Malam Paskah: Yeh 36:16-17a.18-28; Rm 6:3-11; Luk 24:1-12
"Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?" 
Bagi banyak orang kuburan atau makam pada umumnya menakutkan, apalagi ketika 
baru saja orang mati yang dimakamkan atau dikubur. Rekan-rekan perempuan pada 
umumnya juga lebih takut daripada rekan-rekan laki-laki. Berjalan sendirian di 
malam hari menelusuri jalan di pinggir makam atau kuburan merasa takut sekali, 
itulah yang sering terjadi. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan bahwa 
pagi-pagi benar beberapa perempuan mendatangi makam Yesus, tanpa takut dan 
gentar sedikitpun. Memang setelah Yesus wafat di kayu salib para murid dalam 
ketakutan, jangan-jangan mereka juga akan mati dengan cara disalibkan juga; 
dengan kata lain ketakutan menguasai para murid, lebih-lebih para murid 
laki-laki. Suasana sungguh genting dan menakutkan, tetapi para murid perempuan 
tanpa takut dan gentar mendatangi tempat Yesus dimakamkan. Yang pertama kali 
menanggapi secara positif kedatangan Penyelamat Dunia adalah seorang perempuan, 
Bunda Maria, demikian pula yang pertama kali menjadi saksi kebangkitan 
Penyelamat Dunia juga perempuan, yaitu "Maria dari Magdala, dan Yohana, dan 
Maria ibu Yakobus." . Ketika mereka sampai di makam dan batu penutup makam 
telah terbuka serta tidak melihat jenasah Yesus, maka mereka termangu-mangu dan 
bertanya-tanya dalam hatinya. Tiba-tiba datanglah malaikat yang berkata: 
"Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di 
sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia 
masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan 
orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga." 
(Luk 24:5-7). Marilah kita renungkan sapaan malaikat kepada para perempuan 
tersebut.

"Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di 
sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia 
masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan 
orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga." 
(Luk 24:5-7)

Yesus, yang telah dibangkitkan dari mati, hidup dan berkarya tanpa kenal batas 
waktu dan tempat melalui Rohnya yang hidup dan berkarya dalam diri manusia yang 
percaya kepadaNya alias beriman. Mereka yang hidup dari dan oleh Roh antara 
lain menghasilkan buah-buah Roh seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, 
kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" 
(Gal 5:22-23). Maka marilah kita `mencari Dia yang hidup, telah dibangkitkan 
dari mati'  dalam diri saudara-saudari kita yang hidup dari dan oleh Roh, yang 
menghayati keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh tersebut diatas .  

Malaikat, utusan Tuhan, mengingatkan para perempuan dan kita semua untuk 
"mengingat-ingat atau mengenangkan apa yang telah dikatakanNya kepada kamu, 
ketika Ia masih di Galilea', yang bagi kita antara lain berarti mengenangkan 
berbagai nasihat, saran, ajaran, dst.. dari orangtua kita masing-masing ketika 
kita masih tinggal di dalam keluarga, lebih-lebih ketika masih kanak-kanak. 
Kami percaya para orangtua kita masing-masing pasti juga menasihati, 
mengajarkan kepada kita keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh tersebut di atas, 
maka baiklah sebagai orang yang beriman kepada Yesus kita menghayati 
keutamaan-keutamaan tersebut di dalam hidup kita sehari-hari, dimanapun dan 
kapanpun juga. Dari keutamaan-keutamaan tersebut di atas hemat saya yang utama 
dan pertama-tama harus kita hayati adalah kasih, sebagaimana juga diajarkan 
oleh Yesus. 

Para perempuan yang di pagi-pagi buta mendatangi makam Yesus, hemat saya juga 
merasa telah menerima kasih Tuhan melimpah ruah. Hidup dan bertindak dalam dan 
oleh kasih memang tiada ketakutan sedikitpun, maka kami secara khusus berharap 
kepada rekan-rekan perempuan untuk menjadi saksi dan teladan dalam hal kasih 
dan kerahiman, dimana anda yang telah menjadi ibu telah mengandung dan 
melahirkan serta membesarkan yang terkasih dengan penuh kasih dan kerahiman. 
Sapa dan dekati serta sikapi rekan-rekan laki-laki dalam dan dengan kasih, 
sebagaimana dilakukan oleh para perempuan, saksi kebangkitan yang pertama, 
kepada Petrus, sehingga "Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. 
Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kapan saja. Lalu ia pergi, 
dan ia bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi" (Luk 24:12). 
Sentuhan dan sapaan kasih pasti membuat orang bertanya-tanya dalam hati, dan 
membuat orang semakin bergairah dan berani menghadapi aneka tantangan, hambatan 
maupun masalah. 

"Kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk 
selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah 
hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup 
bagi Allah dalam Kristus Yesus" (Rm 6:10-11)

Paulus mengingatkan kita semua bahwa "kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu 
hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus", maka marilah peringatan ini kita 
perhatikan dan hayati. Sebelum Trihari Suci kiranya kita telah mengaku dosa 
serta menyesali dosa-dosa yang telah kita lakukan dan berkehendak untuk 
bertobat alias memperbaharui diri. Pada malam ini juga dalam Perayaan Ekaristi 
untuk mengenangkan Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, kita juga memperbaharui 
janji baptis bersama-sama, antara lain berjanji untuk menolak semua godaan 
setan dan hanya mau mengabdi kepada Tuhan Allah saja. Rahmat Sakramen Baptis 
merupakan pintu masuk menjadi anggota Gereja, Umat Allah, dan menjadi dasar 
atau landasan iman kita, maka marilah kita perbaharui penghayatan janji baptis 
tersebut dalam hidup kita sehari-hari, sebagai penghayatan iman kita akan 
kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.

Yang menjadi symbol atau lambang kebangkitan Tuhan adalah `Lilin Paskah' dan 
kita yang berpartisipasi dalam Perayaan Paskah malam ini juga menyalakan lilin 
dengan mengambil api dari Lilin Paskah, sambil memegang lilin yang bernyala 
kita memperbaharui janji baptis. Kita semua berharap dapat menjadi `lilin yang 
bernyala' alias menjadi `sinar terang' dalam hidup kita bersama dimanapun dan 
kapanpun, itulah antara lain artinya `hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus'. 
Kehadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun diharapkan menjadi 
`sinar terang', sehingga memperjelas aneka masalah, mempermudah orang 
melangkah, menggairahkan dan menggembirakan orang lain, dst.. Menjadi `sinar 
terang' berarti juga menjadi petunjuk atau arah bagi orang lain menuju ke 
keselamatan atau kebahagiaan sejati dan banyak orang tertarik atau tergerak 
untuk mendekati kita. 

Pada malam ini kita juga saling mengucapkan `Selamat Paskah', saling 
membangkitkan dan menggairahkan satu sama lain. Warna pakaian liturgy mulai 
malam ini juga menjadi warna terang, dari warna gelap/ungu, yang juga 
melambangkan perubahan dari gelap ke terang. Di dalam gelap semuanya dapat 
nampak sama, entah baik semua atau jelek semua, sebalinya di dalam terang 
nampaklah aneka macam perbedaan yang ada, perbedaan yang semakin membuat 
suasana semakin semarak dan ceria, karena yang berbeda hanyalah bagian luar 
saja, yaitu pakaian, wajah, postur tubuh dst., sedangkan bagian dalam sama, 
yaitu hati yang telah diperbaharui, sebagaimana dikatakan oleh nabi Yeheskiel, 
maka marilah kita renungkan apa yang dikatakan oleh nabi Yeheskiel di bawah 
ini.   

"Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku 
akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang 
taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu 
hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada 
peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. Dan kamu akan diam di dalam negeri 
yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu dan kamu akan menjadi umat-Ku dan 
Aku akan menjadi Allahmu" (Yeh 36:26-28).  
Hati yang baru, yang taat bukan yang keras, roh yang baru di dalam batin, 
dianugerahkan kepada kita semua, sehingga kita mampu `hidup menurut segala 
ketetapan Tuhan dan tetap berpedang pada peraturan-peraturan Tuhan dan 
melakukannya, kita menjadi umat Allah sejati'.  Kami berharap kepada kita semua 
untuk tidak memiliki hati yang keras, beku dan membatu, melainkan hati yang  
terbuka, siap sedia untuk menerima sapaan dan sentuhan dari Tuhan maupun sesama 
manusia serta ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya di bumi ini. Kita diharapkan 
meneladan Hati Yesus, yang terluka karena ditusuk tombak, dan dari HatiNya 
mengalir darah atau air segar, lambang sakramen-sakramen Gereja, yang 
menghidupkan dan menyegarkan. Kita akan memiliki hati yang demikian itu jika 
kita setia dan taat melaksanakan aneka ketetapan dan peraturan dari Tuhan, yang 
antara lain diterjemahkan ke dalam aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan 
hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. 

Roh yang baru berarti bersemangat baru, maka dengan dianugerahi roh yang baru 
berarti kita diharapkan bersemangat baru dalam menghayati panggilan serta 
melaksanakan aneka tugas, kewajiban dan perintah. Dalam dan dengan semangat 
baru diharapkan kita dinamis, cekatan, gembira dan bergairah dalam menghayati 
panggilan serta melaksanakan tugas perutusan. Dalam dan dengan semangat baru 
kita tidak takut dan tidak gentar menjadi saksi-saksi iman dalam hidup 
sehari-hari: misalnya berlaku jujur, adil, disiplin, terbuka, dst.. serta 
berani memberantas aneka macam kejahatan, antara korupsi yang masih marak dan 
merajalela di sana-sini. Dalam dan dengan semangat baru pula marilah kita 
berantas aneka macam bentuk kemiskinan. 

Kita adalah sama-sama umat Allah, sama-sama beriman, maka selama masih ada 
kemiskinan dalam kehidupan bersama kita berarti masih ada orang yang berhati 
keras dan memiliki roh yang lama alias berdosa.  Maka baiklah sebagai 
penghayatan iman akan kebangkitan Tuhan, kami mengajak anda sekalian untuk 
mendatangi mereka yang berhati keras tersebut, sebagaimana para perempuan 
mendatangi para rasul. Sekeras-kerasnya hati orang kita dapat diperlembut dan 
dibuka, tentu saja hanya dapat didekati dan disikapi dengan hati yang taat, 
yang siap sedia terluka seperti Hati Yesus. Dengan dan sikap mereka yang 
berkeras hati dengan rendah hati, dan percayalah pada suatu saat dari hatinya 
pasti akan muncullah pertanyaan dan kehendak untuk mencari pencerahan atau 
pembaharuan. 

"Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang 
teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu 
yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat 
yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan 
mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya 
orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu."
 (Mzm 51:12-15)  
"SELAMAT PASKAH , ALLELUYA"

Jakarta, 3 April 2010
     




Kirim email ke