Kemerdekaan Kita Masih Hampa?
Oleh : Ahmad Tohari

Seminggu sebelum perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus 2005 banyak warga atas 
perintah RT atau kelurahan sudah tampak mulai menyambutnya. Gapura-gapura 
atau sekadar patok bambu yang yang dicat merah-putih menghias pintu-pintu 
halaman. Tiang bendera yang bercat putih dan masih kosong terpancang tegak 
di sana. Dan di kampung ada pemuda membuat patung kain, bertopi, diberi kaca 
mata hitam, tapi tampak berdiri tanpa daya pada tiang yang menopangnya. Di 
dada patung yang lebih mengesankan hantu itu tergantung kertas karton yang 
bertuliskan ''korban narkoba''. 

Begitulah orang kampung bersiap menyambut hari besar, hari kemerdekaan RI. 
Asal ada warna merah putih dan slogan kosong, cukuplah. Nanti pada malam 
hari H mereka akan berkumpul di rumah RT atau di mushala untuk bersama-sama 
menyelenggarakan renungan kemerdekaan. Pagi harinya anak-anak sekolah, 
pegawai, perangkat desa, beriringan pergi ke tanah lapang untuk menonton 
upacara yang sudah baku dan basi sambil mendengar Pak Lurah atau Pak Camat 
membacakan teks pidato Bupati atau Gubernur. 

Sesudah itu usailah. Dan hal itu terjadi sejak dulu hingga nanti. Rakyat 
kecil hanya memaknai hari kemerdekaan sebagai upacara rutin yang kering dan 
begitu-begitu saja. Bahkan di berbagai tempat rakyat miskin selalu terbebani 
ketika mereka harus membayar kontribusi biaya perayaan agustusan. Banyak di 
antara mereka harus mengurangi uang belanja yang sudah terlalu minim demi 
perayaan kemerdekaan yang tak pernah punya arti apapun bagi mereka. 

Malah tentang makna kemerdekaan sebenarnya mereka tidak tahu dengan jelas. 
Sebatas yang mereka pahami, kemerdekaan adalah lenyapnya penjajah Belanda 
dan Jepang dari Indonesia. Atau berdirinya pemerintah yang dipegang oleh 
bangsa sendiri. Sedangkan berkah kemerdekaan yang seharusnya datang, 
kebanyakan mereka tidak tahu. Mereka tidak mengerti bahwa setelah merdeka 
dan otomatis menjadi warga negara RI mereka mempunyai hak-hak sipil yang 
diatur jelas dalam undang-undang, sebanding dengan kewajibannya. Orang 
kampung tidak banyak yang tahu bahwa setelah membayar pajak PBB -- inilah 
pajak yang paling umum -- selain pajak penerangan jalan, restribusi hajatan, 
dan sebagainya, mereka berhak menuntut hak berupa layanan sipil seperti 
pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan lain-lain. 

Dan yang lebih mendasar; sebagian besar warga negeri ini tidak atau kurang 
mengerti dirinya adalah sumber dan pemilik sah kekuasaan, baik legislatif, 
eksekutif, maupun yudikatif. Kekuasaan itu mereka amanatkan setiap lima 
tahun melalui pemilu. Dengan demikian sesungguhnya setiap warga negara punya 
hak penuh untuk mengontrol jalannya kekuasaan. Sayangnya, lembaga yang 
diberi amanat untuk menjalankan fungsi kontrol itu -- DPR/DPRD -- mandul 
tapi bisa lacur. Lembaga yang sayangnya sudah telanjur mendapat julukan 
sebagai lembaga wakil rakyat itu -- seperti memanfaatkan pengetahuan rakyat 
yang rendah -- untuk bersama-sama dengan lembaga eksekutif dan yudikatif 
membangun the ruling class, kelompok penguasa, yang menjadikan rakyat 
sebagai objek kekuasaan mereka. 

Mungkin karena kesadaran menjadi kelompok penguasa sudah berurat berakar 
(karena berkesambungan dengan kebudayaan feodal?) mereka seperti tak peduli 
dengan kewajiban yang sudah lama mereka tinggalkan. Yakni menciptakan 
keadilan, rasa aman, serta kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. 
Sebab nyatanya, sesudah 60 tahun meredeka 52 persen warga negara masih amat 
miskin, angka pengangguran demikian tinggi, jalur pendidikan nyaris tertutup 
aksesnya bagi orang miskin, pelayanan kesehatan amat rendah, demikan juga 
tingkat keamanan umum. 

Pada sisi lain orang bisa melihat (dipameri) terjadinya akumulasi kemakmuran 
pada kelompok pelaksana kekuasaan baik eksekutif, legislatif, maupun 
yudikatif dalam tingkat yang luar biasa. Begitulah, maka bila mayoritas 
warga negara merasa kehidupan mereka belum merdeka, mamang benar.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h5262n4/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705019888:TM/Y=YAHOO/EXP=1123564663/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/";>What
 would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer 
in the arts today at Network for Good</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

* http://www.sarikata.com/ * http://www.sarikata.biz/ * 
http://www.sarikata.net/ * 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke