Mg Prapaskah V : Yes 43:16-21; Flp 3:8-14; Yoh 8:1-11
"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama 
melemparkan batu kepada perempuan itu."

Pagi-pagi benar, dimana kebanyakan orang pada umumnya masih tidur nyenyak, 
dikumandangkan adzan, suatu panggilan atau ajakan bagi umat Islam untuk berdoa. 
Mendengar suara adzan tersebut ada beberapa atau sementara orang merasa 
terganggu dan marah, serta mungkin sambil mengeluh "mengganggu orang tidur". 
Yang lain berdoa dan ada yang marah-marah juga, itulah yang terjadi. Bagi saya 
yang menarik adalah bahwa pagi-pagi terbangun langsung marah-marah, dan rasanya 
hal ini mirip dengan apa yang terjadi dalam kisah, kutipan Injil Yohanes hari 
ini : "Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang 
kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang 
Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. 
Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: 
"Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa 
dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang 
demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" (Yoh 8:2-5)  Pagi-pagi  benar di 
depan bait Allah/tempat beribadat Yesus harus menghadapi serangan fajar dari 
musuh-musuhNya, suatu pertanyaan yang memang sulit dijawab. Jika Yesus 
menyetujui usul mereka berarti Yesus sama dengan mereka, sebaliknya jika Yesus 
melawan usul mereka berarti Ia tidak taat pada hukum Taurat, maka Yesus 
menjawab :"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama 
melemparkan batu kepada perempuan itu" (Yoh 8:7). Mendengarkan jawaban Yesus 
ini "pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua" (8:9b). Maka 
baiklah kita renungkan sabda atau jawaban Yesus tersebut.

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama 
melemparkan batu kepada perempuan itu." (Yoh 8:7)

Cukup menarik reaksi orang-orang Farisi setelah mendengarkan sabda ini, yaitu 
mereka meninggalkan Yesus mulai dari yang tertua, dengan kata lain semakin tua, 
tambah usia, tambah pengalaman dst.. berarti juga bertambah dosa-dosanya. Maka 
dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua bahwa kita adalah 
orang-orang berdosa, terutama yang lebih tua hendaknya semakin menyadari 
dosa-dosanya. Tentu saja kita tidak berhenti pada kesadaran saja, tetapi 
kemudian bertobat dan memperbaharui diri. Semakin tua, tambah usia, pandai, 
cerdas, kaya dst. hendaknya juga semakin rendah hati, sebagaimana dikatakan 
oleh pepatah "tua-tua keladi/padi, makin tua dan berisi semakin menunduk'. 

"Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan 
menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada 
kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak 
menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi 
Pekerti Luhur, Balai Pustaka –Jakarta 1997, hal 24). Kami berharap kita tidak 
saling `melemparkan batu', artinya saling melecehkan dan merendahkan. Hendaknya 
juga disadari dan dihayati bahwa yang lebih muda berarti pada umumnya juga 
lebih suci, lebih-lebih anak-anak balita. Maka kami berharap kepada anak-anak 
kita beri penghormatan selayaknya dengan semangat pelayanan. Tanda bahwa kita, 
orangtua, sungguh melayani anak-anak antara lain anak-anak kelak tumbuh 
berkembang menjadi lebih baik atau bermutu daripada orangtuanya, demikian juga 
generasi tua terhadap generasi muda. Dengan ini kami angkat rumor tahun 
tujuh-puluhan dari para mahasiswa, yaitu "Kera Kentot" (=Kenakalan remaja 
terjadi karena kenakalan orangtua). Sebagai anggota Gereja, kami berharap 
kepada kita semua untuk mendukung dan meneladan para gembala kita, yang 
senantiasa berusaha dan menyatakan diri sebagai hamba yang hina dina. 

"Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, 
tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan 
mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan 
untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus 
Yesus" (Flp 3:13-14)

Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Filipi di atas ini kiranya baik 
menjadi permenungan atau refleksi kita. Marilah kita bersama-sama mengarahkan 
diri kita ke masa depan untuk semakin menghayati panggilan Allah, dengan kata 
lain marilah berlomba dalam kesetiaan pada panggilan dan tugas pengutusan atau 
pekerjaan kita masing-masing. "Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan 
keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat" (Prof Dr Edi 
Sedyawati/ edit.: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 
1997 hal 24). Sekali lagi kami berharap kepada para orangtua, guru, pemimpin, 
atasan dan pejabat dapat menjadi teladan dalam kegairahan menghayati kesetiaan 
pada panggilan dan tugas pengutusan. 

Selain mengarahkan diri ke depan, kita juga diajak untuk `melupakan apa yang 
telah di belakangku'. Hal ini tidak berarti apa yang telah kita alami atau kita 
lalui musnah, lenyap, melainkan tetap ada serta menjadi bahan mawas diri agar 
kita dapat mengarahkan diri ke masa depan dengan tepat atau lebih memadai. 
Pengalaman akan menjadi pelajaran yang bermanfaat jika sungguh direfleksikan. 
Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua pentingnya kebiasaan berrefleksi 
di dalam hidup sehari-hari. Baiklah secara konkret kami mengajak anda sekalian 
untuk selama kurang lebih 15 menit setiap hari mawas diri, misalnya tiap 
menjelang istirahat malam. Tinggalkan aneka sarana-parasarana alat alat-alat 
media dan berdiamlah selama kurang lebih lima belas menit sambil memutar film 
kehidupan sejak pagi hari sampai saat ini menjelang istirahat malam. Lihat dan 
cermati cara hidup dan cara bertindak macam apa saja yang baik atau buruk, 
kecenderungan hati yang baik dan buruk, dst.., kemudian mohon kasih pengampunan 
atas dosa-dosa yang telah dilakukan serta membuat niat bahwa besok pagi akan 
memperbaiki apa yang salah dan buruk serta meningkatkan dan memperdalam apa 
yang benar dan baik. 

"Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal 
yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang 
sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat 
jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.Binatang hutan akan 
memuliakan Aku, serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air memancar 
di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara, untuk memberi minum umat 
pilihan-Ku; umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku" 
(Yes 43:18-21). Seruan Tuhan melalui nabi Yesaya ini hendaknya menjadi pedoman 
atau pegangan jalan hidup kita dalam rangka memperbaiki apa yang salah dan 
buruh serta meningkatkan dan memperdalam apa yang baik dan benar, sehingga 
sebagai umat Allah kita "akan memberitakan kemasyhuran Tuhan", mewartakan 
kebaikan-kebaikan kepada saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Marilah 
kita saling memuliakan dan berbuat baik, saling menghormati dan melayani, bukan 
saling melecehkan dan merendahkan. 

"Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan 
sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN 
telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!"TUHAN telah melakukan 
perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.Pulihkanlah keadaan kami, ya 
TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!Orang-orang yang 
menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.Orang 
yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan 
sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya"
 (Mzm 126:2-6) .

Jakarta, 21 Maret 2010  


Kirim email ke