Mg Biasa XIII: 1Raj 19:16b.19-21; Gal 5:1.13-18; Luk 9:51-62
"Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak 
untuk Kerajaan Allah."

Dalam acara seminar atau lokakarya perihal `kebudayaan dan pendidikan' ada 
seorang pembicara menyampaikan sindirian sebagai berikut: "Salah satu cermin 
budaya suku/bangsa antara lain ada pada tarian. Tarian Jawa/kasunanan Solo atau 
kasultanan Yogya adalah `bedoyo', di mana sang penari nampak maju satu langkah 
dan mundur dua langkah. Bukankah hal ini mencerminkan sementara orang Jawa yang 
bersikap mental `nrimo' (=menerima) dan kurang bergairah untuk melangkah maju 
dengan bereksplorasi atau mencoba-coba hal baru?".  Sindiran ini rasanya erat 
kaitannya dengan Warta Gembira hari ini, dimana dikisahkan orang yang ingin 
mengikuti Yesus, tetapi ketika Yesus mengatakan bahwa "Serigala mempunyai liang 
dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk 
meletakkan kepala-Nya.", orang tersebut mengundurkan diri dengan alasan yang 
nampak logis, namun yang benar adalah orang tersebut tidak siap untuk melangkah 
ke depan bersama Yesus karena takut terhadap aneka tantangan, hambatan atau 
masalah. Mungkinkah kita juga termasuk orang yang takut melangkah ke depan 
karena aneka macam tantangan, hambatan atau masalah yang harus dihadapi? 
Marilah kita mawas diri!.

"Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak 
untuk Kerajaan Allah."(Luk 9:62)

Ada dua alasan yang ditampilkan dalam warta gembira hari ini perihal 
orang-orang yang `menoleh ke belakang', yaitu:

1) "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku." (Luk 9:59)
Minta izin tidak bekerja atau tidak belajar dengan alasan `layat'  pada umumnya 
dengan mudah diizinkan serta jarang ditolak. Maka sering ada pekerja atau 
pelajar tertentu, yang malas dan ingin membolos, minta izin dengan alasan 
hendak melayat saudaranya atau kenalannya. "Izinkanlah aku pergi dahulu 
menguburkan bapaku"  merupakan alasan licik bagi orang malas untuk maju, tumbuh 
dan berkembang; alasan yang tak mungkin dibicarakan atau didiskusikan lagi. 
Orang yang demikian ini pada umumnya hanya ingin mengikuti dan mempertahankan 
pendapat atau ide atau cita-citanya sendiri samibl berkata `pokoknya ini'.  

2) "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu 
dengan keluargaku."(Luk 9:61) "Pamitan dahulu dengan keluargaku"  berarti orang 
begitu dikuasai oleh  atau terikat pada semangat/ mental orangtua, dan dengan 
demikian tidak sedia untuk hidup dan bertindak sesuai dengan charisma atau 
spiritualitas atau visi hidup baru dimana yang bersangkutan mulai menapaki atau 
menghayatinya. Sebagai contoh: sudah menjadi suami-isteri tetapi baik sang 
suami maupun sang isteri hanya mau mengikuti kehendak dan keinginan sendiri 
sebagaimana telah ditanamkan dan diterima dari orangtua masing-masing, menjadi 
anggota lembaga hidup bakti (biarawan atau birawati) tidak sedia hidup dan 
bertindak sesuai dengan charisma pendiri melainkan hanya mau mengikuti 
keinginan atau kemauan sendiri, dstÂ… Dengan kata lain orang masih 
kekanak-kanakan alias belum dewasa. 

Kepada mereka yang memiliki sikap mental sebagaimana saya angkat di atas ini 
kami harapkan untuk bertobat atau memperbaharui diri, dan marilah mengikuti 
Tuhan dengan penuh kesetiaan dan ketaatan. Memang untuk mengikuti Tuhan kita 
harus berani meneladan Yesus dengan hidup sebagaimana Ia gambarkan ini, 
"serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia 
tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya". Mengikuti Tuhan berarti 
siap sedia dengan jiwa besar dan hati rela berkorban meninggalkan segala 
keinginan dan kehendak sendiri serta kemudian mengikuti perintahNya atau 
meneladan cara hidup Yesus, yang kaya tetapi memiskinkan DiriNya, yang besar 
dan mulia tetapi merendahkan diri. Dengan kata lain mengikuti Tuhan berarti 
melaksanakan atau menghayati aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan 
panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing: hidup dan bertindak sesuai 
dengan janji yang pernah kita ikrarkan atau spiritualitas pendiri organisasi. 

"Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah 
kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam 
dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih" (Gal 5:13)  

"Layanilah seorang akan yang lain oleh kasih", inilah yang baik menjadi 
permenungan atau refleksi kita, sebagai orang beriman yang telah `dipanggil 
untuk merdeka'. Melayani berarti membahagiakan dan mensejahterakan, pelayan 
yang baik senantiasa tidak pernah mengecewakan yang dilayani. Pelayan yang baik 
senantiasa dijiwai oleh kasih, yaitu "sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak 
memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak 
mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan 
orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, 
menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, 
sabar menanggung segala sesuatu" (1Kor 13:4-7)     

"Tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain"  inilah yang kiranya 
baik kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini, mengingat dan memperhatikan 
masih maraknya aneka bentuk kemarahan di sana-sini yang menimbulkan korban 
manusia maupun harta benda. Marah berarti menghendaki yang dimarahi tidak ada; 
bentuk kemarahan yang paling lembut adalah mengeluh dan yang paling kasar 
adalah membunuh/memusnahkan. Orang yang mudah mengeluh hemat saya orang yang 
sedang menderita sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun 
sakit tubuh. Makanan, minuman, cuaca, situasi dst. dapat menjadi bahan 
mengeluh. Pendek kata apa yang tidak sesuai dengan selera atau keinginan 
pribadi dapat menjadi sumber mengeluh atau marah.  

Orang yang suka menyimpan kesalahan orang lain pada umumnya juga mudah marah, 
karena isi otak atau pikirannya adalah kesalahan-kesalahan orang lain maupun 
kesalahan diri sendiri. Ingat dan sadari bahwa apa yang akan kita lakukan pada 
hari ini tergantung apa yang sedang ada dalam pikiran atau otak kita, maka jika 
yang ada di dalam otak atau pikiran kita adalah kesalahan-kesalahan dengan 
sendirinya kita akan mudah marah karena tidak pernah puas atau nikmat dalam 
hidup ini. Orang yang mudah menyimpan kesalahan-kesalahan memang tak mungkin 
dapat nikmat dan bahagia atau sejahtera di dalam hidup di dunia masa kini. 
Orang yang senang menyimpan kesalahan-kesalahan pada umumnya juga perfektionis, 
yang dikehendaki sempurna adanya, padahal di dunia ini banyak hal yang tidak 
sempurna. Mereka juga kurang melayani dan lebih senang untuk dilayani.      

Kita semua dipanggil untuk merdeka, dan marilah kita hayati atau fungsikan 
kemerdekaan kita untuk hidup saling melayani satu sama lain dalam dan oleh 
kasih. 

"Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam 
hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia 
berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan 
jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau 
tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu 
melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di 
hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat 
senantiasa"
 (Mzm 16:7-11)
Jakarta, 27 Juni 2010



Kirim email ke