"Jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka"
(Yeh 1:2-5.24-2:1a; Mat 17:22-27)
"Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata 
kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka 
akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka hati 
murid-murid-Nya itu pun sedih sekali. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di 
Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: "Apakah 
gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?" Jawabnya: "Memang membayar." Dan 
ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: "Apakah 
pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? 
Dari rakyatnya atau dari orang asing?" Jawab Petrus: "Dari orang asing!" Maka 
kata Yesus kepadanya: "Jadi bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita 
menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan 
pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan 
menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah 
kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga." (Mat 17:22-27), demikian kutipan Warta 
Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Kepekaan sosial atau kepedulian terhadap orang lain merupakan salah 
satu cirikhas dari orang yang baik dan berbudi pekerti luhur. Orang yang 
memiliki kepekaan atau kepedulian terhadap orang lain berusaha seoptimal 
mungkin agar cara hidup dan cara bertindaknya tidak menjadi `batu sandungan' 
bagi orang lain untuk berbuat dosa atau melakukan kejahatan, tetapi menjadi 
dorongan atau motivasi bagi orang lain untuk semakin hidup baik, beriman dan 
berbudi pekerti luhur, sebagaimana dilakukan oleh Yesus dan para rasul dalam 
hal pembayaran pajak. Maka dengan ini kami berharap kepada kita semua untuk 
berusaha seoptimal mungkin agar cara hidup dan cara bertindak kita tidak 
menjadi `batu sandungan' bagi orang lain untuk berbuat jahat atau berdosa. 
Hendaknya cara hidup dan cara bertindak kita tidak merangsang orang lain untuk 
berbuat dosa, misalnya cara berpakaian, pemakaian aneka asesori atau perhiasan, 
cara bicara dst… Memang dalam hal `batu sandungan' ini bagi mereka yang 
terpandang dalam hidup bersama sungguh tantangan, karena dimanapun berada atau 
kemanapun pergi senantiasa menjadi perhatian orang. Hendaknya para orangtua, 
guru, pemimpin atau atasan tidak menjadi batu sandungan bagi anak-anak, peserta 
didik, anggota atau bawahan. Mereka yang terpandang atau berada `di atas' 
hendaknya menjadi teladan dalam hal hidup yang dipersembahkan kepada Tuhan 
seutuhnya melalui sesamanya dengan melayani, membahagiakan dan menyelamatkan 
mereka. Secara khusus kami berharap kepada para pemimpin kelompok hidup 
beragama di tingkat apapun senantiasa berusaha untuk tidak menjadi batu 
sandungan bagi umat untuk melakukan kejahatan atau berdosa. 
•       "Begitulah kelihatan gambar kemuliaan TUHAN" (Yeh 1:28b).  Yeheskiel 
menggambarkan kemuliaan Tuhan dengan `makhluk hidup' di cakrawala yang sungguh 
menakjubbkan serta membuat orang bersembah sujud dan berusaha mendengarkan 
suara dari `makhluk hidup' tersebut.  Kita semua adalah ciptaan Tuhan, yang 
diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya, dengan kata lain Tuhan hidup dan 
berkarya di dalam diri kita, manusia yang lemah dan rapuh ini. Kita dipanggil 
untuk menyaksikan karya Tuhan dalam diri kita sendiri maupun sesama kita, dan 
tentu saja pertama-tama dan terutama kita sendiri memang sungguh layak menjadi 
`bait Tuhan'. Masing-masing dari kita diharapkan menjadi `bait Tuhan' agar 
dengan demikian kita juga akan saling bersembah-sujud sata sama lain dimanapun 
dan kapapun. Sembah sujud kepada Tuhan harus menjadi nyata juga dalam sembah 
sujud kepada sesama manusia. Marilah kita saling melihat apa yang indah, luhur, 
mulia dan baik dalam diri kita masing-masing. Mungkin yang paling mudah adalah 
tubuh yang indah alias cantik atau tampan, sehingga senantiasa mempesona bagi 
orang lain. Hendaknya kecantikan atau ketampanan tersebut dihayati sebagai 
karya atau anugerah Tuhan artinya tidak menjadi bahan pelecehan atau dorongan 
atau motivasi untuk berbuat jahat dan berdosa. Rekan-rekan gadis atau perempuan 
yang merasa diri sungguh cantik dan menjadi perhatian orang lain kami harapkan 
tetap menghadirkan diri sedemikian rupa sehingga menjadi dorongan atau motivasi 
bagi orang lain untuk semakin bersembah-sujud kepada Tuhan; hendaknya jangan 
merangsang orang lain untuk berdosa. Kepada mereka yang kaya, pandai atau 
cerdas kami harapkan tetap rendah hati, semakin kaya atau semakin pandai 
hendaknya semakin rendah hati. Pendek kata semakin banyak menerima anugerah 
Tuhan, entah berupa kekayaan, pengalaman, kecerdasan, kesehatan, kecantikan, 
ketampanan dll,. hendaknya semakin rendah hati. 

"Hai raja-raja di bumi dan segala bangsa, pembesar-pembesar dan semua 
pemerintah dunia; hai teruna dan anak-anak dara, orang tua dan orang muda! 
Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi 
luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit." (Mzm 148:11-13) .  
Jakarta, 9 Agustus 2010


Kirim email ke