"Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?"
(1Kor 4:6b-15; Luk 6:1-5)

"Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya 
memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan 
tangannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata: "Mengapa kamu berbuat sesuatu 
yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?"Lalu Yesus menjawab mereka: "Tidakkah 
kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya 
lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu 
memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu 
tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?" Kata Yesus lagi kepada mereka: 
"Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat." (Luk 6:1-5), demikian kutipan 
Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Orang-orang Farisi memang begitu berpegang teguh pada tata tertib yang 
berlaku, mentaati dan melaksanakan apa yang tertulis apa adanya, tanpa 
memperhatikan semangat atau jiwa tata tertib tersebut. Dasar dan tujuan 
pembuatan dan pemberlakuan tata tertib adalah cintakasih, dengan kata 
cintakasih mendasari atau mengatasi tata tertib. Yang utama dan pertama-tama 
dihayati dan dilaksanakan adalah cinta kasih, itulah arti dari "Anak Manusia 
adalah Tuhan atas hari Sabat". Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak 
kita semua untuk mawas diri: apakah cinta kasih menjiwai cara hidup dan cara 
bertindak kita dimanapun dan kapanpun. Jika kita hidup dan bertindak 
berdasarkan atau dijiwai oleh cinta kasih hendaknya tidak was-was jika terpaksa 
hidup dan bertndak tidak sesuai/persis pada tata tertib yang berlaku. Cinta 
kasih itu bebas alias tanpa batas, sedangkan kebebasan dibatasi cinta kasih, 
artiinya kita dapat bertindak apapun asal tidak melecehkan harkat martabat 
manusia, entah diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita yang kena dampak 
tindakan kita. Sebagai contoh konkret adalah suami-isteri yang saling mengasihi 
dapat berbuat apapun di kamar ketika sedang berduaan memadu kasih. Hendaknya 
kita mengasihi tanpa pandang bulu, SARA, pangkat, jabatan atau kedudukan. Jika 
ada orang yang sungguh membutuhkan cinta kasih, entah suku, agama atau ras 
apapun hendaknya ditanggapi secara positif. Kami berharap para pemimpin, 
atasan, orangtua atau pemuka hidup bersama dapat menjadi teladan dalam 
penghayatan atau pelaksanaan tata tertib yang dijiwai oleh cintakasih. Ingat 
dan hayati ajaran cinta kasih dari Paulus ini, yaitu "Kasih itu sabar; kasih 
itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. 
Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita 
karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, 
percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala 
sesuatu" (1Kor 13:4-7).
•       "Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami 
lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina. Sampai pada saat ini 
kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan 
pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami 
dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; 
kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala 
sesuatu, sampai pada saat ini" (1Kor 4:10-13), demikian kesaksian iman Paulus. 
Kesaksian iman Paulus ini kiranya baik menjadi bahan bagi kita untuk mawas 
diri: sejauh mana kita sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, hidup 
dan bertindak seperti Paulus tersebut, misalnya ketika dimaki memberkati, 
ketika dianiaya disikapi dengan sabar, ketika difitnah ditanggapi dengan ramah, 
dan siap sedia dinilai sebagai sampah masyarakat. Setia pada iman tidak akan 
terlepas dari aneka macam bentuk caci maki, fitnah maupun aniaya, entah secara 
jasmani maupun spiritual. Ingatlah dan hayati bahwa derita yang lahir dari 
kesetiaan hidup beriman adalah jalan keselamatan, jalan untuk hidup sejahtera 
dan damai sejati. Para ibu kiranya memiliki pengalaman penderitaan yang lahir 
dari kesetiaan sebagai seorang ibu yang baik bagi anak-anaknya: bukankah 
anak-anak sering merepotkan ibu dan ibu menanggapinya dengan sabar, ramah dan 
penuh berkat?. Maka dengan rendah hati kami berharap kepada para ibu agar dapat 
menjadi saksi atau teladan dalam hal kesabaran, keramahan dan kemurahan hati 
atau berkat ketika sedang menderita atau mengalami cobaan hidup. Keutamaan 
kesabaran dan keramahan pada saat ini sungguh mendesak untuk dihayati dan 
disebarluaskan dalam kehidupan bersama dimanapun dan kapanpun. 

"TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala 
perbuatan-Nya. TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada 
setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan. Ia melakukan kehendak 
orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan 
menyelamatkan mereka.TUHAN menjaga semua orang yang mengasihi-Nya, tetapi semua 
orang fasik akan dibinasakan-Nya" (Mzm 145:17-20). 
Jakarta, 4 September 2010     .  


Kirim email ke