"Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"
(Yeh 16:1-15.60.63; Mat 19:3-12)
"Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka 
bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa 
saja?" Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia 
sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab 
itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, 
sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, 
melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh 
diceraikan manusia." Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya 
Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan 
isterinya?" Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan 
kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku 
berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu 
kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." Murid-murid itu berkata 
kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik 
jangan kawin." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat 
mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak 
dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang 
yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya 
demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat 
mengerti hendaklah ia mengerti." (Mat 19:3-12), demikian kutipan Warta Gembira 
hari ini.  
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Harian Suara Karya 15 Agustus 2009 antara lain memberitakan bahwa di 
Indonesia setiap tahun ada sekitar 2 juta pasangan menikah dan 200.000 
perceraian, berarti 10% pernikahan bercerai.  Angka 10% kiranya cukup besar 
dalam hal ini, apalagi dampak yang akan terjadi dari perceraian. Yang sering 
menimbulkan perceraian antara lain adanya perbedaan, misalnya beda selera, beda 
pikiran, beda suku, dst.. Laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain tetapi 
saling tertarik, saling ingin mendekat dan bersahabat serta mengasihi, tergerak 
untuk saling melengkapi. Itulah misteri ilahi, yang hendaknya kita imani. Maka 
hendaknya aneka perbedaan menjadi daya tarik, daya pikat untuk saling mendekat 
dan mengasihi, jangan menjadi sumber permusuhan atau perpisahan. Ingat bahwa di 
dunia ini tidak ada yang sama persis alias identik: manusia kembar pun tidak 
identik, pasangan anggota tubuh kita yang nampak samapun tidak sama persis, 
misalnya dua buah dada, dua daun telinga, dua lobang hidung, dua buah pelir, 
dll.  Alasan perceraian adalah kedegilan hati, hati yang membatu dan tak 
mungkin ditembus dengan peluru. Memang setia pada janji perkawinan selain 
karena jerih payah atau usaha keras pasangan yang bersangkutan, juga dan 
terutama merupakan anugerah Tuhan, sebagaimana apa yang berbeda merupakan karya 
Tuhan. Kesetiaan antara suami-isteri dalam saling mengasihi sampai mati 
merupakan dasar dan kekuatan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang 
damai sejahtera. 
•       "Engkau mengandalkan kecantikanmu dan engkau seumpama bersundal dalam 
menganggarkan ketermasyhuranmu dan engkau menghamburkan persundalanmu kepada 
setiap orang yang lewat" (Yeh 16:15), demikian sindiran Tuhan kepada bangsa 
terpilih melalui nabi Yeheskiel. "Mengandalkan kecantikan untuk bersundal atau 
melacur' itulah sindirannya. Memang gadis cantik akan lebh mudah melacurkan 
diri dan pada umumnya akan cepat menjadi kaya raya akan uang dengan menjual 
dirinya alias melacur. Kecantikan merupakan anugerah Tuhan dan harus kita 
syukuri dan terima kasihi, jangan dikomersialkan entah dengan pelacuran atau 
iklan-iklan aneka macam produk. Kecantikan juga merupakan symbol apa yang baik 
indah, luhur dan mulia di dalam diri kita masing-masing, maka baiklah 
kecantikan hendaknya menjadi dorongan atau motivasi bagi kita semua, entah yang 
berssangkutan sendiri yang merasa cantik maupun orang lain, untuk semakin 
mendekatkan diri kita dengan Tuhan alias memuji dan memuliakan Tuhan. Dengan 
kata lain ketika melihat gadis atau perempuan cantik hendaknya dipuji 
seperlunya saja, tanpa dirayu atau disanjung-sanjung secara berlebihan. Kepada 
rekan-rekan gadis atau perempuan yang cantik dan pada umumnya menjadi perhatian 
banyak orang, kami harapkan menjadikan diri sebagai dorongan atau motivasi bagi 
mereka yang memperhatikan untuk semakin memuji, memuliakan, mengabdi dan 
menghormati Tuhan. Jauhkan atau hindari gaya atau cara hidup yang merangsang 
orang lain untuk berpikiran jahat atau berdosa; hendaknya kecantikan anda tidak 
menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk berdosa atau melakukan kejahatan. 
Jadikan kecantikan anda sebagai sarana atau wahana membangun, memperdalam dan 
memperkuat persaudaraan atau persahabatan sejati. 

" Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab 
TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku." Maka 
kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.Pada waktu 
itu kamu akan berkata: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, 
beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa 
nama-Nya tinggi luhur! Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; 
baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi" 
(Yes 12:2-5) Jakarta, 13 Agustus 2010


Kirim email ke