HR TUBUH DAN DARAH KRISTUS: Kej 14:18-20; 1Kor 11:23-26; Luk 9:11b-17
"Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan 
memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang 
banyak." 
"Penghayatan Ekaristi dan sakramen pada umumnya, terutama merupakan suatu 
pengalaman iman. Dalam iman orang dipersatukan dengan Kristus, dan dengan 
sesama. Ekaristi berarti suatu pertemuan pribadi – dalam iman – dengan Kristus. 
St.Paulus menulis, "Bukankah piala ucapan syukur, yang di atasnya kita ucapkan 
syukur, berarti persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita 
pecah-pecahkan berarti persekutuan dengan tubuh Kristus?" (1Kor 10:16). 
Ekaristi berarti `persekutuan dengan Kristus'. Dan memang, kita `dipanggil 
kepada persekutuan dengan Anak Allah, Yesus Kristus Tuhan kita'(1Kor 1: 9). Hal 
itu berarti pertama-tama `persekutuan Roh Kudus'(2Kor 13:13), sebab kesatuan 
kesatuan dengan Kristus berarti `persekutuan iman' (Flm 6). Persekutuan iman 
berarti persekutuan jemaat, sebab semua bersama-sama menghayati iman Gereja. 
Sakramen itu `sakramen iman', dan Ekaristi sebagai pusat dan puncak semua 
sakramen merupakan perayaan iman bersama. Pusatnya bukanlah roti dan anggur, 
melainkan Kristus yang – karena iman – hadir dalam seluruh umat" (KWI: IMAN 
KATOLIK, Buku Informasi dan Referensi, Jakarta 1996, hal 412). Kutipan ini 
kiranya baik kita renungkan atau refleksikan bersama dengan bacaan-bacaan dalam 
rangka merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus hari ini. 

"Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap 
berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya 
supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak" (Luk 9:16) 

Kutipan dari Injil Lukas di atas ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi kita 
semua dalam rangka menghayati imamat umum kaum beriman. Sebagai orang yang 
beriman kepada Yesus Kristus kita memiliki panggilan imamat umum yang harus 
kita hayati di dalam hidup kita sehari-hari. Cirikhas atau fungsi seorang imam 
antara lain menjadi penyalur rahmat/berkat Allah kepada umat manusia dan 
doa/dambaan/kerinduan umat manusia kepada Allah, lebih-lebih dan terutama bagi 
umat yang miskin dan berkekurangan, lapar dan haus dalam berbagai kebutuhan 
hidup sehari-hari. 

Apa yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai kini adalah rahmat atau 
anugerah Allah, yang harus kita bagikan kepada orang banyak, siapapun yang kita 
jumpai dalam hidup kita sehari-hari, terutama yang miskin dan berkekurangan. 
Aneka rahmat atau anugerah Allah yang kita terima memang juga merupakan usaha 
kita dalam rangka `menengadah ke langit'  alias buah kerja keras kita, tetapi 
pertama-tama dan terutama merupakan kemurahan hati Allah., maka selayaknya kita 
juga bermurah hati kepada saudara-saudari kita. Bermurah hati berarti menjual 
hati dengan harga murah meriah alias memperhatikan siapapun, tanpa pandang 
bulu, terutama dan pertama-tama kepada mereka yang miskin dan berkekurangan. 

Kami berharap semakin kaya, pandai, cerdas, terampil, tua, berpengalaman dst. 
(alias semakin `berisi') juga semakin bersyukur dan berterima kasih alias 
rendah hati, sebagaimana dikatakan dalam pepatah " batang bulir padi yang 
berisi semakin menunduk, sedangkan yang tak berisi menengadah ke atas".  
Bermurah hati dengan rendah hati sungguh merupakan tindakan atau perilaku yang 
terpuji, mulia dan mempesona. Kita semua kiranya memiliki pengalaman iman 
selama berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi, puncak iman dan ibadat Gereja, 
dimana kita semua mengalami kebersamaan hidup yang indah, duduk sama tinggi 
berdiri sama rendah, bersama-sama berdoa dan bernyanyi, saling menyampaikan 
damai sejahtera Allah dan sama-sama menerima Tubuh Kristus. Rasanya kemurahan 
hati dan kerendahan hati hidup dan  menjiwai kita semua selama berpartisipasi 
di dalam Perayaan Ekaristi. Baiklah sebagaimana di akhir Perayaan Ekaristi kita 
menerima ajakan pengutusan , "Marilah pergi, kita diutus" , marilah dalam 
kepergian atau sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun kita bermurah hati, 
menyalurkan rahmat/berkat Allah kepada sesama dengan rendah hati.        

"Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan 
kematian Tuhan sampai Ia datang" (1Kor 11:26)

Perayaan Ekaristi adalah kenangan akan wafat dan kebangkitan Yesus, kenangan 
pemberian Diri Yesus kepada kita semua yang beriman kepadaNya, yang antara lain 
kita hayati dengan menerima Tubuh dan Darah Kristus, dalam rupa roti dan anggur 
yang telah dikonsekrir. Dengan menyantap Tubuh Kristus kita bersatu dan bersama 
dengan Yesus Kristus, dan dengan demikian dipanggil untuk `memberitakan 
kematian Tuhan sampai Ia datang'. 

`Memberitakan kematian Tuhan' berarti menyebarluaskan persembahan Diri Yesus di 
kayu salib, dan untuk itu kita sendiri memang harus meneladan Dia dalam 
persembahan diri total dalam hidup sehari-hari. Dengan kata lain kita dipanggil 
untuk bekerja keras dalam melakukan tugas atau menghayati panggilan apapun. 
"Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif 
dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam 
melakukan sesuatu"  (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti 
Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10). Maka kami berharap kepada kita 
semua: hendaknya dengan kerja keras kita belajar atau bekerja:

1). Bagi siapapun yang sedang memiliki tugas belajar hendaknya sungguh belajar. 
Tujuan utama belajar adalah agar terampil belajar, menjadi pribadi yang 
senantiasa siap sedia untuk belajar, sehingga senang belajar atau mempelajari 
apapun, lebih-lebih atau terutama hal-hal yang terkait pada kesejahteraan umum 
atau kebahagiaan bersama. Dengan ini kami berseru kepada para peserta didik 
atau mahasiswa untuk mengusahakan dan memperdalam sikap belajar, sehingga 
terampil belajar; jauhkan budaya instant, yaitu belajar untuk memperoleh nilai 
akhir semester, tahun atau ujian, yang sering hanya dipersiapkan satu atau dua 
minggu saja, atau bahkan sehari. Memang agar terampil belajar anda harus 
memiliki keutamaan kerendahan hati, belajar tanpa rendah hati pasti gagal 
total. 

2). Bagi siapapun yang sedang memiliki tugas bekerja kami harapkan bekerja 
keras dan sungguh-sungguh, sehingga terampil bekerja. Secara khusus kami 
berharap kepada para pekerja muda atau baru: hendaknya lebih mengutamakan agar 
terampil bekerja bukan jasa atau gaji. Dengan kata lain sikap mental belajar 
hendaknya menjiwai anda selama bekerja. Orang yang bersikap mental belajar 
selama bekerja pada umumnya senantiasa siap sedia untuk menerima tugas atau 
pekerjaan baru, meskipun tugas atau pekerjaan tersebut terasa asing atau baru 
sama sekali. Dengan kata lain hendaknya senantiasa siap sedia membaktikan atau 
memberikan diri pada aneka kesempatan dan kemungkinan, sesuai dengan tuntutan 
dan perkembangan zaman. Usahakan untuk menjadi pribadi atau orang `otodidak' 
(auto didaktos), orang yang terampil serta memiliki aneka macam pengetahuan dan 
ilmu dengan belajar sendiri melalui aneka pengalaman hidup maupun kerja. 
Bagikan keterampilan dan kecerdasan serta aneka kekayaan anda kepada orang lain 
yang sungguh membutuhkan, lebih-lebih dan terutama mereka yang miskin dan 
berkekurangan. 

"Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai 
Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." Tongkat kekuatanmu akan diulurkan 
TUHAN dari Sion: memerintahlah di antara musuhmu! Pada hari tentaramu bangsamu 
merelakan diri untuk maju dengan berhiaskan kekudusan; dari kandungan fajar 
tampil bagimu keremajaanmu seperti embun. TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak 
akan menyesal: "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek."  
(Mzm 110:1-4)

Jakarta, 6 Juni 2010  


Kirim email ke