Tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap".
(2Sam 7:18-19.24-29; Mrk 4:21-25)
 
"Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya 
ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya 
ditaruh di atas kaki dian. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak 
akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. 
Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" Lalu Ia 
berkata lagi: "Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk 
mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi 
kepadamu. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang 
tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya." (Mrk 
4:21-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
 
Berrefleksi atas  bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Tomas Aquino, imam 
dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai 
berikut:
•   Tomas Aquno dikenal sebagai teolog besar dalam Gereja; ia menyingkapkan 
ajaran-ajaran teologi yang berpengaruh dalam kehidupan beriman atau menggereja, 
maka kiranya ia sungguh menghayati sabda Yesus bahwa "tidak ada sesuatu yang 
tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang 
tidak akan tersingkap". Ia memiliki kecerdasan dan kesucian yang terus 
difungsikan sehingga semakin bertambah dan mantap. Maka baiklah dengan ini kami 
mengajak dan mengingatkan kita semua untuk dengan rendah hati dan bersama-sama 
mengusahakan kecerdasan dan kesucian, agar kita juga mampu menyatakan apa-apa 
yang tersembunyi serta menyingkapkan aneka rahasia. Sebaliknya kami 
mengingatkan siapapun yang senang menyembunyikan sesuatu atau menyimpan rahasia 
yang mencelakakan orang lain untuk tidak takut menyatakan dan menyingkapkannya 
dengan segera daripada pada suatu saat dinyatakan dan disingkapkan orang lain, 
sehingga anda harus menanggung malu berkepanjangan. Ada pepatah 
"Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga", maka serahasia apapun 
orang menyembuyikan sesuatu akhirnya akan terungkap atau tersingkap juga. 
Dengan ini kami mengajak kita semua untuk hidup jujur dan transparan. "Jujur 
adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, 
berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban 
untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti 
Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Dengan hidup jujur kita juga akan 
diperkaya dalam berbagai keutamaan dan nilai-nilai kehidupan yang membahagiakan 
dan menyelamatkan. 
•   "Siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau 
membawa aku sampai sedemikian ini? Dan hal ini masih kurang di mata-Mu, ya 
Tuhan ALLAH; sebab itu Engkau telah berfirman juga tentang keluarga hamba-Mu 
ini dalam masa yang masih jauh dan telah memperlihatkan kepadaku serentetan 
manusia yang akan datang, ya Tuhan ALLAH" (2Sam 7:18-19), demikian kata atau 
doa Daud kepada Tuhan. Dengan rendah hati Daud menyadari dan menghayati diri 
sebagai yang lemah dan rapuh di hadapan Tuhan, padahal ia adalah yang terpilih 
untuk menjadi raja. Doa semacam ini rasaya pada masa kini juga menjadi doa para 
uskup dan paus, orang-orang yang terpilih di dalam Gereja, dimana dalam doanya 
senantiasa menyatakan diri sebagai yang hina dina. Begitulah pernyataan orang 
terpilih dan suci, yang mempesona, menarik dan memikat banyak orang untuk 
datang kepadanya. Pengalaman dan pengamatan saya orang yang demikian itu, 
meskipun bukan pejabat tinggi, senantiasa didekati dan dimintai tolong orang 
lain dan yang bersangkutan dengan rela melayaninya. Bagi orang yang demikian 
ini juga berlaku sabda Yesus bahwa  "siapa yang mempunyai, kepadanya akan 
diberi", yang bersangkutan semakin diperkaya dalam berbagai hal karena semakin  
banyak melayani serta dengan rendah hati mendengarkan aneka dambaan, kerinduan, 
pengalaman, keluh kesah dst..dari yang dilayani. Maka dengan ini kami mengajak 
dan mengingatkan kita semua sebagai murid-murid atau pengikut Yesus untuk 
menghadirkan diri sedemikian rupa sehingga menarik, memikat dan mempesona 
banyak orang atau banyak orang senang mendatangi kita. Hendaknya tidak berhenti 
puas karena dikagumi dan dipuji, tetapi tidak dicintai; yang utama dan penting 
adalah dicintai sehingga siapapun tanpa terkecuali dapat dan boleh mendatangi 
kita. Demikianlah ada rumus kehidupan: semakin orang dengan rela dan terbuka 
melayani orang lain tanpa terkecuali, maka yang bersangkutan semakin diperkaya 
dengan berbagai ilmu kehidupan. 
 
"TUHAN telah menyatakan sumpah setia kepada Daud, Ia tidak akan memungkirinya: 
"Seorang anak kandungmu akan Kududukkan di atas takhtamu; jika anak-anakmu 
berpegang pada perjanjian-Ku, dan pada peraturan-peraturan-Ku yang Kuajarkan 
kepada mereka, maka anak-anak mereka selama-lamanya akan duduk di atas 
takhtamu." Sebab TUHAN telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat 
kedudukan-Nya: "Inilah tempat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku hendak 
diam, sebab Aku mengingininya"
 (Mzm 132:11-14)
 
Jakarta, 28 Januari 201


Kirim email ke