Nah ini dia pakarnya udah turun gunung he he.. Jarang2 lhooo ada pakar yg mau membagi ilmunya di sini ...penjelasannya detail banget dan sangat mencerahkan .. sampe speechless gw he he he karena gw gak mudeng sampe soal2 teknis begini.. Tapi istilah yg gw pake "reintroduksi" ternyata bener ya, walo itu saya temukan begitu aja tanpa tahu sebelumnya istilah yg bener.....
Soal alap2 capung di Monas, gw kurang tau apa bener termasuk "reintroduksi", secara gw gak ngerti apa memang sebelumnya dulu jakarta memang pernah jadi habitat alap2 capung yg akhirnya punah, atau memang dari dulu jakarta memang bukan habitat asli alap2 capung? --- On Sat, 7/26/08, Asman Adi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Asman Adi <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [SBI-InFo] Reintroduksi raptor yg telah punah, mungkinkah?? To: [email protected] Date: Saturday, July 26, 2008, 1:17 AM dear all,.. Topiknya seru juga ya mengenai" Re-introduksi raptor yang telah punah, mungkinkah?" ,... kalau yang saya baca dari perntanyaan mas/bpk Hasto kan kalau gak salah" Mungkin gak kalau jenis yang di reintroduksi trus di lepas dari luar sebaran raptor tersebut?" Kalu jenis raptor tersebut bukan di daerah sebaranya itu namanya Introduksi. di bawah ini beberapa bentuk pelepasliaran yang diterapkan di Indonesia selama ini: 1. Re-introduksi; adalah mengembangkan populasi dalam suatu area yang pernah menjadi bagian dari wilayah jelajah spesies itu yang pernah hilan 2. Reinforcement (Suplementasi) : adalah penambahan individu-individu suatu populasi yang ada. 3. Introduksi konservasi: suatu usaha mengembangkan satu spesies, untuk tujuan konservasi, di luar penyebarannya di dalam habitat dan area ekogeografis yang cocok selain itu kita juga gak bisa sembarangan melepas satwa liar baik dihabitat yang masih bagus apalagi di kota yang penduduknya begitu berjubel. ada beberapa hal yang harus di perhatikan seperti syarat dan prasyaratnya. Langkah2 yang harus di ambil ketika kita mau melakukan kegiatan pelepasliaran satwa liar yang harus diperhatikan juga adalah: Penilaian Jenis: penilaian jenis dilakukan mulai dari segi medis 1. anamnesa: Penilaian awal atau riwayat si raptor itu sendiri 2. pemeriksaan fisik; ini sangat penting sekali untuk jadi bahan pertimbangan. jangan sampai kita melepas raptor yang kondisinya buruk. 3. Pemeriksaan parasit; ini berhubungan dengan penyakit yang nantinya bisa menular ke jenis raptor yang ada di alam. dan; 4. pemeriksaan darah; ini untuk mengetahui apakah raptor yang akan kita lepas benar2 bebas dari penyakit yang bisa menular. Penilaian prilaku; ini akan berhubungan tingkat keberhasilanya di alam. 1. penilaan prilaku umum; seperti, terbang, bertengger dll 2.prilaku sosial; ini untuk mengetahui tingkatan sosial si raptor tersebut dengan individu lain. 3. interaksi dengan manusia; jangan sampai kita melepas raptor yang prilakunya justru cenderung lebih dekat dengan manusia. 4. Prilaku berburu; ini sangat penting sekali karena berhubungan dengan hidup dan mati si raptor tersebut setelah dilepas. bisa cari makan sendiri apa tidak. dan yang terpenting adalah kelayakan habitat yang akan digunakan untuk melepas raptor tersebut. hal-hal yang harus di perhatikan dalam penilaian habitat adalah; 1. Data umum(luas dan aksesbilitas) 2. Tipe habitat dan ekosistem 3. Keberadaan dan kepadatan populasi alami 4. Daya tampung terhadap satwa yang mau dilepas 5. Faktor pendukung lainya(kelimpahan pakan, gangguan, dll) selain yang di atas, kita juga harus memperhatikan Keuntungan dan Tujuan kita melepas raptor tersebut; (Dengan prasyarat medis, genetis dan pemeriksaan lainya dilaksanakan dengan baik dan program pemantauan pasca pelepasan dikembangkan. (IUCN 1998)). 1. Mengembalikan peran dan fungsi ekologis dan biologis satwa yang dilepasliarkan. 2. Meningkatkan potensi konservasi jangka panjang spesies dan kawasan. 3. Membuat pernyataan politis/pendidikan yang kuat tentang nasib satwa dan promosi nilai-nilai konservasi lokal. Apalagi kalau raptor tersebut jenis migran. kita harus benar2 teliti ketika mau melakukan hal terebut.Info buat teman2 juga. saat ini sudah ada fasilitas rehabilitasi untuk jenis2 raptor di indonesia. Untuk jenis2 raptor pegunungan seperti elang jawa, elang brontok, elang ular bido, dll sudah ada di daerah Panaruban Subang yang dikelola oleh Yayasan Pribumi Alam Lestari dan masyarakat lokal. Teman2 bisa lihat profit Raptor Center tersebut di www.raptor.or. id. Sedangkan untuk jenis2 raptor pemakan ikan seperti elang bondol dan elang laut sudah ada di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu yang tepatnya di Pulau Kotok Besar. teman2 bisa liat profilnya di www.jakartaanimalai d.com. Untuk raptor center yang di kepulauan seribu dulu di inisiasi oleh PPS Tegal Alur kemudian di lanjutkan oleh International Animal Rescue(IAR) Indonesia dan sekarang di kelola oleh Jakarta Animal Aid Network. Kebetulan saya dulu jadi team pengelola juga di raptor center yang ada di kepulauan seribu. Ady, Dwi Mulyawati(wati) Jihad dan beberapa teman2 dari JBC juga pernah terlibat sebagai tim monitoring,. .. ok, mungkin itu saja dari saya. Silahkan teruskan diskusinya. Asman Adi P ----- Original Message ---- From: Don Darjono <don_darjono@ yahoo.com> To: [EMAIL PROTECTED] s.com Sent: Friday, July 25, 2008 10:45:07 AM Subject: Re: [SBI-InFo] Reintroduksi raptor yg telah punah, mungkinkah?? Sekarang PaKar-nya mau ikut nimbrung (Pak Kar alias setelah menikah dengan Bu Kar saya mau pakai nama Pak Kar). Yang penting kita usahakan agar tersedia habitat yang mendukung untuk hidup jenis-jenis burung, selanjutnya kita sadarkan masyarakat sekitar untuk sayang burung dan menjaga. Hasil pengamatan di kawasan Krakatau dimana habitatnya dapat pulih secara alami dan lingkungan dijaga maka proses rekolonisasi oleh flora dan fauna (termasuk burung) dapat kita amati berlangsung. Dan kami memang sempat menyaksikan fenomena ini langsung. Pak Kar (alias Pak Don) --- On Wed, 7/23/08, jihad jiji <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote: From: jihad jiji <[EMAIL PROTECTED] co.id> Subject: Re: [SBI-InFo] Reintroduksi raptor yg telah punah, mungkinkah?? To: [EMAIL PROTECTED] s.com Date: Wednesday, July 23, 2008, 12:56 AM sebagai sesama yang awam ikutan nimbrung jg aah kalo saya pengen juga siy kalo bisa ngeliatin si alap-alap capung di monas! cuma ngenes juga kalo inget yang mbak irma bilang ntar malah pemburu burung yang lebih banyak nongkrong dimonas..hehehe soalnya ngeliatin si Sikep Madu Asia terbang rendah di cibubur aja saya udah seneng bgt --- Pada Rab, 23/7/08, Irma Dana <[EMAIL PROTECTED] com> menulis: Dari: Irma Dana <[EMAIL PROTECTED] com> Topik: Re: [SBI-InFo] Reintroduksi raptor yg telah punah, mungkinkah?? Kepada: [EMAIL PROTECTED] s.com Tanggal: Rabu, 23 Juli, 2008, 2:45 PM kalo raptor di lepad di Monas...pasti di uber2 sama pemburung burung deh Mas Hasto:) di hutan aja abis di buru, apalagi di tengah kota ya....he...he. ..ini jawaban dari orang awam juga lho! Ayo teman-teman pencinta raptor...dijawab ya... peace, irma 2008/7/23 Hasto P Irawan <hpirawan2005@ yahoo.com>: Mas2, Mbak2, dan Adik2 para aktivis n ahli perburungan di milis ini (kayaknya gw doang ya orang awam yg nyelonong jadi member milis ini?), gw mo nanya, mungkin gak sih melakukan reintroduksi (semacam pelepasliaran) spesies burung raptor yg telah punah di suatu daerah (dengan melepas burung yg berasal dari tempat lain) supaya populasi spesies itu kembali recover di tempat tersebut?? Selama ini gw udah liat berbagai daftar spesies2 burung yg hidup di monas, senayan, atau di kota bandung, tak pernah ada satu pun spesies raptor di dalamnya. Bahkan di pedesaan pun raptor adalah pemandangan yg sangat langka di indonesia, terutama raptor resident, bukan migrant. gw pikir para raptor itu tak dijumpai lagi di jakarta semata2 bukan karena daya dukung habitatnya tak lagi memadai untuk survival raptor, tapi terutama lagi karena campur tangan manusia (ditangkap untuk diperdagangkan, ditembak dll) yg menyebabkan kepunahannya. Jadi, menurut gw, populasi mereka sebenarnya bisa pulih seandainya ada uluran tangan/bantuan manusia. Misalnya dengan mereintroduksi spesies raptor yg dulunya ada tapi sekarang telah punah di tempat itu, dgn mendatangkan dari tempat lain kemudian dilepas di situ. Untuk di kota jakarta, terutama bisa dicoba untuk raptor2 kecil. Kalo raptor besar sih kemungkinan habitatnya memang tak mampu lagi mendukung kelangsungan hidupnya, karena ketiadaan mangsa berupa burung2 yg berukuran besar yg tinggal di kota. (Aneh juga soal ini, padahal di tempat2 lain, raptor besar semacam Falco peregrinus masih banyak bertahan hidup di kota2 besar, misal di kota2 Eropa sana. Juga di pedesaan Inggris, menurut video Return of the Eagle Owl keluaran BBC, di situ dikatakan rata-rata ada sepasang common buzzard tiap jarak 800 meter di sana. berarti densitas raptor di sana cukup tinggi) Memang gw awam dan belom pernah melakukan studi kelayakan apakah habitat semacam jakarta masih memungkinkah untuk hidupnya raptor kecil. Tapi saya memperkirakan, raptor2 kecil semacam alap2 capung (Microhierax fringilarius) pasti bisa bertahan hidup di jakarta, seandainya saja ia dihadirkan kembali. Sebab, mangsa yg merupakan makanan alap2 capung masih cukup banyak dan ada dimana2 dari kawasan permukiman sampai taman2 kota, misalnya burung gereja (Passer montanus) dan berbagai jenis bulbul (kutilang, cerukcuk dll) yg juga masih cukup banyak. Coba bayangin, andai saja si alap2 capung berhasil direintroduksi di kawasan Monas or Senayan, maka sembari duduk2 di taman kita bisa menyaksikan atraksi yg menarik: alap2 capung mengejar2 atau berburu burung gereja dan bulbul. Asyik, kan? Selama ini gw cuma bisa ngeliat foto raptor mini yg imut tapi kekar itu memangsa burung2 kecil sembari perching di kabel listrik. tapi itu kayaknya di thailand atau malaysia. Gw yakin di jakarta habitatnya juga masih mampu mendukung survival si elang kerdil ini. Hasto P. Irawan -- Irma Dana http://dawala. wordpress. com [lagi belajar nulis] http://www.friendst er.com/dawala Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers
