"Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran"
(Kis 17:15.22-18:1; Yoh 16:12-15)

"Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum 
dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan 
memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari 
diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan 
dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia 
akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya 
dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku 
berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku." 
(Yoh 16:12-15), demikian Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari saya sampaikan catatan-catatan sederhana 
sebagai berikut:
•       Semakin belajar atau semakin banyak yang dipelajari pada umumnya juga 
semakin banyak yang tidak atau kurang diketahui, itulah hukum bagi siapapun 
yang terus menerus belajar atau bersikap mental belajar sepanjang hidup/hayat. 
Maka pada umumnya orang yang belajar terus menerus juga akan rendah hati serta 
berterima kasih dan bersyukur atas berbagai ilmu, pengetahuan, keterampilan 
dst…yang telah diterimanya melalui siapapun yang telah berbuat baik kepadanya. 
Orang yang demikian ini juga sering dimintai tolong orang lain untuk membagikan 
apa yang dimilikinya, dan karena yang dibagikan adalah ilmu, pengetahuan, 
keterampilan dst.. maka semakin dibagikan semakin diperkaya lagi. Orang yang 
bersikap mental belajar senantiasa terbuka terhadap aneka macam kritik, saran, 
pertanyaan, dst. dan disikapinya sebagai `yang akan memimpin ke dalam seluruh 
kebenaran' , artinya semua tanggapan menjadi tantangan dan ajakan untuk terus 
belajar tanpa henti sampai mati. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan 
kita semua; marilah bersikap mental belajar terus menerus sepanjang 
hidup/hayat, dan  kepada anak-anak sedini mungkin dibiasakan sikap mental 
belajar ini antara lain dengan teladan konkret dari orangtua. Kepada mereka 
yang sedang bekerja, entah tugas pekerjaan apapun, kami harapkan menghayati 
sikap mental belajar selama bekerja, maka ketika diberi jenis pekerjaan baru 
yang belum pernah diketahui atau dijumpai hendaknya diterima dengan rendah hati 
alias dikerjakan dengan sepenuh hati seraya membuka diri atas bantuan orang 
lain yang baik hati. Kita semua mendambakan kebenaran dan rasanya kebenaran 
akan kita peroleh jika kita saling belajar dan mengajar atau terus menerus 
belajar. 
•       "Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu." (Kis 
17:32), demikian ejekan seseorang kepada Paulus yang membicarakan perihal 
kebangkitan orang mati.  Orang-orang Atena pada waktu itu memang unggul dalam 
berfilsafat alias kecerdasan otak namun lemah dalam hal kecerdasan spiritual; 
mereka tidak percaya akan kebangkitan orang mati, yang memang merupakan 
misteri, tak terpahami hanya dengan akal atau otak saja. Hanya mereka yang 
sungguh beriman percaya akan kebangkitan orang mati. Beriman berarti 
mempercayakan diri pada `sesuatu yang tak kelihatan', termasuk yang akan 
datang, yang sama sekali belum kita ketahui. Dalam lingkungan hidup yang lebih 
didominasi oleh semangat materialistis saat ini kiranya sebagai orang yang 
sungguh beriman juga akan memperoleh ejekan atau cemoohan sebagaimana dihadapi 
oleh Paulus. Demikian juga orang-orang yang lebih berpikir logis alias 
mengandalkan otaknya saja pada umumnya juga dengan mudah melecehkan atau 
merendahkan mereka yang sungguh beriman. Ketika memperoleh ejekan atau cemoohan 
yang menyakitkan tersebut hendaknya tidak perlu ditanggapi, melainkan diamkan 
saja serta doakan mereka atau kalau memang tidak kuat sama sekali , tinggalkan 
saja sebagaimana Paulus juga meninggalkan orang-orang Atena yang tidak menerima 
pewartaannya. Dengan kata lain suatu saat kita memang harus berani menyadari 
dan menghayati diri sebagai yang lemah, rapuh dan serba terbatas, lebih-lebih 
ketika menghadapi masalah, tantangan atau hambatan yang sulit diatasi. 
Masing-masing dari kita toh tak mungkin mengerjakan atau mengatasi segala 
sesuatu, apa yang kita kerjakan hanyalah bagian kecil dari keseluruhan, maka 
baiklah kita tetap rendah hati dalam fungsi, jabatan atau kedudukan apapun. 

"Hai raja-raja di bumi dan segala bangsa, pembesar-pembesar dan semua 
pemerintah dunia; hai teruna dan anak-anak dara, orang tua dan orang muda! 
Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi 
luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit. Ia telah meninggikan tanduk 
umat-Nya" (Mzm 148:11-14a)

Jakarta, 12 Mei 2010


Kirim email ke