HR PASKAH KEBANGKITAN TUHAN: Kis 10:34a.37-43; Kol 3:1-4; Yoh 20:1-9
"Masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia 
melihatnya dan percaya"

Ketika saya tinggal di Wisma Uskup, Keuskupan Agung Semarang, dan bertugas 
sebagai Ekonom Keuskupan Agung Semarang, saya sering harus bepergian ke luar 
kota dan pulang larut malam. Biasanya saya membawa kendaraan sendiri atau 
`nyopir sendiri'. Ada yang sungguh menarik dan mengesan bagi saya, yaitu: 
ketika saya pulang tengah malam dan kendaraan sudah mendekati pintu gerbang, 
yang pertama kali terbangun serta menyambut kedatangan saya adalah  anjing 
piaraan kami, bukan penjaga malam (yang mungkin tertidur). Nampaknya anjing 
tersebut sudah hafal dan peka akan suara mesin mobil yang saya pakai, maka 
begitu mendengar suara mesin mobil ybs.. ia langsung berlari cepat ke pintu 
gerbang, menggonggong untuk menyambut kedatangan kami. Memang kami begitu 
mengasihi anjing tersebut, yang memang sungguh berfungsi di malam hari sebagai 
penjaga malam, maka sebagai yang dikasihi ia cepat tanggap dan berlari cepat 
menyambut kami. Itulah yang sering terjadi dalam kehidupan bersama kita, 
siapapun yang merasa dikasihi pada umumnya tanggap dan cepat berreaksi ketika 
yang mengasihi menghadapi masalah atau di dalam kesulitan. Yohanes, adalah 
murid terkasih Yesus, ketika ia dan Petrus diberi tahu oleh para perempuan 
bahwa Yesus yang telah dimakamkan tidak ada lagi alias `hilang', mereka berdua 
berlari menuju makam, tetapi Yohanes `yang lebih dahulu sampai ke kubur itu dan 
ia melihatnya dan percaya'. 

"Masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia 
melihatnya dan percaya" (Yoh 20:28)

Yang terkasih datang lebih cepat, melihatnya dan menjadi percaya, itulah yang 
terjadi. Kata `melihat' dan `percaya' di dalam Injil Yohanes sering dipakai dan 
dengan demikian kata-kata tersebut sungguh bermakna atau berarti. Yang dapat 
melihat dan kemudian menjadi percaya, hemat saya tidak hanya melihat dengan 
mata insani/phisik melulu tetapi juga dengan mata hati dan jiwa. Apa yang 
dilihatnya menyingkapkan aneka pengalaman atau mengingatkan apa yang telah 
terjadi dan dialami. Pengalaman murid yang terkasih ini kiranya dapat menjadi 
bahan permenungan atau refleksi bagi kita semua. 

Siapa yang terkasih di antara kita, atau dari siapa saya merasa paling 
dikasihi? Jawaban yang mudah atas pertanyaan ini tentu akan datang dari para 
suami dan isteri, kemudian dari anak-anak. Yang terkasih dan yang paling 
mengasihi  bagi suami adalah sang isteri dan sebaliknya, sedangkan yang paling 
mengasihi anak-anak tentu saja orangtuanya, itulah kebenaran sejati. Maka 
dengan ini juga kami berharap kepada para suami, isteri, orangtua/ayah ibu dan 
anak-anak untuk saling melihat dan percaya; hendaknya tidak saling mencurigai 
ketika untuk sementara harus berpisah, entah satu hari, satu minggu atau 
beberapa hari. Maklum pada masa kini karena adanya HP (Hand Phone) dengan mudah 
orang untuk saling berkomunikasi, tetapi dengan mudah juga curiga terhadap yang 
terkasih dan dengan demikian setiap saat mencoba menghubungi dengan HP-nya. 
Sadar atau tidak kehadiran HP mau tidak mau telah menggerogoti kepercayaan satu 
sama lain atau juga menggerogoti sopan santun, etika atau tata-krama. 

Jika kita tidak mampu mempercayai mereka yang dekat dengan kita setiap hari, 
entah di dalam keluarga, tempat kerja maupun masyarakat, maka rasanya akan 
menjadi sulit untuk percaya kepada orang lain yang belum begitu dikenal, 
apalagi percaya kepada Tuhan, Yang Ilahi. Maka dengan ini kami mengingatkan 
kita semua: marilah kita perdalam, teguhkan dan perkuat saling percaya kita 
kepada yang terkasih, yang setiap hari hidup atau bekerja bersama kita. Untuk 
membantu hal ini baiklah kita lebih mengutamakan untuk melihat apa yang baik, 
indah, benar, luhur dan mulia dalam diri saudara-saudari kita, yang kiranya 
lebih banyak daripada apa yang amburadul, jorok, salah, dst…  Beriman kepada 
Yesus yang telah dibangkitkan dari mati berarti percaya kepada RohNya yang 
terus menerus bekerja, dan dengan demikian juga dipanggil untuk melihat 
buah-buah Roh dalam diri saudara-saudari kita maupun dalam seluruh ciptaan 
Allah di bumi ini. Buah-buah Roh itu antara lain "kasih, sukacita, damai 
sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,  kelemahlembutan, 
penguasaan diri."(Gal 5:22-23) , marilah kita lihat buah-buah ini dalam diri 
saudara-saudari kita agar kita semakin saling percaya satu sama lain. Marilah 
kita renungkan juga sapaan Paulus kepada umat di Kolose di bawah ini. 

"Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara 
yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah 
perkara yang di atas, bukan yang di bumi."(Kol 3:1-2)    
 
Kita diingatkan oleh Paulus untuk `mencari dan memikirkan perkara yang di 
atas', yang berarti senantiasa mengusahakan diri berbudi pekerti luhur dalam 
hidup sehari-hari. Maka baiklah saya kutipkan sekali lagi nilai-nilai atau 
keutamaan-keutamaan sebagai perwujudan berbudi pekerti luhur, yaitu : "bekerja 
keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, 
berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, 
bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang 
rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, 
berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai 
karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, 
pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih 
sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap 
adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, 
tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet "(Prof.Dr. Edi Sedyawati/edit: 
Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997)

Keutamaan atau nilai mana yang menurut anda mendesak dan up to date untuk 
dihayati dan disebar-luaskan dalam hidup sehari-hari dalam lingkungan hidup 
anda, silahkan dicermati dan dipilih sendiri.  Hemat saya ketika kita unggul 
dalam penghayatan keutamaan atau nilai tertentu, secara implisit keutamaan atau 
nilai lain terhayati juga. Baiklah di sini saya mengangkat keutamaan `disiplin' 
yang menurut pengamatan saya perlu dihayati dan disebarluaskan. "Berdisiplin 
adalah kesadaran akan sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri sesuai 
dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan 
yang diarahkan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan" (Prof Dr 
Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – 
Jakarta 1997, hal 10). Kami berharap berdisiplin ini sedini mungkin ditanamkan 
atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dan sekolah-sekolah, dan tentu 
saja dengan teladan dari para orangtua dan para guru. Kami berharap juga kepada 
kita semua untuk berdisiplin di jalanan, taatilah aneka macam rambu-rambu dan 
petunjuk jalan yang terpampang dengan jelas. Apa yang terjadi di jalanan hemat 
saya dapat menjadi cermin kwalitas hidup bermasyarakat, berbangsa dan 
bernegara. 

"Tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan 
keperkasaan!" Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan 
perbuatan-perbuatan TUHAN. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah 
menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib 
di mata kita." 
(Mzm 118:16-17.22-23) 
`SELAMAT PASKAH, ALLELUIA"    
Jakarta, 4 April 2010


Kirim email ke