"Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku ?"
(Yeh 12:1-12; Mat 18:21-19:1)

"Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali 
aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh 
kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai 
tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali" (Mat 18:21-22), 
demikian kutipan Warta Gembira hari ini.  .

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       "Ampunilah kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami", 
demikian kutipan dari doa Bapa kami, doa harian, doa yang mungkin lebih dari 
sekali kita doakan setiap hari. Pertanyaannya: "apakah doa tersebut meresapi 
dalam hati dan kemudian menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita setiap 
hari?". Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk hidup saling 
mengampuni. Hendaknya kita saling mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh 
berarti suatu ajakan atau panggilan untuk selalu saling mengampuni. Kita semua 
dipanggil untuk senantiasa menyalurkan kasih pengampunan Allah yang telah kita 
terima secara melimpah ruah melalui saudara-saudari kita. Ingatlah dan 
hayatilah bahwa masing-masing dari kita sejak masih berada di dalam kandungan 
ibu kita masing-masing telah menerima kasih pengampunan sampai saat ini, 
lebih-lebih dari atau melalui ibu kita menerima kasih pengampunan, sebagaimana 
disenandungkan dalam sebuah lagu "Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang 
masa, hanya memberi tak harap kembali,  bagai sang surya menyinari dunia". 
Semoga para ibu dapat menjadi saksi atau teladan dalam pengampunan ini di dalam 
hidup sehari-hari. Salah satu cara agar kita dapat dengan mudah dan enak 
mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita, antara lain hendaknya kita 
senantiasa menyadari dan menghayati diri sebagai yang berdosa serta dengan 
rendah hati senantiasa melihat apa yang baik dalam diri orang yang telah 
menyalahi kita tersebut. Ingat bahwa mereka yang menyalahi kita belum tentu 
salah, karena mungkin mereka tidak tahu bagaimana harus berbuat, dan orang yang 
tidak tahu berarti tidak salah. 
•       "Hai anak manusia, engkau tinggal di tengah-tengah kaum pemberontak, 
yang mempunyai mata untuk melihat, tetapi tidak melihat dan mempunyai telinga 
untuk mendengar, tetapi tidak mendengar, sebab mereka adalah kaum pemberontak. 
Maka engkau, anak manusia, sediakanlah bagimu barang-barang seorang buangan dan 
berjalanlah seperti seorang buangan pada siang hari di hadapan mata mereka; 
pergilah dari tempatmu sekarang ke tempat yang lain seperti seorang buangan di 
hadapan mata mereka. Barangkali mereka akan insaf bahwa mereka adalah kaum 
pemberontak." (Yeh 12:2-3). Para pemberontak memang memiliki mata dan telinga, 
tetapi tidak melihat dan mendengarkan, dan pada umumnya hidup dan bertindak 
hanya mengikuti kemauan sendiri atau selera pribadi. Kita dipanggil untuk 
menyadarkan para pemberontak, entah dalam kehidupan bersama kita di tingkat 
apapun dan dimanapun, dan kiranya terutama yang ada di dalam keluarga atau 
komunitas kita masing-masing. Kami percaya diam-diam di antara anggota keluarga 
ada yang ingin memberontak atau sudah memberontak, misalnya tidak taat pada 
aturan atau kebijakan dalam keluarga atau pada orangtua. Kiranya cukup banyak 
anak-anak yang menjadi pemberontak alias melawan orangtuanya. Anak-anak yang 
demikian ini hemat saya mereka merasa kurang dikasihi, maka penyadaran bagi 
mereka berarti menyadarikan mereka sebagai yang dikasihi atau yang terkasih. 
Ingatkan dan ajaklah anak-anak untuk menyadari dan menghayati diri kembali 
ketika masih berada di dalam rahim ibu, masih bayi yang sering menangis dan 
mengganggu ibu, dst.. dan ibu tidak marah atau membenci melainkan tetap setia 
mengasihi. Jika mungkin anak-anak diminta membaca buku mungil yang berjudul 
`Sembilan bulan dalam kandungan atau rahim ibu'. Dalam kutipan di atas 
diingatkan bahwa untuk menyadarkan pemberontak kita diharapkan menempatkan diri 
sebagai yang terbuang, alias menjadi korban pemberontakan. Kami percaya di 
dalam hati kecil pemberontak pasti masih ada kasih, dan ketika melihat orang 
terbuang dan menderita pasti tersentuh untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. 

"Tetapi mereka mencobai dan memberontak terhadap Allah, Yang Mahatinggi, dan 
tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Nya; mereka murtad dan berkhianat 
seperti nenek moyang mereka, berubah seperti busur yang memperdaya; mereka 
menyakiti hati-Nya dengan bukit-bukit pengorbanan mereka, membuat Dia cemburu 
dengan patung-patung mereka" (Mzm 78:56-58)

Jakarta, 12 Agustus 2010


Kirim email ke