RENCANAKU, BUKAN RENCANAMU (2) Menarik sekali topik tulisan yang diangkat oleh Pak Ajehendro, karena penderitaan sangat akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahkan topik ini boleh saya katakan luar biasa dan tidak ada habis-habisnya karena benar-benar telak menghunjam ke inti iman kita: Yesus yang Disalib adalah contoh terbesar penderitaan, padahal Ia sungguh tidak layak menerimanya, tapi toh dengan kasih yang tiada batasnya Ia melakukannya bukan untuk diri-Nya sendiri tapi untuk keselamatan manusia.
Sebelum membahas lebih jauh, izinkan saya ikut mengomentari tulisan Mas Ajehendro / Hendro (maaf saya singkat), yang lengkapnya ada setelah artikel ini. Setelah membaca paragraf pertama, saya pikir teman Mas Hendro bukannya tidak percaya kepada Tuhan. Ia tidak percaya kepada Tuhan yang sekaligus Maha Kuasa dan Maha Kasih, karena ada penderitaan di dunia. Jika Tuhan itu Maha Kuasa tapi tidak Maha Kasih, maka penderitaan masuk akal. Jika Tuhan itu Maha Kasih tapi tidak Maha Kuasa, penderitaan juga masuk akal. Pengalaman Mas Hendro membuktikan sebaliknya, bahwa Tuhan Maha Kuasa dan Maha Kasih, bahwa Ia peduli akan nasib manusia dan Ia bertindak. Amin. Mungkin perlu ditanyakan kepada teman Mas Hendro, apakah dia bisa percaya kepada Tuhan yang cuma Maha Kuasa dan tidak Maha Kasih? Menurut saya, ada 3 sebab penderitaan: 1. Karena diri sendiri (kelalaian), 2. Karena orang lain (kejahatan), 3. Bukan karena keduanya (misteri). Jika dilihat kasus per kasus, sangat mungkin penderitaan disebabkan karena kombinasi dari dua atau tiga faktor di atas. Masing-masing bisa didiskusikan secara terpisah agar lebih mudah dipahami. 1. Faktor kelalaian, misalnya karena kurang berusaha. Ini cocok dengan perumpamaan tentang talenta. Sang Tuan dalam perumpamaan tersebut sudah memberi kesempatan yang sama dan menuntut hasil sesuai dengan talenta yang diberikan-Nya. 2. Faktor kejahatan. Ada kalanya kita sudah cukup berusaha, tetapi karena dicurangi orang lain, kita tidak dapat hasil yang sepadan. Kesempatan kita diserobot orang, dll yang contohnya banyak sekali di Indonesia zaman sekarang. 3. Faktor misteri. Biasanya karena bencana2 yang bukan karena ulah manusia, tsunami, gempa bumi, dll. Atau karena pilihan sendiri demi kebaikan orang lain, seperti yang dilakukan Yesus. Penderitaan karena faktor 1 (kelalaian), hampir semua orang dapat mengerti. Penderitaan karena faktor ke-2 (kejahatan), menyebabkan orang mempertanyakan ke-Maha Kuasa-an Tuhan, di mana Ia seakan-akan tidak mampu mencegah kejahatan. Namun faktor ke-3 menyebabkan skandal besar, karena seakan-akan Tuhan sendirilah yang menyebabkan penderitaan, alias Tuhan tanpa Kasih. Maha Kuasa tapi tanpa Kasih, alangkah mengerikan Tuhan seperti itu. Marilah kita mulai diskusi tentang ini. Saya mengundang Romo, rekan-rekan semilis, dan siapa saja untuk berdiskusi. Semoga ini lebih memperkuat iman kita. Dominus vobis cum, Leo Rijadi NB: Salah satu buku yang terbaik mengenai penderitaan karena mudah dipahami adalah "Making Sense Out of Suffering" oleh Peter Kreeft, seorang profesor filsafat dari Boston College. ============================================================================ PREVIOUS EMAIL: RENCANAKU, BUKAN RENCANAMU Seorang teman yang tidak percaya kepada Tuhan memberi alasan mengapa ia tidak percaya. Katanya, kalau Tuhan itu ada dan Maha Kasih, mengapa ada orang sakit dan banyak orang susah hidupnya? Saya cukup tercenung mendengar pernyataan ini, karena pengalaman hidup saya memberi banyak bukti keterlibatan Tuhan dan kasih-Nya. Ia berpendapat bahwa kalau Tuhan itu ada dan Maha Kasih, niscaya Ia akan menyediakan semuanya yang baik, dan manusia tinggal menikmatinya. Memang tidak salah, rencana Tuhan itu baik adanya. Karena kasihnya maka manusia diciptakan serupa dengan citra-Nya. Manusia diberi akal budi dan kemampuan untuk menentukan pilihannya. Karena ada kebebasan untuk memilih dan menentukan jalan hidup inilah maka manusia jadi bermacam-macam. Ada yang berkelimpahan, ada pula yang berkekurangan. Ada yang berilmu karena rajin belajar, ada yang biasa-biasa saja. Ada yang jujur karena yakin kejujuran itu baik, ada pula yang culas karena tidak yakin bahwa kejujuran akan membawa mereka ke kebahagiaan. Ada berbagai macam bakat dan kepandaian. Ada orang yang hidupnya bahagia, ada juga yang hidupnya menderita. Semuanya itu merupakan akibat dari pilihan masing-masing orang untuk menjalani hidupnya, yang juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan dan pengaruh-pengaruh orang lain di sekitar kehidupannya. Kalau kita meneropong kembali perjalanan hidup kita sendiri, maka secara jujur harus diakui bahwa banyak penderitaan kita itu disebabkan oleh tindakan kita yang salah di waktu yang lalu. Misalnya, penyakit-penyakit jantung, strok, darah tinggi, diabetes, ginjal, liver dan paru-paru yang di derita sekarang ini disebabkan oleh pola makan yang salah di waktu lalu. Pola hidup yang salah karena banyak makan enak tapi kurang olah raga. Banyak merokok hanya untuk kenikmatan sebentar. Banyak kesulitan hidup yang kita hadapi sekarang ini akibat tindakan kita di masa lalu. Sulit cari kerja karena dulu kurang serius belajar sehingga kemampuan kita terbatas. Kurang berhasil di dalam berwira-usaha karena kurang tekun dan cepat bosan. Kegagalan kita ini bukan karena Tuhan, tetapi lebih karena tindakan kita sendiri. Tuhan menyertai kita Kalau semua keadaan kita sekarang ini merupakan akibat tindakan masa lalu kita, apakah benar-benar Tuhan tidak berperan di dalam hidup kita? Dalam perjalanan hidup ini saya sering mengalami keadaan-keadaan yang membuat putus asa. Sepertinya jalan sudah buntu dan saya menyerah, berserah diri kepada Tuhan dan membiarkan semuanya berjalan dengan sendirinya. Anehnya, tiba-tiba ada penolong yang membantu sehingga masalah pelik yang saya hadapi itu tiba-tiba sirna. Anehnya lagi, jalan keluar itu adalah hal-hal biasa yang sebelumnya tak terpikirkan. Contohnya, suatu hari ketika saya berusaha catering dan melayani beberapa perusahaan yang kebetulan pembayarannya lama. Hari itu adalah hari Sabtu yang biasanya merupakan hari gajian bagi karyawan yang bekerja harian. Jadi, saya harus menyiapkan uang untuk gajian sore itu. Tapi sialnya dari pagi sampai siang saya tidak berhasil menagih dan mendapatkan uang sama sekali. Cari pinjaman pun gagal. Akhirnya saya hanya bisa berserah diri kepada Tuhan dan berharap Tuhan yang akan menuntun saya keluar dari kesulitan ini. Ketika saya sudah pasrah, tiba-tiba datang seorang Bapak yang memesan makanan untuk syukuran besok siang, dan membayar lunas semua pesanannya. Thanks God! Saya lolos dari tuntutan karyawan yang menunggu gajian dan mendapat rejeki tambahan yang tiba-tiba. Tuhan menyertai saya dan menolong ketika saya dalam kesulitan. Banyak kejadian lain dalam kehidupan sehari-hari yang saya percayai sebagai campur tangan Tuhan. Dengan penuh kepercayaan kita menaruh harapan kepada Tuhan yang Maha Kasih. Rencana-Nya bukan rencana kita, sehingga sering kita tidak menyadarinya. - Ajehendro - ________________________________ From: kris <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sun, August 22, 2010 3:20:19 AM Subject: [StThomas_Kelapa2] Artikel Retret Kursus Evangelisasi Pribadi II Paroki Santo Thomas RENCANAKU, BUKAN RENCANAMU Retret Kursus Evangelisasi Pribadi II Paroki Santo Thomas [foto]
