"Inilah roti yang telah turun dari sorga bukan roti seperti yang dimakan nenek 
moyangmu dan mereka telah mati"
(Kis 9:1-20; Yoh 6;52-59)
"Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia 
ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan." Maka kata Yesus 
kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan 
daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam 
dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang 
kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah 
benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan 
daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. 
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian 
juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah 
turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka 
telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya." Semuanya 
ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat" (Yoh 
6:52-59), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.  
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Apa yang kita terima dari nenek moyang kita antara lain adat-istiadat 
atau kebiasaan hidup dan cara bertindak tertentu, yang pada umumnya 
masing-masing suku atau bangsa berbeda satu sama lain. Indonesia yang terdiri 
ribuan pulau ini juga terdiri ratusan suku, dimana masing-masing suku memiliki 
kebiasaan hidup dan cara bertindak sendiri, yang dihayati sebagai yang paling 
benar dan baik. Tidak mengherankan sampai kini masing sering terjadi ketegangan 
antar suku di Negara kita maupun antar suku-bangsa di dunia, mengingat dan 
memperhatikan masalah adat-itiadat atau budaya( cara melihat, cara merasa, cara 
berpikir, cara bersikap dan cara bertindak) kurang memperoleh perhatian dalam 
proses pembelajaran atau pendidikan baik di dalam keluarga maupun di sekolah 
serta masyarakat pada umumnya. Masalah atau ketegangan dapat muncul ketika ada 
perbedaan antara ajaran agama, yang pada umumnya lebih luas dan universal, 
dengan ajaran adat-istiadat sebagaimana diwariskan oleh nenek moyang, yang 
bersifat terbatas. Sebagai contoh yang sering terjadi adalah penentuan jam dan 
hari perkawinan, jam penguburan jenasah, dst.. . Dalam hal perkawinan, 
misalnya, yang dijalani oleh hampir semua manusia; dasar dan ikatan hidup 
bersama di dalam keluarga adalah cintakasih, dan cintakasih bersifat bebas, 
namun menurut adat-istiadat tertentu ada ketentuan perihal hari atau jam, yang 
sering tidak sesuai dengan situasi dan kondisi karena harus pinjam tempat 
upacara perkawinan maupun pesta. Hemat saya dalam hal perkawinan yang utama dan 
pertama-tama harus dihayati adalah cintakasih, jika mendambakan hidup bahagia, 
bukan hari atau tanggal dan jam/waktu tertentu. Semua hari, jam dan tanggal 
adalah baik, itulah kebenaran sejati. 
•       "Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, 
tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan 
kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, 
mengapakah engkau menganiaya Aku?" (Kis 9:3-4). Kekekaran dan keperkasaan 
Saulus dikalahkan oleh sinar terang atau cahaya yang berasal dari Tuhan. Apa 
yang dialami oleh Saulus ini kiranya dapat menjadi pelajaran atau bahan 
refleksi bagi kita semua. Kami berharap hendaknya kita semua tidak 
menggantungkan atau mengandalkan 100% pada diri sendiri, tetapi berilah tempat 
bagi Allah. Maka yang baik dan ideal hemat saya adalah 100% mengandalkan pada 
diri sendiri dan 100% mengandalkan diri kepada Allah, atau sebagaimana menjadi 
motto atau ajaran Mgr.A.Sugijapranata SJ (alm.), pahlawan nasional, menjadi 
100% warganegara dan 100% katolik/pengikut Yesus Kristus/Tuhan. Memang dalam 
iman kita tentu percaya bahwa Tuhan melebihi kita dalam segala hal. Marilah 
kita mengarahkan diri sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi, sehingga apapun 
yang dikehendaki oleh Tuhan kita laksanakan atau hayati sepenuhnya. Kami juga 
berharap kepada mereka yang sering mengancam atau menteror orang beragama atau 
beriman lain untuk bertobat dan memperbaharui diri. Ada rumor yang beredar: 
daerah Jawa Barat akhir-akhir ini mengalami aneka macam musibah dan bencana 
alam seperti gempa bumi, banjir di daerah Bandung Selatan maupun wilayah 
Krawang dan Bekasi, karena ada sekelompok warga yang mungkin dimotori tokoh 
tertentu  mempersulit pembangunan rumah ibadat. 

"Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa!2 
Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. 
Haleluya!" (Mzm 117)

Jakarta, 23 April 2010


Kirim email ke