Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepadaKu jikalau ia tidak ditarik oleh 
Bapa yang mengutus Aku"
(Kis 8:28-40; Yoh 6:44-51)
`Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik 
oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada 
tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan 
setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang 
kepada-Ku. Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. 
Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa. Aku berkata 
kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. 
Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka 
telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, 
ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau 
seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang 
Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." (Yoh 
6:44-51), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.  
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Datang kepada Yesus berarti menjadi sahabat-sahabat Yesus alias 
anak-anak Allah, yaitu orang yang senantiasa  hidup dan bertindak sesuai dengan 
kehendak Allah dalam hidup sehari-hari, hidup baik dan berbudi pekerti luhur. 
Apa yang dimaksudkan oleh Yesus tak mungkin datang kepadaNya jika tidak ditarik 
oleh Bapa, antara lain berarti kita tak mungkin hidup baik dan berbudi pekerti 
luhur jika tidak menerima aneka macam bentuk pengajaran Tuhan melalui orangtua, 
guru/pendidik atau saudara-saudari kita. Hemat saya masing-masing dari kita 
dapat hidup seperti saat ini karena kita diajar atau dibina oleh orangtua, 
guru/pendidik atau saudara-saudari kita, dan kita akan semakin baik dan berbudi 
pekerti luhur jika kita senantiasa siap sedia untuk diajar terus menerus. Maka 
marilah kita dengan rendah hati membuka diri sepenuhnya terhadap aneka macam 
pengajaran, misalnya dalam bentuk nasihat, saran, kritik, pujian, tuntunan, 
dst.. yang setiap kali mendatangi kita. Ada kemungkinan kita merasa sakit 
ketika sedang menerima pengajaran, dan kiranya hal itu wajar adanya. Tumbuh 
berkembang dalam iman, hidup baik dan berbudi pekerti luhur memang membutuhkan 
perjuangan dan pengorbanan alias kerja keras. Hendaknya sedini mungkin 
anak-anak dibina untuk memiliki sikap mental `ongoing formation/education' atau 
belajar terus menerus, sepanjang hayat, dan tentu saja dengan teladan konkret 
dari para orangtua di rumah maupun para guru/pendidik di sekolah-sekolah. 
Berbagai pengalaman hidup, entah yang menyenangkan atau menyakitkan hendaknya 
dihayati sebagai pembelajaran, maka hendaknya dibina sikap refleksif atas aneka 
pengalaman hidup. 
•       "Setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus 
dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan 
sukacita" (Kis 8:39), demikian berita yang terjadi setelah terjadi pembaptisan 
sida-sida yang dilakukan oleh Filipus. Dibaptis berarti juga dianugerahi Roh, 
dan yang membaptis pada umumnya juga hidup dalam atau dikuasai oleh Roh. Roh 
sungguh membuat orang sukacita dan bergairah dalam perjalanan hidup, itulah 
yang terjadi dalam diri sida-sida yang telah menerima rahmat pembaptisan. Kita 
semua telah menerima rahmat pembapisan, maka kita juga dipanggil untuk 
"meneruskan perjalanan dengan sukacita", perjalanan hidup, panggilan dan tugas 
pengutusan kita masing-masing.  Maka marilah kita mawas diri perihal panggilan 
dan tugas pengutusan kita masing-masing: hendaknya terus menghayati panggilan 
dengan  atau melaksanakan tugas pengutusan dengan sukacita, meskipun harus 
disertai pengorbanan dan perjuangan atau menghadapi aneka tantangan, hambatan 
dan godaan. Sukacita atau gembira dalam melaksanakan tugas pengutusan atau 
pekerjaan dan menghayati panggilan akan memperlancar langkah perjalanan usaha 
kita, dan apa yang kita dambakan, cita-citakan atau harapkan pasti berhasil, 
menjadi kenyataan. Dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua; bagi 
kita yang sedang memiliki tugas belajar di tingkat apapun marilah kita terus 
belajar, sehingga terampil belajar, bagi kita yang sedang bekerja marilah kita 
terus bekerja sehingga terampil bekerja, dst… Siap-sedia untuk dididik dan 
dibina dan diajar terus menerus berarti senantiasa bersukacita, gembira ria 
dalam menghadapi aneka macam bentuk pembaharuan atau apa-apa yang baru, yang 
muncul dalam perjalanan hidup, panggilan dan tugas pengutusan; orang senantiasa 
bersikap rendah hati dalam menyikapi apa yang terjadi atau apapun yang 
mendatangi. 

"Pujilah Allah kami, hai bangsa-bangsa, dan perdengarkanlah puji-pujian 
kepada-Nya! Ia mempertahankan jiwa kami di dalam hidup dan tidak membiarkan 
kaki kami goyah. Marilah, dengarlah, hai kamu sekalian yang takut akan Allah, 
aku hendak menceritakan apa yang dilakukan-Nya terhadap diriku. Kepada-Nya aku 
telah berseru dengan mulutku, kini dengan lidahku aku menyanyikan pujian." (Mzm 
66:8-9.16-17)      
Jakarta, 22 April 2010


Kirim email ke