ikutan aah..
kalo di rumahQ, didaerah bekasi utara (kaliabang tepatnya)
masih terdapat sawah, walaupun cuma sepetak kecil.
sedangkan pohon besar sudah tidak ada lagi 
karena telah berganti dengan rumah-rumah tembok
yang hampir tidak mempunyai halaman yang tersisa untuk
tumbuhnya pohon (sama kayak bung hasto)
 
akan tetapi beberapa jenis burung masih sering terlihat seliweran 
yang paling banyak tentu saja si burger Passer montanus, 1 atau 2 individu 
kutilang Pycnonotus aurigaster saja yang sangat jarang terlihat
(ditangkepin terus buat dikandangin). banyak Lonchura punctulata dan Lonchura 
leucogastroides yang terlihat kalo lagi panen padi
 
kemudian Nectarinia jugularis dan Dicaeum trochileum yang masih setia hinggap 
di pohon jambu yang sedang berbunga dan berbenalu. Prinia familiaris yang 
bunyinya juga kadang-
kadang terdengar di semak2 deket sawah Arachnothera longirostra yang 
kadang-kadang nongol di kebon pisang. Collocalia linchi yang sering terlihat 
terbang ga teratur, Hirundo tahitica yang cuma bulan-bulan tertentu doang 
nongolnya.
kalo malem yang kadang-kadang nongol and bersuara cuma si Caprimulgus affinis 
doang
 
kalo di sawah terkadang masih terlihat Egretta garzetta, Ardeola speciosa and 
Nycticorax nycticorax walaupun jarang. 
n baru seminggu kemarin nemu Gallirallus striatus yang sedang mengendap-endap 
di kerimbunan kembang tasbih (Canna indica), tapi karna ga punya kamera, ga 
sempet di abadikan dey hiks...(T_T)

sekian segitu aja dulu yang lagi diinget
ada yang rumahnya di bekasi juga?
--- Pada Sel, 8/7/08, Kutilang Indonesia <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

Dari: Kutilang Indonesia <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: Re: [SBI-InFo] Re: foto rumah
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 8 Juli, 2008, 4:26 PM






Salam semua.....
wah kalau setiap satu minggu ada 3 komentar baru.....bagus juga nih...kira-kira 
nanti setelah satu tahun bakalan ada 144 anggota milist yang cerita tentang 
burung yang ada disekitar rumahnya.... ..

atau jangan-jangan tragedi yang dialami mas Hasto itu juga terjadi pada semua 
anggota milist ya.....? jangan-jangan saat ini burung lebih nyaman di kota 
daripada di desa....atau paling tidak kota yang agak di desa (sub urban) kali 
ya...??..... .walah semengerikan inikah ? mendingan ngeri malem-malem dengerin 
suara "kukuk beluk" atau dengerin suara motor dan mobil yang setiap saat 
melintas.... ?.

Bang Iqbal....wah. ..nice pick nih....trimakasih. ...disekitar rumah bang Iqbal 
masih ada layang-layang asia, bentet, caladi ulam, sama bondol ya..... 
wuih...asyik bener nih rumahnya.... .

Bang Ferry...makasih info teknik pemeliharaannya. ...

mas Hasto trimakasih cerita masa kecilnya.... .bagus banget !!....

masih ada yang lain ? monggo silahkan terus berbagi..... .

ige



2008/7/5 Hasto P Irawan <hpirawan2005@ yahoo.com>:











Sebelomnya gw mo komentar soal foto bango tongtong kang bas, kayaknya itu bango 
di kebun binatang kaleee.. soalnya sekelilingnya rumput rapi, seperti bukan 
habitat bangau:)
 
Burung2 yg ada di sekitar rumah?? Oke deh gw mo cerita burung2 di sekitar rumah 
gw (tepatnya rumah ortu gw) di kampung di pinggiran sebuah kota kecil di 
Jateng, secara gw sekarang tinggal di jakarta. Rumah kuno dengan delapan kamar 
yg dulu pernah ditinggali seluruh anggota keluarga yg berjumlah 14 orang 
(bapak-ibu, sembilan anak, dua pembantu, dan satu orang adik ibu yg tinggal 
bersama kami)
 
Gw mulai dari burung2 yg kecil yaa..
Di kebun samping rumah, ada pohon kelapa genjah, di situ banyak bergelantungan 
sarang manyar (Ploceus manyar), yg dibuat dari anyaman rumput bulat seperti 
bola yg tertutup di atas, dengan corong tempat keluar masuk yg memanjang ke 
bawah. Satu pohon kelapa itu biasanya ada 4-5 sarang. Trocokan (Pycnonotus 
goiavier) sesekali singgah, tapi tak bersarang di kebun itu. 
 
Di halaman depan, ada cemara hias kerdil. Kalau pagi, burung2 bondol (Lonchura 
maja) riuh datang dan pergi karena bersarang di situ, dengan ketinggian cuma 3 
meteran dari tanah. Juga pipit jawa (Lonchura leicogastroides). 
 
DI pekarangan belakang, yg penuh dgn rumpun bambu dan pepohonan buah dan selalu 
teduh sepanjang siang, dimana juga terdapat kandang2 sapi dan kerbau, pohon 
sawo tua raksasa, anak2 seringkali bercanda memanggil si kepodang (Oriolus 
chinensis) yg dalam lidah lokal disebut "pudang". Anak2 akan berseru 
"pudang-pudang utange piro? (pudang utangnya berapa?)" Yg segera dijawab oleh 
si pudang dengan "pitungpuluh" (tujuh puluh), karena siulan si kepodang memang 
mirip ucapan "pitungpuluh" he he he...Kreatif juga si anak anak:). Seringkali 
juga, salah satu Kakak saya "mengunduh" anakan perkutut dari sarangnya di 
pucuk2 bambu yg tinggi untuk dilatih bersuara bagus, tapi selalu gagal. 
 
Ketika lewat tengah hari, suara panggilan kedasih (Cacomantis merulinus) dengan 
nadanya yg memilukan dan menyiratkan kesedihan itu, sering terdengar dari 
pekarangan belakang. Suara panggilannya yg khas itu memang bikin ngelangut dan 
sedih hati yg mendengarnya. itu sebabnya orang inggris menamakan si kedasih 
sebagai plaintive cuckoo alias si cuckoo yang sedih-murung (plaintive).
 
DI tepi kolam ikan gurame persis di belakang rumah, ada pohon nangka besar. 
pohon nangka itu hanya beberapa meter dari jendela kamar biasa aku tidur. Kalo 
malam, hampir selalu ada suara burung hantu (dalam lidah lokal disebut "kokok 
beluk"), yg bikin suasana malam jadi eerie dan sedikit sereem...hiiiiii. 
Sementara itu, dederuk jawa sering bertengger dikala siang di pelepah kelapa 
tinggi menjulang yg tumbuh di ujung timur kolam ikan. Di waktu2 tertentu yg 
jarang terjadi, beberapa burung gagak (Corvus macrorhynchos) yang nyaris 
sebesar elang juga berkelepakan di pelepahnya, berkaok2 riuh dengan suaranya yg 
serak dan buruk. Dan orang2 tua pun bilang bahwa itu pertanda akan datang 
berita buruk/kematian. 
 
Sepelemparan batu dari rumah, di kebun yg luas di sebelah timur rumah milik 
kakekku, dimana terdapat kuburan kuda milik keluarga, ada beberapa pokok bayur 
tinggi menjulang. di waktu2 tertentu yg jarang juga terjadi, elang hitam 
melayang2 rendah nyaris menyentuh pucuk2 bayur, mengintai ayam2 kampung piaraan 
penduduk. begitu rendahnya sehingga keliatan betapa besar dan gagahnya si 
elang, begitu mayestik, membuat kagum dan terpesona siapa pun yg memandangnya. 
sayapun sering terkesima memandangnya dar bawah. 
 
Kalau sudah begitu, biasanya ayam2 akan segera mengeluarkan teriakan2 aneh 
(alarming call) tanda ada bahaya dan segera berlarian berlindung ke bawah 
semak2 begitu terliat kelebat bayangan besar melayang di atas pucuk2 pepohonan. 
induk ayam riuh memanggil anak2nya berkumpul. 
 
Hmm betapa indahnya hidup di rumah berbagi tempat dengan burung2, apalagi 
burung2 sebesar gagak dan elang... dan kita tak perlu ke hutan atau daerah 
terpencil untuk melihatnya.. .
 
TAPIIIII, cerita di atas yg gw tulis itu bukan terjadi sekarang. itu semua 
terjadi waktu gw masih anak SD, puluhan tahun yg lalu, hiks! 
 
SEKARANG sudah begitu lama sejak terakhir kali burung2 itu hidup bersama kami. 
Puluhan tahun yang lalu mereka sudah lenyap. yg tersisa di kampung kami 
sekarang cuma beberapa burung gereja kurus jelek yg sesekali terlihat. bahkan 
pipit pun yg kecil sulit dijumpai. Apalagi gagak dan elang, keduanya sudah 
menjadi bagian dari sejarah yg tak mungkin kembali. Takkan ada keajaiban yg 
bisa mengembalikan mereka ke kampung kami, kecuali kalau ada mesin waktu untuk 
membawa kami kembali ke masa silam yg jauh dan nglangut itu. Hiks!
 
Sekarang bahkan jauh lebih mudah menemukan burung di metropolitan jakarta 
dibanding di kampung kami, bahkan trocokan sekalipun susah ditemui. padahal di 
jakarta, ketilang bisa dijumpai dengan mudah. 
 
Kebun di samping rumah tempat manyar dulu biasa bersarang, sekarang sudah jadi 
rumah. rumpun2 bambu yg teduh di pekarang belakang sudah lenyap, berganti 
dengan rumah2 yg terbuat dari tembok tapi jelek dan tidak estetis, khas negara 
dunia ketiga yg dishevelled dan rustic. Kolam ikan di belakang rumah sudah lama 
kering karena sumber air dari sawah di pinggir desa juga mengering seiring 
dengan hilangnya sawah. pohon nangka itu sudah tua dan mati. pucuk2 bayur 
berganti dengan antena TV dan parabola, sementara hamparan teduh oleh pepohonan 
di bawahnya sekarang sudah tertutup rumah2 sepupu gw. Tak ada lagi tempat untuk 
burung. dan tak ada lagi pohon2. di mana2 tembok dan genteng. Kalopun ada 
pohon, cuma pohon2 jambu ato rambutan cangkokan yg rendah dan pendek. burung 
pun tak mungkin mau bersarang di situ.
 
Sementara itu, jauh di pinggiran desa, sawah2 yg dulu hijau sudah jadi kompleks 
perumahan kelas bawah. Tak seperti kompleks perumahan mewah di jakarta yg 
biasanya menyisakan jalur untuk ditanami pohon di pinggiran jalan2nya, di 
kompleks perumahan kelas bawah kampung kami tak ada tempat tersisa untuk 
menanam pohon. 
 
Kalopun ada pohon, pohon2 itu selalu tumbuh kurus-kerdil dan jelek, dengan 
daun2 yg tumbuh jauh lebih kecil dari yg seharusnya karena kekurangan nutrisi. 
warnanya pun kusam pucat. Sebabnya, tanah tempat mereka tumbuh dulunya adalah 
bekas sawah, yg sudah berabad2 "dieksploitasi", sehingga sudah kehabisan unsur 
haranya. Tak seperti di jakarta, dimana pohon2 cenderung tumbuh besar dan subur 
meskipun akar2 mereka terkungkung, kepentok sana-sini oleh pondasi jalan, 
pondasi bangunan, terpotong oleh proyek selokan dan got, karena tanahnya bukan 
bekas sawah. Dan burung2 justru lebih banyak di metropolitan jakarta ketimbang 
di kampung kami. Sebuah ironi???? Mungkin.
 
Anak2 yg sekarang tumbuh di kampung kami tak lagi bisa bercanda dengan 
kepodang, mengunduh sarang bondol dari pohon untuk diberi makan anaknya yg 
masih cindil (walo biasanya akhirnya mati karena kurang gizi lantaran cuma 
dikasih makan tepung beras dicampur air), atau melihat gagak dan gagahnya 
elang. Sekarang anak2 itu cuma bisa dengar cerita tentang mereka, atau melihat 
gambar-gambar mereka di buku cerita dan televisi. Hiks.
 
Hasto P. Irawan

 


 
 
--- On Wed, 7/2/08, Kutilang Indonesia <kutilang.indonesia@ gmail.com> wrote:

From: Kutilang Indonesia <kutilang.indonesia@ gmail.com>

Subject: Re: [SBI-InFo] Re: foto rumah
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Cc: kadangkukila@ yahoogroups. com
Date: Wednesday, July 2, 2008, 9:53 AM




Setelah hampir lebih dari satu minggu ternyata baru 3 orang yang punya cerita 
tentang burung disekitar rumah, Kang Dwi malah nyaranin riset....bagus juga nih 
temanya....trimakas ih ya buat kawan-kawan yang sudah berbagi cerita....


buat Nonie...itu rumah di jakarte' ye ? buat mbak Wulan...wah pasti mess nya di 
deket hutan ya....?

nah, menarik ini dari pak Bas...bayangin kalau jaman dulu, dimana bangau 
tong-tong sama (mungkin) jalak uren berkeliaran disekitar rumah ini dapat 
terulang kembali sekarang.... .kelihatan kan dari jenis-jenis yang sekarang 
berkeliaran disekitar rumah, adalah jenis yang kecil-kecil. ...apa mengkeret ya 
? karna global warming ? halah...wagu. ....hipotesanya. ...!!

monggo-monggo dilanjut kalau masih ada yang mau urun cerita dan foto 
pastinya....

trimankasih. ...
ige




2008/6/25 Kang Bas <[EMAIL PROTECTED] com>:










Sampurasun.. .

Ada Pak Lik... Tapi foto jadul (lagi) ki, piye? Laku nggak? Tapi lumayan untuk 
referensi to, bahwa jaman dulu sangat biasa bagi burung untuk berkeliaran di 
rumah orang.

Tidak terbayang bagaimana dahsyatnya jaman dulu, si mbah botak Tongtong sangat 
umum jalan2 di halaman rumah, di Jakarta lho, dulu tapi.... Kalau jaman 
sekarang mimpi kali yee...

Yang foto baru.... bongkar-bongkar gudang dulu ya Pak Lik...

Kang Bas
--- On Wed, 6/25/08, Yayasan Kutilang Indonesia <kutilangindonesia@ yahoo.com> 
wrote:






request for help nih.....
ada yang punya rumah dan disekitarnya masih bisa kita temui burung ? misalnya 
kutilang atau jenis yang lain.....

nah, kalau ada yang punya rumah dan masih ada burung disekitar rumah nya, 
tolong di kirim foto nya lewat milist ini ya....syukur bisa kelihatan landscape 
rumahnya....

trims ya....
ige





 














      
___________________________________________________________________________
Coba emoticon dan skin keren baru, dan area teman yang luas.
Coba Y! Messenger 9 Indonesia sekarang.
http://id.messenger.yahoo.com

Kirim email ke