Mg Prapaskah IV : Yos 5:9a.10-12; 2Kor 5:17-21; Luk 15:1-3.11-32
"Marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk"

Para pendatang pada umumnya lebih sukses dan berhasil dalam usaha dan kerjanya 
daripada para penduduk asli. Penduduk asli sering merasa diri sebagai yang 
berkuasa dan terpilih di daerah atau tempat tinggalnya serta ada kecenderungan 
untuk menjadi sombong. Dengan dan dalam perasaan macam itu penduduk asli juga 
merasa yang terbaik atau lebih baik daripada pendatang. Perasaan sebagai yang 
terbaik juga dialami oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, sebagaimana 
digambarkan sebagai anak sulung dalam perumpamaan `anak hilang', sebagaimana 
dikisahkan di dalam Warta Gembira hari ini. Warta Gembira hari ini kiranya baik 
menjadi permenungan atau refleksi bagi siapapun yang bersikap mental Farisi 
atau merasa diri yang terbaik. 

"Bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia 
menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka" (Luk 15:2). 

Yesus adalah Penyelamat Dunia, yang datang untuk menyelamatkan dunia, maka Ia 
senantiasa berusaha untuk mencari dan menyelamatkan orang berdosa atau `yang 
hilang'. Ia duduk dan makan bersama dengan para pendosa, yang dalam `mind set'  
masyarakat waktu itu orang berdosa berarti harus disingkiri dan dijauhkan dari 
pergaulan bersama. Mungkin sebagian dari kita juga memiliki `mind set'  macam 
itu, sehingga enggan atau tidak bersedia bergaul dengan para pendosa atau 
mereka yang terbuang. Dalam tampilan SCTV beberapa waktu yang lalu antara lain 
disiarkan seorang yang berjiwa sosial di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang dengan 
penuh cinta kasih dan pengorbanan merawat dan mengurus saudara-saudarinya yang 
bernyakit jiwa serta menggelandang. Ia membuat asrama sederhana dan menyisihkan 
kekayaannya untuk mengurus dan merawat puluhan pasien sakit jiwa. Diceriterakan 
juga bahwa beberapa temannya berkomentar "Untuk apa kamu mengurus orang-orang 
macam itu?".  Komentar macam itu rasanya mirip dengan `sungut-sungut 
orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat' ketika mereka melihat Yesus duduk dan 
makan bersama para pendosa. 

"Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan 
berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun 
aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku 
belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan 
sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan 
harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih 
anak lembu tambun itu untuk dia" (Luk 15:28-30), begitulah gambaran orang-orang 
Farisi dan ahli Taurat yang diperankan oleh `anak sulung': sombong dan 
melecehkan orang lain, yang memang lebih jelek dan berdosa. Kepada mereka yang 
masih bersikap mental Farisi kami ajak untuk bertobat dan belajar rendah hati, 
sebagaimana dihayati oleh `anak hilang'. 

"Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi 
disebutkan anak bapa" (Luk 15:21)  .

Jika kita jujur mawas diri atau melihat diri sendiri, kiranya kita semua akan 
menyadari dan menghayati diri sebagai yang berdosa, seperti `anak hilang'. Jika 
kita mengaku tidak pernah berdosa, maka berarti kita berdusta terhadap diri 
kita sendiri. Marilah di masa Tobat/Prapaskah ini dengan rendah hati kita 
mengakui segala kesalahan dan dosa yang telah kita lakukan: secara liturgis 
kita mengaku dosa secara pribadi di hadapan seorang imam, dan secara sosial, 
jika dimungkinkan baiklah kita mengakui kesalahan dihadapan saudara kita yang 
telah menjadi korban kesalahan kita serta mohon kasih pengampunan dari dia. 
Berdosa memang memiliki dimensi vertical dan horisontal, ada hubungannya dengan 
Tuhan dan sesama manusia maupun lingkungan hidupnya. 

Kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang berdosa identik dengan kesadaran 
dan penghayatan diri sebagai yang beriman; semakin beriman berarti semakin 
menyadari dan menghayati diri sebagai yang lemah dan rapuh serta dikasihi oleh 
Tuhan. Orang-orang terpilih di dalam Gereja Katolik, misalnya para uskup,  
senantiasa menyatakan diri sebagai yang hina dina dan berdosa, yang dipanggil 
Tuhan untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya, maka selayaknya kita 
meneladan mereka. Menyadari dan menghayati diri sebagai yang berdosa tidak 
berarti lalu diam saja, melainkan berarti senantiasa membuka diri untuk 
ditumbuh-kembangkan alias dibina dan dididik terus menerus. Dengan kata lain 
orang bersikap mental `ongoing formation/ongoing education' . Orang yang 
bersikap mental demikian ini pada umumnya juga dapat menjadi pendamai dan 
pengampun, meneladan `bapa yang baik'. 

"Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan 
kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu 
tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab 
anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat 
kembali. Maka mulailah mereka bersukaria" (Luk 15:22-24). 
Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menghayati iman kita antara lain 
dengan menjadi saksi dan menyebarluaskan kasih pengampunan dan pendamaian, 
sebagaimana dikatakan Paulus kepada umat di Korintus : "Allah mendamaikan dunia 
dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. 
Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami" (2Kor 5:19). Segala 
kesalahan, pelanggaran dan dosa-dosa kita tidak pernah diperhitungkan atau 
diingat-ingat lagi oleh Tuhan, dan mungkin juga oleh saudara-saudari kita, maka 
marilah hal itu kita syukuri dengan menjadi saksi kasih pengampunan dan 
pendamaian. 

Gerakan kasih pengampunan dan pendamaian kiranya sungguh mendesak dan up to 
date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini, mengingat dan 
memperhatikan masih maraknya aneka balas dendam dan kemarahan sebagai wujud 
konkret kesombongan. Marilah kita pro-aktif: dimanapun dan kapanpun kita 
melihat dan mendengar terjadi permusuhan, balas dendam dan kemarahan, marilah 
segera kita datangi untuk diajak berdamai. Kita dapat meneladan `bapa yang 
baik', yang tidak memperhitung-kan serta mengingat-ingat kesalahan, dosa dan 
kekurangan orang lain, dan ketika ada orang bertobat dan berdamai hendaknya 
segera kita ajak bersukaria dan bergembira ria.  Baiklah saya angkat lagi pesan 
Perdamaian Paus Yohanes Paulus II dalam rangka memasuki Millenium Ketiga 
:"There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness" 
(= Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa kasih pengampunan). 
Berbuat adil antara lain menjunjung tinggi, menghormati dan menghargai harkat 
martabat manusia, sebagai ciptaan Allah terluhur dan termulia di dunia ini, 
demikian juga mengampuni mereka yang bersalah atau berdosa. 

"Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di 
dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah 
hati mendengarnya dan bersukacita.Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, 
marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu 
Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku" (Mzm 34:2-5). 
Jakarta, 14 Maret 2010
.        


Kirim email ke