait 
dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Mungkin di 
tahun 2009 ada rencana yang belum dapat kita laksanakan atau kerjakan, marilah 
di tahun 2010 yang akan datang kita laksanakan. "Firman itu telah menjadi 
manusia dan diam di antara kita", demikian kutipan warta gembira hari ini, yang 
kiranya baik kita hayati, antara lain dengan melaksanakan rencana atau 
cita-cita yang masih dalam rumusan kata-kata, sehingga menjadi tindakan atau 
perilaku nyata. 
•       "Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang 
telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit 
banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu 
yang terakhir.Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak 
sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk 
pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu 
terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh 
termasuk pada kita" (1Yoh 2:18-19). Pesan ini mengingatkan kita akan 
bahaya-bahaya atau godaan-godaan yang mungkin terjadi di tahun 2010 yang akan 
datang, yang menurut kalender Tionghoa disebut `tahun macan'. Macan atau singa 
memang senantiasa berusaha mencari mangsa dengan cerdik, maka baiklah kita 
hadapi dengan `tulus seperti merpati, dan cerdik seperti ular', artinya dengan 
kecerdasan spiritual. Maka sekali lagi saya angkat disini cirikhas kecerdasan 
spiritual, yang hendaknya menjadi cara hidup dan cara bertindak kita, yaitu 
"mampu untuk fleksibel (adaptasi aktif dan spontan), memiliki kesadaran diri 
yang tinggi, mampu menghadapi dan menggunakan penderitaan, mampu menghadapi dan 
mengatasi rasa sakit, hidup dijiwai oleh visi dan nilai-nilai, enggan untuk 
menyakiti orang lain, melihat hubungan dari yang beragam (holistik), bertanya 
`mengapa' dan `apa jika' untuk mencari jawaban mendasar, kemampuan/kemudahan 
untuk `melawan perjanjian'". Kita hayati dengan kerja sama dan saling membantu 
cirikhas kecerdasan spiritual di atas dalam hidup kita sehari-hari. 

"Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta 
isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon 
di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang 
untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan 
bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya" (Mzm 96:11-13)

Jakarta, 31 Desember 2009


Kirim email ke