Mg Biasa XIX: Keb 18:6-9; Ibr II:1-2.8-19;  Luk 12:32-48
"Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang 
tidak kamu sangkakan."

Jika kita cermati dalam kehidupan atau kinerja kita, ada salah satu 
kecenderungan umum yang terjadi dalam diri kita, yaitu menunda pekerjaan dan 
bekerja keras pada minggu, hari, jam atau menit terakhir. Misalnya: para murid 
atau pelajar serta mahasiwa hanya belajar menjelang ulangan umum atau ujian, 
bahkan satu jam sebelum ulangan atau ujian masih belajar. Sikap mental macam 
itu kelak kemudian hari akan berkembang menjadi orang dewasa (pekerja) yang 
suka menunda tugas pekerjaan serta kerja keras pada hari-hari atau jam-jam 
terakhir sampai kurang tidur dan kurang makan. Cara kerja mereka bagaikan salah 
satu ciri wartawan yang harus menulis dan melaporkan kerjanya sesegera mungkin 
sebelum edit dan pencetakan majalah atau surat kabar dikerjakan. Namun wartawan 
hemat saya tidak hanya bekerja pada jam-jam terakhir untuk mengejar `death 
line' saja, tetapi mereka harus bekerja siang malam terus menerus dalam rangka 
mencari berita yang baik dan diharapkan. Para wartawan pada umumnya senantiasa 
siap sedia dan peka terhadap aneka peristiwa maupun issue serta ajakan atau 
panggilan untuk meliputi kejadian. Memang para wartawan tahu kapan harus batas 
akhir harus melapor, namun mereka tidak hanya asal lapor saja, tetapi berusaha 
seoptimal mungkin apa yang dilaporkan akan menjadi berita yang menarik, 
menyelamatkan dan membahagiakan banyak orang. Masing-masing dari kita tidak 
tahu kapan kita meninggal dunia atau dipanggil Tuhan, dan sewaktu-waktu, kapan 
saja dan dimana saja kita dapat meninggal dunia, misalnya karena kecelakaan 
lalu lintas atau bencana alam. Siapkah kita sewaktu-waktu dipanggil Tuhan atau 
meninggal dunia? Karena kita tidak tahu kematian kita, marilah kita senantiasa 
siap sedia untuk meninggal dunia atau dipanggil Tuhan. 

"Ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia 
tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, 
karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." (Luk 12:39-40) 
Yang dimaksudkan dengan kedatangan `Anak Manusia' disini adalah akhir zaman 
atau hari kiamat. Bagi kita masing-masing akhir zaman itu berarti kematian 
kita, ketika dipanggil Tuhan. Siap sediakah kita setiap saat dipanggil Tuhan 
alias meninggal dunia? Jam-jam atau menit-menit atau detik-detik terakhir hidup 
orang yang akan dipanggil Tuhan pada umumnya gelisah, jika yang bersangkutan 
senantiasa hidup dan  bersatu dengan Tuhan maka kegelisahan itu lembut sekali, 
sebaliknya jika orang tidak bersatu dengan Tuhan dalam hidup sehari-hari maka 
kegelisahannya luar biasa, antara lain berteriak-teriak, kaki jejak sana-sini, 
tangan gerak ke sana kemari dst.. (bahasa Jawa -> `mecati'). Bersama dan 
bersatu dengan Tuhan berarti hidup baik dan berbudi pekerti luhur, hidup dan 
bertindak dijiwai oleh iman. 

Peringatan agar kita senantiasa siap sedia sewaktu-waktu dipanggil Tuhan 
berarti kita diharapkan hidup baik dan berbudi pekerti luhur. Maka baiklah 
sekali lagi saya kutipkan ciri-ciri berbudi pekerti luhur di bawah ini untuk 
kita fahami, refleksikan dan hayati dalam hidup kita sehari-hari, yaitu: 
"bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, 
berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, 
bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang 
rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, 
berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai 
karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, 
pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih 
sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap 
adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, 
tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet " (Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman 
Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997). Kiranya kita tak 
mungkin menghayati semua ciri tersebut sepenuhnya, tetapi hemat kami ketika 
kita unggul dalam salah satu ciri tersebut  di atas berarti secara inklusif 
ciri-ciri yang lain dihayati juga.  Maka baiklah masing-masing dari kita 
mengusahakan nilai atau ciri mana yang paling cocok atau memadai untuk dengan 
unggul kita hayati dalam hidup kita sehari-hari. 

"Diam-diam anak-anak suci dari orang yang baik mempersembahkan korban dan 
sehati membebankan kepada dirinya kewajiban ilahi ini: orang-orang suci 
sama-sama akan mengambil bagian baik dalam hal-hal yang baik maupun dalam 
bahaya. Dalam pada itu sebelumnya sudah mereka dengungkan lagu-lagu pujian para 
leluhur" (Keb 18:9)

Kita semua diharapkan menjadi orang yang suci dan baik. Suci berarti senantiasa 
mempersembahkan atau menyisihkan diri seutuhnya kepada Tuhan di dalam hidup 
sehari-hari, sehingga hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Ingat 
bahwa dibaptis berarti disucikan, dan ketika dibaptis antara lain dahi kita 
dicurahi air diiringi dengan kata-kata "…aku membaptis engkau dalam nama Bapa 
dan Putera dan Roh Kudus'. Dalam kebiasaan beberapa aliran/sekte  Kristen 
pembaptisan dilakukan dengan menenggelamkan seluruh tubuh dalam air kolam. Dahi 
dicurahi air berarti otak atau pikiran kita dibersihkan atau disucikan. Apa 
yang akan kita lakukan hari ini tergantung apa yang ketika bangun pagi kita 
pikirkan, yang ada dalam pikiran kita masing-masing. Semoga dalam pikiran kita 
senantiasa apa yang suci dan baik. Ingat juga bahwa ketika dibaptis kita 
diharapkan berpakaian putih bersih yang melambangkan kesucian; semoga kita 
setia menjaga kesucian hati, jiwa, pikiran dan tubuh kita. 

"Orang-orang suci sama-sama akan mengambil bagian baik dalam hal-hal yang baik 
maupun dalam bahaya", demikian peringatan penulis kitab Kebijaksanaan. 
Peringatan ini kiranya senada dengan kutipan dari surat Ibrani ini,yaitu "Iman 
adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala 
sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian 
kepada nenek moyang kita" (Ibr 11:1-2)  Yang mungkin baik kita refleksikan 
kiranya adalah bahwa orang-orang suci mengambil bagian dalam  bahaya, mengingat 
dan memperhatikan banyak di antara kita cenderung untuk menghindari atau 
melepaskan diri dari bahaya begitu saja tanpa alasan. Tumbuh berkembang dalam 
iman atau kesucian atau setia hidup suci memang tak akan terlepas dari aneka 
macam bahaya, termasuk bahaya mati atau dipanggil Tuhan sewaktu-waktu. 
Orang-orang suci takkan takut terhadap aneka macam bahaya. 

Apa yang saya kutipkan dari surat Ibrani di atas selayaknya kita renungkan dan 
hayati juga, yaitu bahwa `iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita 
harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat'. Apa yang disebut 
dengan harapan memang tak terlihat atau masih samara-samar dan tidak jelas 
secara akal sehat. Kita semua memliki harapan, entah harapan untuk sukses dalam 
belajar atau bekerja, harapan sukses menghayati hidup terpanggil sebagai 
suami-isteri, imam, bruder atau suster, dst.. Iman mendasari harapan berarti 
jika kita mendambakan apa yang kita harapkan terwujud atau menjadi kenyataan, 
kita diharapkan dengan sungguh-sungguh dalam belajar atau bekerja, dalam 
menghayati hidup terpanggil, setia dan mentaati aneka aturan dan tatanan yang 
terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan. 

"Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada 
mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari 
pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan. Jiwa kita 
menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita! Kasih setia-Mu, 
ya TUHAN, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu."
 (Mzm 33:18-20.22)
Jakarta, 8 Agustus 2010   


Kirim email ke