Orangtua dan Pendidik Diminta Hati-hati, "Jangan Berucap Kamu Anak Bodoh"
JLN. AMBON, (GM).- Para orangtua dan tenaga pendidik diharapkan tidak salah menyampaikan "pesan" kepada anak, karena akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan otak anak pada masa mendatang. Hal itu dikemukakan Dekan Bidang Akademik School of Business & Management Institut Teknologi Bandung (SBM-ITB), Prof. Dr. Jann Hidajat Tjakraatmadja, M.S.I.E., dalam Seminar Plan Your Future yang diselenggarakan Komunitas Belajar IZI di Jln. Ambon 19 Bandung, Sabtu (6/8). Dalam seminar yang dihadiri kira-kira 50 tenaga orang pendidik, para orangtua dan pelajar SMA itu, tampil pula pembicara lainnya yaitu Ir. Agus Nggermanto, seorang konsultan pendidikan dan pembelajaran kreatif, pakar otak kanan dan konsultan tetap IZI. Menurut Jann, yang dimaksud dengan "pesan" adalah berbagai bentuk maupun cara orangtua atau tenaga pendidik menyampaikan sesuatu pada anak. "Misalnya bila ada orangtua atau tenaga pendidik yang mengecap seorang anak bodoh karena mendapat nilai jelek, hal itu akan sangat berpengaruh terhadap dirinya," ungkapnya. Apalagi jika perkataan itu diulangi terus setiap anak mendapat nilai jelek, tambah Jann, bukan tidak mungkin lama kelamaan anak yang sering mendengar kata tersebut, memang benar-benar akan menjadi bodoh. Sebab, semua itu langsung terekam dalam otak anak. Ia mengakui, bila ini terjadi dibutuhkan waktu yang lama bagi anak tersebut untuk dapat normal kembali. "Tentu kita tidak ingin hal ini terjadi. Sebab, selain akan merugikan pertumbuhan dan perkembangan anak, juga akan merugikan orangtuanya," jelasnya. Pada bagian lain Jann menyebutkan, sasaran dari proses belajar adalah bagaimana mengubah pengetahuan, keterampilan dan sikap, melalui peningkatan intellectual capital (kecerdasan otak kiri) maupun meningkatkan psycap (kecerdasan otak kanan). Menurut Jann, untuk kepentingan karier seseorang, kecerdasan otak kiri hanya dibutuhkan kira-kira 20% bagi dunia kerja, sedangkan kecerdasan otak kanan dibutuhkan kira-kira 80% bagi dunia kerja. "Sayangnya, institusi pendidikan kita selama ini terkesan lebih mementingkan kecerdasan otak kiri saja, yang notabene hanya 20% dibutuhkan dunia kerja," ujarnya. Paradigma semacam ini, lanjut Jann, sudah seharusnya mengalami perubahan. Artinya, bagaimana agar pendidikan di Indonesia lebih meningkatkan kecerdasan otak kanan yang berisikan harapan (hope), optimisme, daya tahan terhadap tekanan (resilience), serta keyakinan (confidence) dan berpikir positif (positive thinking). Sementara itu, dalam pemaparannya, Agus Ngermanto mengemukakan, persoalan bagaimana mengoptimalkan kecerdasan otak kanan manusia, memiliki peranan penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang andal. "Meski untuk melakukan hal itu bukan pekerjaan yang gampang, para pakar di negara-negara maju sudah mampu melakukan hal itu dengan baik. Hal serupa tentunya bisa pula dilakukan di negara kita," ungkapnya optimis. ( B.34)** [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hn174ld/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705019888:TM/Y=YAHOO/EXP=1123564627/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/">What would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer in the arts today at Network for Good</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> * http://www.sarikata.com/ * http://www.sarikata.biz/ * http://www.sarikata.net/ * Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sarikata/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
