"Berbahagialah orang yang suci hatinya"
(1Raj 17:1-6; Mat 5:1-12)

"Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia 
duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan 
mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, 
karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang 
berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, 
karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan 
kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah 
hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci 
hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa 
damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang 
dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu 
difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu 
besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum 
kamu." (Mat 5:1-12), demikian kutipan Warta Gembira  hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Ajaran atau sabda bahagia Yesus sebagaimana kami kutipkan di atas ini 
merupakan garis besar haluan hidup beriman atau beragama, yang memang tak 
mungkin kita hayati sendirian dan sesaat saja. Masing-masing dari kita kiranya 
dapat memilih sabda bahagia mana yang sesuai dengan hidup, panggilan, tugas 
pengutusan dan lingkungan hidup kita. Perkenankan saya memilih "Berbahagialah 
orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah", sebagai permenungan 
kita bersama, dan mungkin juga sesuai dengan dambaan dan kerinduan kita semua. 
Suci berarti bersih, tiada cacat cela atau noda apapun, putih bersih bagaikan 
salju. Orang suci pada umumnya menarik, memikat, mempesona dan menggairahkan 
bagi orang lain, sehingga banyak orang tergerak untuk mendekat dan bersahabat. 
Orang suci senantiasa lebih melihat dan menghayati karya Allah dalam seluruh 
ciptaanNya, lebih-lebih dalam diri sesama manusia, yang diciptakan sebagai 
gambar atau citra Allah. Anak atau bayi yang baru saja dilahirkan pada umumnya 
suci, menarik, mempesona dan menggairahkan, dengan kata lain anak-anak lebih 
suci daripada orangtuanya, generasi muda lebih suci daripada generasi tua, maka 
kami berharap kepada kita semua untuk bersembah sujud pada anak-anak alias 
membaktikan hidup sepenuhnya demi kebahagiaan dan kesejahteraan anak-anak. 
Sikap terhadap anak-anak tidak lain adalah mengasihi: mendekati dan menyapa 
atau memperlakukan anak-anak tanpa kasih pasti gagal. Marilah kita hidup dan 
bertindak saling mengasihi satu sama lain, agar kita boleh hidup suci dan 
saling melihat Allah yang hidup dan berkarya di dalam diri kita yang lemah dan 
rapuh ini. 
•       "Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi 
sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. Engkau dapat minum dari sungai 
itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di 
sana" (1Raj 17:3-4), demikian firman Tuhan kepada Ahab. Ahab pun melaksanakan 
firman Tuhan tersebut dan apa yang difirmankan oleh Tuhan terlaksana. Orang 
suci adalah orang yang melaksanakan firman atau sabda Tuhan setiap hari dalam 
kesibukan atau pelayanan apapun dan dimanapun. Maka orang suci dimanapun dan 
kapanpun senantiasa dengan rendah hati mendengarkan firman Tuhan, yang 
disampaikan antara lain melalui sesama beriman atau mereka yang berkehendak 
baik. Kami percaya babwa di dunia ini atau di masyarakat kita orang yang 
berkehendak baik lebih banyak daripada yang berkehendak jahat, demikian juga 
kehendak baik dalam diri seseorang lebih banyak daripada kehendak jahatnya. 
Sikapi dan perlakukan orang lain dalam kasih yang rendah hati; dengan sentuhan 
kasih yang rendah hati siapapun pasti akan terkesan dan terharu. Ahab dapat 
minum dan diharapkan minum air sungai Yordan agar hidup dan selamat. Air Yordan 
adalah symbol air pembaptisan, maka baiklah firman Tuhan kepada Ahab untuk 
minum air Yordan kita hayati sebagai firman Tuhan kepada kita untuk 
mengusahakan kelegaan dari rahmat baptisan atau janji baptis, yaitu `hanya mau 
mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan setan'. Jika kita mendambakan 
hidup bahagia, selamat, damai sejahtera, hendaknya kita setia pada janji baptis 
tersebut, senantiasa mengabdi Tuhan yang hidup dan berkarya dalam diri 
saudara-saudari kita serta menolak aneka rayuan dan godaan setan yang 
menggejala dalam aneka tawaran kenikmatan duniawi. 

"Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang 
pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. 
Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap" (Mzm 121:1-3).
. Jakarta, 7 Juni 2010


Kirim email ke