"Tuhan mengutus mereka berdua-dua untuk mendahuluiNya"
(2 Tim 1:1-8; Luk 10:1-9)

"Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu 
mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak 
dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja 
sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia 
mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku 
mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa 
pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun 
selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih 
dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang 
layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi 
jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan 
minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut 
mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke 
dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan 
kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah 
kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu" (Luk 10:1-9), demikian 
kutipan Warta Gembira hari ini..

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Timoteus dan 
St.Titus hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•       Setia menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas pengutusan pada 
masa ini rasanya cukup berat, harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan 
hambatan, yang dapat membuat kita putus asa atau frustrasi, apalagi jika kita 
terlalu mengandalkan diri. Pesta St.Timoteus dan St.Titus hari ini mengingatkan 
dan mengajak kita untuk senantiasa bekerjasama atau bergotong-royong dalam 
menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas pengutusan. Dalam kebersamaan 
ketika harus menghadapi kesulitan atau masalah kiranya kita dapat saling 
bertukar pikiran, gagasan dan pengalaman bagaimana mengatasi kesulitan atau 
masalah tersebut. Seperti filsafat `sapu lidi', lidi sendirian akan menjadi 
sampah, tak berdaya, namun ketika banyak lidi diikat menjadi satu alias menjadi 
sapu akan fungsional dan menyelamatkan. Maka marilah kita senantiasa 
bekerjasama atau bergotong royong dalam menghayati  panggilan maupun 
melaksanakan tugas pengutusan. Kerjasama dan gotong-royong ini hendaknya sedini 
mungkin dididikkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dan 
diperdalam di sekolah. Ingat dan hayati babwa masing-masing dari kita 
diciptakan dalam kerjasama, yaitu kerjasama antara Tuhan dan manusia maupun 
ayah dan ibu kita masing-masing, maka rasanya kita akan dapat tumbuh berkembang 
menjadi pribadi dewasa, hidup bahagia dan damai sejahtera jika kita selalu 
bekerjasama atau bergotong-royong dengan orang lain. Tidak mau bekerjasama 
berarti mengingkari jatidiri sebagai hasil atau buah kerjasama. 
•       "Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah 
yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada 
kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan 
ketertiban" (2Tim 1:6-7), demikian peringatan Paulus kepada Timoteus, yang 
kiranya juga menjadi peringatan bagi kita semua. Masing-masing dari kita telah 
menerima kasih karunia Allah dengan melimpah ruah melalui orangtua dan 
sanak-saudara serta kerabat kita, "yang membangkitkan kekuatan, kasih dan 
ketertiban", maka marilah kita wujudkan `kasih dan ketertiban' dalam hidup kita 
sehari-hari. Hidup saling mengasihi dan tertib pada masa kini rasanya mendesak 
dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan, mengingat dan 
mempertimbangkan cukup banyak orang tidak tertib hidupnya, apalagi hidup saling 
mengasihi. Tertib kiranya buah dari disiplin, setia, tekun dan kerja keras, 
maka yang mungkin perlu memperoleh perhatian masa kini adalah disiplin. 
"Berdisiplin adalah kesadaran akan sikap dan perilaku yang tertanam dalam diri, 
sesuai dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara 
berkesinambungan yang diarahkan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah 
ditentukan" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, 
Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10). Tertib dan disiplin bagaikan mata uang 
bermuka dua, dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan, saling mengisi dan 
memperdalam. Tertib dan disiplin di jalanan, yang dapat kita saksikan setiap 
hari, merupakan cermin kepribadian bangsa, maka marilah kita usahakan tertib 
dan disiplin di jalanan. Hemat saya tertib dan disiplin di jalanan merupakan 
bentuk penghayatan kerjasama juga, mengingat bahwa jalan adalah sarana bersama, 
bagi semua orang. Kami berharap para pengendara maupun pejalan kaki untuk 
tertib dan disiplin di jalanan. 

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap 
bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang 
dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara 
bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku 
bangsa."(Mzm 96:1-3)

Jakarta, 26 Januari 2010


Kirim email ke