"Orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."
(Yeh 18:1-10.13b.30-32; Mat 19:13-15)

"Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan 
tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya 
memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, 
janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang 
seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas 
mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ" (Mat 19:13-15), demikian kutipan 
Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Maksimilianus Maria 
Kolbe, imam dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana 
sebagai berikut:
•       Anak-anak memang lebih suci daripada orangtuanya. Cirikhas seorang anak 
antara lain: terbuka dan siap sedia diperlakukan apa saja, yang menandakan 
keterbukaan terhadap kehendak Tuhan, maka Yesus bersabda "Biarkanlah anak-anak 
itu, jangan menghalangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti 
itulah yang empunya Kerajaan Sorga". St.Maksimilianus Maria Kolbe, yang kita 
rayakan hari ini berani mempersembahkan hidup kepada alias mati demi Tuhan 
karena anak-anak. Konon ada seorang bapak tahanan yang akan dihukum mati dan 
bapak tersebut memiliki banyak anak, maka Maria Kolbe, yang juga menjadi 
tahanan bersamanya, dengan rendah hati bersedia mengganti terhukum mati 
tersebut dan memang diizinkan; ia bersedia mati demi anak-anak yang membutuhkan 
cintakasih orangtuanya. Maka baiklah kami mengajak dan mengingatkan kita semua 
untuk senantiasa memperhatikan anak-anak secara memadai. Para orangtua maupun 
guru/pendidik hendaknya lebih takut jika anak-anak tidak tumbuh berkembang 
sebagai pribadi yang cerdas beriman daripada takut terhadap yang lain. Di dalam 
hidup beriman atau beragama yang dihormati, dilayani dan dimuliakan adalah 
mereka yang suci, maka karena anak-anak lebih suci daripada orangtua atau orang 
dewasa, kami berharap kepada orangtua atau orang dewasa untuk menghormati, 
melayani dan memuliakan anak-anak. Anak-anak, termasuk kita semua, ada dan 
dilahirkan serta dibesarkan dalam dan oleh `cintkasih dan kebebasan Injili', 
maka hendaknya mereka juga dibesarkan dan dididik dalam semangat `cintakasih 
dan kebebasan'. Cintakasih itu bebas alias tak terbatas oleh apapun, sedangkan 
kebebasan dibatasi oleh cintakasih. Dalam dan oleh cintakasih kita dapat 
berbuat apapun asal tidak melecehkan atau merendahkan harkat martabat manusia, 
yang diciptakan sesuai dengan gambar atau  citra Allah. 
•       "Kalau seseorang adalah orang benar dan ia melakukan keadilan dan 
kebenaran, dan ia tidak makan daging persembahan di atas gunung atau tidak 
melihat kepada berhala-berhala kaum Israel, tidak mencemari isteri sesamanya 
dan tidak menghampiri perempuan waktu bercemar kain, tidak menindas orang lain, 
ia mengembalikan gadaian orang, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang 
lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, tidak memungut bunga uang atau 
mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan, melakukan hukum yang benar di 
antara manusia dengan manusia, hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap mengikuti 
peraturan-Ku dengan berlaku setia -- ialah orang benar, dan ia pasti hidup, 
demikianlah firman Tuhan ALLAH" (Yeh 18:5-9). Kutipan dari Kitab Yeheskiel ini 
hemat saya cukup jelas sebagai ajakan atau perintah moral yang harus kita 
lakukan atau hayati dalam hidup sehari-hari. Maka marilah kita saling membantu 
atau bekerjasama dalam menghayati ajakan tersebut, antara lain jika ada saudara 
kita yang melanggar perintah tersebut hendaknya segera ditegor, diingatkan dan 
dibetulkan dengan rendah hati dan dalam cintakasih. Para orangtua kami harapkan 
dapat menjadi teladan penghayatan perintah tersebut bagi anak-anaknya di dalam 
keluarga, sehingga anak-anak sedini mungkin terbiasa untuk menjadi orang-orang 
benar, yang hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Allah. Ada 
aneka macam ketetapan dan peraturan Allah, yang kemudian diterjemahkan  kedalam 
aneka macam aturan dan tatanan hidup bersama, maka baiklah kita senantiasa 
berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan aturan atau tatanan yang terkait 
dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Sekali lagi 
secara khusus saya mengingatkan dan mengajak rekan-rekan suami-isteri untuk 
setia pada janji perkawinan, yaitu `saling mengasihi baik dalam untung maupun 
malang, sehat maupun sakit sampai mati'. 

"Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang 
teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu 
yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat 
yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan 
mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya 
orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu" (Mzm 51:12-15)
Jakarta, 14 Agustus 2010


Kirim email ke