"Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini?"
(2Sam 7:4-17; Mrk 4:1-20)

"Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu 
menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan 
rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu 
disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak 
menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan 
berbalik dan mendapat ampun." Lalu Ia berkata kepada mereka: "Tidakkah kamu 
mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua 
perumpamaan yang lain? Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di 
pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar 
firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam 
mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah 
orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, 
tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang 
penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. Dan yang 
lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman 
itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan 
akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Dan 
akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan 
menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang 
enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat."(Mrk 4:10-20), demikian 
kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       "Mendengarkan" merupakan kegiatan indera dari pancaindera yang pertama 
kali berfungsi serta keutamaan yang mungkin sangat berat untuk dihayati, 
padahal sejak masih berada di dalam rahim  ibu kita,  masing-masing dari kita 
telah menjadi pendengar yang baik. Pada masa kita masih berada di dalam rahim 
ibu serta masa kanak-kanak kiranya dengan menjadi pendengar yang baik kita 
telah dibentuk oleh apa yang kita dengarkan, sayang dalam perjalanan tumbuh 
berkembang ke kedewasaan keutamaan `mendengarkan' tersebut mengalami erosi. 
Marilah kita menjadi pendengar-pendengar yang baik dengan sungguh mendengarkan 
apa yang terjadi di sekitar kita, yang dikatakan oleh saudara-saudari dan 
sesama kita dalam berbagai kesempatan dimanapun dan kapanpun. Ketika kita dapat 
mendengarkan dengan baik apa yang terjadi di sekitar kita dan yang dikatakan 
orang lain, maka hemat saya kita akan terbantu dengan mudah untuk mendengarkan 
sabda atau firman Tuhan dan kemudian melakanakannya dalam hidup kita 
sehari-hari serta menghasilkan buah melimpah yang membahagiakan dan 
menyelamatkan. Mendengarkan memang mengandaikan keutamaan kerendahan hati, 
yaitu "sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, 
yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih 
dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof 
Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – 
Jakarta 1997, hal 24). Keutamaan mendengarkan dibutuhkan dalam aneka kegiatan 
kita seperti berdoa, belajar, bekerja, dst..
•       "Kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang 
Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. Keluarga dan 
kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh 
untuk selama-lamanya." (2Sam 7:15-16), demikian kutipan penglihatan Natan 
perihal Daud. Yang mungkin baik kita renungkan adalah bahwa "kasih setiaKu 
tidak akan hilang dari padanya"; kasih setia Tuhan terhadap diri kita yang 
lemah dan rapuh juga tidak pernah berhenti atau hilang, yang terjadi adalah 
kita sering melupakan kasih setia Tuhan tersebut. Jika kita mendambakan hidup 
bahagia dan damai sejahtera selamanya, hendaknya senantiasa menghayati kasih 
setia Tuhan yang dianugerahkan kepada kita melalui saudara-saudari atau sesama 
kita yang telah berbuat baik kepada kita, misalnya orangtua, kakak, sahabat, 
kenalan, rekan belajar atau bekerja, dst… Kita adalah pembohong besar jika 
tidak mengakui dan menghayati kasih setia Tuhan tersebut. Marilah dengan rendah 
hati kita `dengarkan' kembali kasih setia Tuhan yang telah kita terima secara 
melimpah ruah tersebut, artinya kita ingat-ingat dan kenangkan segala kebaikan 
dan kasih Tuhan yang kita terima melalui saudara-saudari dan sesama kita. 
Pertama-tama dan terutama marilah kita kenangkan kasih setia Tuhan melalui 
orangtua kita masing-masing, khususnya ibu kita yang telah mengandung, 
melahirkan, menimang, menyusui…kita. Ingat lagu ini : "Kasih ibu kepada beta, 
tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya 
menyinari dunia". Sampai kapanpun dan dimanapun kasih ibu kepada kita 
anak-anaknya tak akan berhenti. 

"Dia pun akan berseru kepada-Ku: 'Bapaku Engkau, Allahku dan gunung batu 
keselamatanku.' Aku pun juga akan mengangkat dia menjadi anak sulung, menjadi 
yang mahatinggi di antara raja-raja bumi. Aku akan memelihara kasih setia-Ku 
bagi dia untuk selama-lamanya, dan perjanjian-Ku teguh bagi dia. Aku menjamin 
akan adanya anak cucunya sampai selama-lamanya, dan takhtanya seumur langit." 
(Mzm 89:27-30) Jakarta, 27 Januari 2010


Kirim email ke