"Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya."
(Rat 2:2.10-14.18-19; Mat 8:5-17)

"Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan 
memohon kepada-Nya: "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan 
ia sangat menderita." Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang 
menyembuhkannya." Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak 
menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu 
akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula 
prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia 
pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada 
hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." Setelah Yesus mendengar hal 
itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata 
kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang 
pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari 
Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di 
dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke 
dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak 
gigi." Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu 
seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya." (Mat 
8:5-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Orang-orang Israel atau Yahudi memang kurang atau tidak percaya kepada 
Yesus, sebagai Mesias, sebagaimana dijanjikan oleh Allah kepada mereka, maka 
ketika ada seorang perwira Israel datang kepada Yesus untuk mohon penyembuhan 
bagi hambanya, Ia bersabda: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar 
ini tidak pernah Aku jumpai seorangpun di antara orang Israel". Iman sang 
perwira tersebut menjadi kenyataan alias terwujud, apa yang diharapkan menjadi 
kenyataan. Pengalaman sang perwira ini kiranya baik menjadi bahan permenungan 
bagi kita semua umat beriman. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya 
kepada Tuhan/Penyelenggaraan Ilahi, dan dengan demikian cara hidup dan cara 
bertindak dikuasai oleh Tuhan alias sesuai dengan kehendak Tuhan. Maka marilah 
kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, jika kita mendambakan 
apa yang kita cita-citakan menjadi kenyataan alias terwujud. Kepada mereka yang 
sedang menderita sakit kami harapkan menyadari dan menghayati kelemahan atau 
kerapuhan dan kemudian mempersembahkan diri kepada Tuhan melalui 
saudara-saudari yang berbaik hati membantu penyembuhan. Kepada para mahasiswa 
atau pelajar kami harapkan sungguh belajar setiap hari sehingga sukses dalam 
belajar, demikian juga kepada para pekerja kami harapkan sungguh bekerja agar 
terampil bekerja. Kepada para suami-isteri yang mendambakan setia saling 
mengasihi sampai mati kami harapkan dalam suka atau duka, sehat maupun sakit 
tetap saling mengasihi. 
•       "Berteriaklah kepada Tuhan dengan nyaring, hai, puteri Sion, 
cucurkanlah air mata bagaikan sungai siang dan malam; janganlah kauberikan 
dirimu istirahat, janganlah matamu tenang! Bangunlah, mengeranglah pada malam 
hari, pada permulaan giliran jaga malam; curahkanlah isi hatimu bagaikan air di 
hadapan Tuhan, angkatlah tanganmu kepada-Nya demi hidup anak-anakmu, yang jatuh 
pingsan karena lapar di ujung-ujung jalan!" (Rat 2:18-19). Kutipan ini kiranya 
baik menjadi acuan atau panduan kita dalam beriman  atau beragama. Sebagai 
orang beriman atau beragama kita diharapkan tidak pernah melupakan hidup doa, 
entah doa pribadi ataupun doa bersama. Berdoa berarti membuka hati sepenuhnya 
kepada Tuhan seraya mohon rahmat yang kita butuhkan sesuai dengan panggilan dan 
tugas pengutusan kita masing-masing. "Curahkanlah isi hatimu bagaikan air mata 
di hadapan Tuhan" , inilah nasihat atau saran yang selayaknya kita hayati atau 
lakukan. Apa isi hati anda, janganlah dikubur di dalam hati, melainkan 
curahkanlah, persembahkanlah kepada Tuhan. Persembahkan dambaan, kerinduan, 
harapan dan cita-cita anda kepada Tuhan, serta percayalah bahwa Tuhan akan 
menganugerahkan apa yang terbaik demi keselamatan jiwa kita. Anugerah yang 
terbaik dari Tuhan tidak lain adalah Roh Kudus, sehingga kita yang menerima 
anugerah Roh Kudus akan hidup dan bertindak oleh atau karena  Roh Kudus dan 
dengan demikian mengahasilkan buah-buah Roh Kudus seperti " kasih, sukacita, 
damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, 
penguasaan diri" (Gal 5:22-23). Buah-buah Roh inilah yang kita butuhkan dalam 
hidup dan kerja kita sehari-hari agar kita dapat hidup damai sejahtera dan 
bahagia selama-lamanya. 

"Mengapa, ya Allah, Kaubuang kami untuk seterusnya? Mengapa menyala murka-Mu 
terhadap kambing domba gembalaan-Mu? Ingatlah akan umat-Mu yang telah 
Kauperoleh pada zaman purbakala, yang Kautebus menjadi bangsa milik-Mu sendiri! 
Ingatlah akan gunung Sion yang Engkau diami. Ringankanlah langkah-Mu ke tempat 
yang rusak terus-menerus; segala-galanya telah dimusnahkan musuh di tempat 
kudus.Lawan-lawan-Mu mengaum di tempat pertemuan-Mu dan telah mendirikan 
panji-panji mereka sebagai tanda."
(Mzm 74:1-4) 
Jakarta, 26 Juni 2010 


Kirim email ke