Mg Biasa XXIII:  Keb 9:13-18; Flm 9b-10.12-17; Luk 14:25-33
"Yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi 
murid-Ku." 
Akhir-akhir ini kita dengarkan melalui aneka informasi bahwa kesetiaan hidup 
terpanggil, entah menjadi imam, bruder atau suster maupun hidup berkeluarga 
sebagai suami-isteri cukup memprihatinkan. Ketidak-setiaan pada panggilan 
tersebut antara lain karena godaan atau rayuan kenikmatan seksual alias 
hubungan seksual yang begitu menguasai cara hidup dan cara bertindak banyak 
orang. Nafsu atau gairah seksual begitu mendominasi semangat maupun gaya hidup, 
yang tidak lain demi kenikmatan atau kepuasan diri sendiri. Bahkan dari aneka 
info yang dapat saya lihat atau peroleh dari situs-situs di internet ada kasus 
yang sungguh memprihatinkan, yaitu ada sementara gadis/perawan dengan sadar dan 
sengaja menjual keperawanannya kepada para hidung belang yang bersedia membayar 
mahal, demi kebutuhan uang atau ekonomi. Di satu sisi ada orang yang sungguh 
menderita kekurangan dalam hal ekonomi atau uang, dan di sisi lain ada orang 
berfoya-foya dengan uang demi kenikmatan seksual, untuk memenuhi gairah atau 
nafsu seksual yang begitu kuat dan menggebu-gebu. Uang dan seks memang saling 
kait mengait dan rasanya cukup banyak orang lebih dikuasai atau dijiwai oleh 
uang atau seks, yang tidak lain menunjukkan sikap mental.egois, dimana orang 
hanya mengikuti keinginan sendiri, pribadi, hidup dan bertindak seenaknya 
sendiri dan tidak memiliki kepekaan sosial sedikitpun. 

"Yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi 
murid-Ku." 
(Luk 14:33) 
"Ambillah ya Tuhan kebebasanku, kehendakku budi ingatanku. Pimpinlah diriku dan 
Kau kuasai
Perintahlah akan kutaati. Hanya rahmat dan kasih dariMu, yang kumohon menjadi 
milikku
Hanya rahmat dan kasih dariMu, berikanlah menjadi milikku. Lihatlah semua yang 
ada padaku, kuhaturkan menjadi milikMu.  Pimpinlah diriku dan Kau kuasai.  
Perintahlah akan kutaati" (St.Ignatius Loyola). Doa dari St. Ignatius Loyola 
ini kiranya dapat dikatakan sebagai perwujudan inti sabda Yesus hari ini, 
antara lain "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, 
ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, 
bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak 
memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku" (Luk 
14:26-27).  Maka baiklah sabda Yesus ini kita renungkan dan hayati dalam hidup 
kita sehari-hari sesuai dengan panggilan, tugas pengutusan atau pekerjaan kita 
masing-masing.

Sebagai orang yang terpanggil kita diharapkan hidup dan bertindak sesuai dengan 
semangat atau spiritualitas cara hidup baru yang telah kita pilih dengan bebas, 
entah sebagai suami-isteri, imam, bruder atau suster. Maka pada kesempatan ini 
kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri sejauh mana kita setia pada 
spiritualitas cara hidup baru atau panggilan kita masing-masing, dan 
perkenankan di bawah ini saya sampaikan bantuan sederhana, mungkin dapat 
membantu dalam mawas diri:
1)      Suami-isteri: Yang menjadi dasar dan pengikat hubungan serta hidup 
bersama suami-isteri adalah cintakasih, sebagaimana diikrarkan bersama ketika 
mengawali cara hidup baru, sebagai suami-isteri, yaitu `saling mengasihi baik 
dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati'. Dengan menjadi 
suami-isteri, apakah bapak-ibu, kiranya tak mungkin hidup dan bertindak hanya 
mengikuti keinginan atau kemauan pribadi jika mendambakan hidup bahagia, damai 
sejahtera. Dalam saling mengasihi dibutuhkan pengorbanan, sebagaimana Yesus 
mengasihi dunia, demi keselamatan dunia dan seluruh umat manusia, telah 
mengorbankan atau mempersembahkan Diri di kayu salib. Salah satu tanda dimana 
orang saling mengasihi adalah saling boros waktu dan tenaga, dan dengan 
demikian berarti juga saling berkorban. Maka kami harapkan anda berdua, suami 
dan isteri, untuk saling memboroskan waktu dan tenaga bagi pasangannya.     
2)      Bruder/suster atau anggota Lembaga Hidup Bakti: Awal cara hidup para 
anggota Lembaga Hidup Bakti antara lain ditandai dengan `kaul' atau 
`serah-setia', dimana orang menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui 
Lembaga Hidup Bakti yang ia masuki. Yang diserahkan antara lain apa-apa yang 
terkait atau ada hubungannya dengan keperawanan, kemiskinan dan ketaatan. 
Kesetiaan pada penyerahan diri ini butuh matiraga/lakutapa maupun pengorbanan. 
Apa saja yang telah diserahkan berarti bukan lagi menjadi miliknya dan jika 
ingin menggunakan harus minta izin kepada Tuhan melalui pembesar yang terkait. 
Keperawanan erat kaitannya dengan kenikmatan seksual maupun kehangatan kasih 
sebagaimana terjadi antar laki-laki dan perempuan yang menjadi suami-isteri. 
Setia pada panggilan berarti tidak mencari-cari atau memberi kesempatan 
pemenuhan kenikmatan seksual maupun kehangatan kasih tersebut, melainkan 
kenikmatan dan kehangatan bersama Tuhan. Melanggar keperawanan maupun ketaatan 
mungkin sulit dilihat, dan yang paling mudah dilihat adalah pelanggaran 
kemiskinan. Namun ketika terjadi pelanggaran kemiskinan pada umumnya 
keperawanan maupun ketaatan juga telah repuh. Kepada para anggota Lembaga Hidup 
Bakti kami ajak untuk hidup dan bertindak dengan sederhana, karena dalam 
kesederhanaan kiranya kita terbantu untuk setia pada panggilan kita.       
3)      Imam.  Menjadi imam antara lain berfungsi sebagai `penyalur': penyalur 
rahmat atau berkat Tuhan bagi umat manusia dan doa, dambaan, keluh kesah, 
syukur, pujian dst.. dari umat manusia kepada Tuhan. Maka kami berharap kepada 
rekan-rekan imam untuk setia pada fungsi penyalur tersebut, yang antara lain 
ditandai oleh keutamaan-keutamaan seperti jujur, tranparant, rela berkoban, 
tidak korupsi dalam bentuk apapun, siap sedia menderita bagi umat manusia, 
dst.. Penyalur yang baik juga tidak pernah menyakiti orang lain. 

"Siapa gerangan sampai mengenal kehendak-Mu, kalau Engkau sendiri tidak 
menganugerahkan kebijaksanaan, dan jika Roh Kudus-Mu dari atas tidak Kauutus?"
(Keb 9:17)   
Kutipan dari kitab Kebijaksanaan di atas ini kiranya dapat menjadi acuan bagi 
kita semua dalam menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas pengutusan. 
Marilah kita sadari dan hayati bahwa aneka macam bentuk kebijakan yang kita 
terima maupun lakukan adalah anugerah Tuhan, karya Roh Kudus dalam diri kita 
yang lemah dan rapuh ini. Segala macam jenis kekayaan yang kita miliki dan 
kuasai sampai saat ini adalah anugerah Tuhan, misalnya kepandaian, kecerdasan, 
keterampilan, kesehatan, ketampanan atau kecantikan, harta benda atau uang, 
kehormatan duniawi dst.. Karena semuanya adalah anugerah Tuhan maka selayaknya 
kita fungsikan atau gunakan sesuai dengan kehendak Tuhan, demi keselamatan jiwa 
kita sendiri serta siapapun yang kita layani atau kena dampak cara hidup dan 
cara bertindak kita. 

Tanda bahwa Roh Kudus dianugerahkan kepada kita, hidup dan berkarya dalam diri 
kita, maka cara hidup dan cara bertindak kita dijiwai oleh Roh sehingga 
menghasilkan buah-buah atau keutamaan-keutamaan seperti "kasih, sukacita, damai 
sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, 
penguasaan diri." (Gal 5:22-23). Maka jika kita semua hidup dari dan oleh Roh 
Kudus berarti kita saling mengasihi, sabar, bermurah hati, setia, lemah lembuh 
dan rendah hati. Kita semua setia pada panggilan kita masing-masing dan dengan 
demikian hidup bersama sungguh merupakan tanda  hidup bahagia dan damai 
sejahtera selama-lamanya di sorga. 

"Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: "Kembalilah, hai 
anak-anak manusia!" Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, 
apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam. Engkau 
menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh,  di 
waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu." 
(Mzm 90:3-6) 
Jakarta, 5 September 2010


Kirim email ke