"Barangsiapa meninggikan diri ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan 
diri ia akan ditinggikan"(Hos 6:1-6; Luk 18:9-14)

"Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah 
semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:"Ada dua orang pergi ke Bait 
Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 
Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku 
mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, 
bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti 
pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh 
dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan 
ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya 
Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini 
pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu 
tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa 
merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Luk 18:9-14), demikian kutipan Warta 
Gembira hari ini.  

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Kerendahan hati adalah keutamaan dasar atau utama, kebalikan dari 
kesombongan. "Rendah hati adalah sikap dan perilkau yang tidak suka menonjolkan 
dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun 
pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak 
menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi 
Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Dalam kisah Warta Gembira 
hari ini ditampilkan orang Farisi, yang sombong, yang melecehkan atau 
merendahkan pemungut cukai. Mungkin kita juga sering sombong dengan melecehkan 
atau merendahkan orang lain, antara lain dalam bentuk ngrumpi/ngrasani atau 
mengeluh, marah. Pada umumnya orang ngrumpi atau ngrasani membicarakan 
kelemahan atau kekurangan orang lain dan merasa dirinya lebih baik, sedangkan 
orang mengeluh berarti melecehkan yang lain juga, apalagi marah. Marilah kita 
dengan rendah hati menyadari dan menghayati diri sebagai yang lemah dan 
berdosa, dan menghayati doa ini :"Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini". 
Ingatlah dan sadari serta hayati bahwa semakin tambah usia pada umumnya kita 
juga bertambah dosa dan kekurangan kita. Maka hendaknya semakin tua atau tambah 
usia, semakin banyak pengalaman, juga semakin rendah hati. "Tua-tua keladi, 
makin tua dan berisi makin menunduk, sedangkan yang tak berisi menengadah ke 
atas". Maka semakin tua semakin sombong berarti tidak beriman atau kurang 
beriman. Kami berharap para pemimpin, orangtua atau atasan dapat menjadi 
teladan dalam penghayatan keutamaan kerendahan hati, sehingga sebagai pemimpin, 
orangtua atau atasan senantiasa hidup dan bertindak dengan semangat melayani. 
•       "Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia 
pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti 
hujan pada akhir musim yang mengairi bumi."(Hos 6:3). Kutipan ini kiranya baik 
menjadi permenungan atau refleksi kita: kita diajak untuk berusaha 
sungguh-sungguh mengenal Tuhan. Marilah kita sadari dan hayati bahwa 
masing-masing dari kita diciptakan oleh Tuhan serta dapat tumbuh dan berkembang 
sebagaimana adanya saat ini merupakan anugerah atau karya Tuhan, yang kita 
terima melalui orang-orang yang telah mengasihi kita atau berbuat baik kepada 
kita. Maka mengenal Tuhan juga dapat diartikan mengenal dan mengakui kebaikan 
dan kasih saudara-saudari kita, orangtua, pendidik/guru kita, dst… Kita semua 
telah menerima banyak kasih, maka selayaknya hidup dijiwai oleh terima kasih. 
Dengan kata lain orang yang mengenal Tuhan berarti senantiasa berterima kasih, 
menghayati segala sapaan, sentuhan, tegoran orang lain sebagai kasih. Sebagai 
ungkapan terima kasih kita berarti kita juga dipanggil untuk mengasihi orang 
lain dimanapun dan kapanpun. Orang yang hidup dalam dan oleh kasih memang 
"seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi", kehadiran dan sepak 
terjangnya dimanapun dan kapanpun senantiasa menyegarkan dan menggairahkan 
orang lain. Orang yang mengenal Tuhan akan menghayati segala sesuatu dalam 
Tuhan atau mampu menemukan Tuhan dalam segala sesuatu; ia senantiasa dalam 
keadaan gembira, segar-bugar, dan dengan demikian menarik, mempesona dan 
memikat orang lain. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua: jika kita 
tidak gembira, segar bugar dan bergairah berarti ada dosa atau kekurangan dalam 
diri kita, maka baiklah hal itu kita sadari dan kemudian mengaku dosa, mohon 
kasih pengampunan dari Tuhan. 

"Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan 
korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah ialah 
jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya 
Allah. Lakukanlah kebaikan kepada Sion menurut kerelaan hati-Mu bangunkanlah 
tembok-tembok Yerusalem! Maka Engkau akan berkenan kepada korban yang benar, 
korban bakaran dan korban yang terbakar seluruhnya" (Mzm 51:18-21)

Jakarta, 13 Maret 2010


Kirim email ke