Bung Ige, alap2 capungnya blom dapet tuuuh.. Neh lagi nyari di pasar burung 
pramuka.. hwekekek.... ntar gw ditangkep Kang Nugie dunk:)

Lagian yg nglepas alap2 capung kan mestinya yg tau soal avifauna, soal ekologi 
dan survival si raptor mini itu... supaya bisa jagain survivalnya and memantau 
perkembangannya.. Kalo saya yg nglepasin, bisa2 si alap2 capung kelaperan n 
akhirnya mati deh, atau berakhir di pasar pramuka lagi.. hiks hiks..

--- On Sat, 7/26/08, Kutilang Indonesia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Kutilang Indonesia <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [SBI-InFo] Reintroduksi raptor yg telah punah, mungkinkah??
To: [email protected]
Date: Saturday, July 26, 2008, 10:39 PM










    
            Menarik..... ..
proses re-introduksi selalu dijalakan dengan metode uji-coba. jadi seperti kata 
mas Yoki...kalau mau tahu berhasil atau tidak ya...dicoba aja !! jalak bali itu 
sebelum di re-introduksi penelitian awalnya juga ngak ketulungan hebatnya.... 
tapi ya.....mari berkunjung ke TN.Bali Barat....udah lebih dari 5 tahun ngak 
jelas juga hasilnya !!! Baru aja ada inovasi baru dengan melakukan tahap 
pre-release di Nusa Penida. Nah...ini juga dibabat abis sama para pakar saat 
mau dilaksanakan. tapi setelah sekarang jalan.....hehehe. ...ya jalan  
aja.....ngak ada yang nganggu..... artiya menurut saya, kuncinya hanya di 
konsistensi aja....


Kalau Pak Hasto mau nglepas Alap-alap capung di monas...ya lepasin aja ! kan 
belum pernah ada juga yang lihat alap-alap capung bentur tembok gedung ?  lha 
kalo Pak Hasto nglepas lak ya mestinya dijaga'in....masak kalau Pak Hasto 
nglepas trus ditinggal... .kalau maunya gitu ya kebangetan ! kan pastinya ady 
juga ikut, biar bisa lihat si alap-alap bentur tembok.....wati juga pasti 
ikut...sekalian ngecengin satpol PP sam Brimob....yang lain pasti juga 
ikut....misalnya Kang Nugie yang bisa investigasi dari mana Pak Hasto dapet 
Alap-alap capungnya... .legal ngak....dst. .....dst. ......


dulu awal kami lihat sarang raptor dan mau diumumkan ke buanyak orang juga 
banyak yang nglarang...takut kalau nanti di ambil orang, seperti yang 
sudah-sudah. ...tapi pas udah di umumin dan ada kekhawatiran mau di ambil orang 
kan akhirnya juga ada jadual ronda di sarang elang....eh. ..malah yang mau ikut 
jaga'in banyak buanget...ngak hanya pengamat burung , tapi juga kawan-kawan 
yang seneng nongkrong dan asyik-asyik aja....

intinya : kalau ndak di coba ya ndak bakalan tahu.....
sebenarnya saya mau bantu Pak Hasto lepas alap-alap capung di Monas....sayang 
saya di jogja....hehehe. ...tapi kalau butuh kontak kawan-kawan di BKSDA Jak 
Pus aku siap bantu....mau dipisuh-pisuhin. ...juga boleh kok....hehehe. ...atau 
dilepasin di jogja aja yukkk.....hwakakaka ....


ige




2008/7/26 Asman Adi <[EMAIL PROTECTED] com>

















    
            dear all,..
 
Topiknya seru juga ya mengenai" Re-introduksi raptor yang telah punah, 
mungkinkah?",...
kalau yang saya baca dari perntanyaan mas/bpk Hasto kan kalau gak salah" 
Mungkin gak kalau jenis yang di reintroduksi trus di lepas dari luar sebaran 
raptor tersebut?" Kalu jenis raptor tersebut bukan di daerah sebaranya itu 
namanya Introduksi.

di bawah ini beberapa bentuk pelepasliaran yang diterapkan di Indonesia selama 
ini:
 
1. Re-introduksi; adalah mengembangkan populasi dalam suatu area yang pernah 
menjadi bagian dari wilayah jelajah spesies itu yang pernah hilan
2. Reinforcement (Suplementasi) : adalah penambahan individu-individu suatu 
populasi yang ada.  
3. Introduksi konservasi: suatu usaha mengembangkan satu spesies, untuk tujuan 
konservasi, di luar penyebarannya di dalam habitat dan area ekogeografis yang 
cocok

 
selain itu kita juga gak bisa sembarangan melepas satwa liar baik dihabitat 
yang masih bagus apalagi di kota yang penduduknya begitu berjubel. ada beberapa 
hal yang harus di perhatikan seperti syarat dan prasyaratnya. 

Langkah2 yang harus di ambil ketika kita mau melakukan kegiatan pelepasliaran 
satwa liar yang harus diperhatikan juga adalah:
Penilaian Jenis: penilaian jenis dilakukan mulai dari segi medis
1. anamnesa: Penilaian awal atau riwayat si raptor itu sendiri
2. pemeriksaan fisik; ini sangat penting sekali untuk jadi bahan pertimbangan. 
jangan sampai kita melepas raptor yang kondisinya buruk.
3. Pemeriksaan parasit; ini berhubungan dengan penyakit yang nantinya bisa 
menular ke jenis raptor yang ada di alam. dan;
4. pemeriksaan darah; ini untuk mengetahui apakah raptor yang akan kita lepas 
benar2 bebas dari penyakit yang bisa menular.
 
Penilaian prilaku; ini akan berhubungan tingkat keberhasilanya di alam.
1. penilaan prilaku umum; seperti, terbang, bertengger dll
2.prilaku sosial; ini untuk mengetahui tingkatan sosial si raptor tersebut 
dengan individu lain.
3. interaksi dengan manusia; jangan sampai kita melepas raptor yang prilakunya 
justru cenderung lebih dekat dengan manusia.
4. Prilaku berburu; ini sangat penting sekali karena berhubungan dengan hidup 
dan mati si raptor tersebut setelah dilepas. bisa cari makan sendiri apa tidak.
 
dan yang terpenting adalah kelayakan habitat yang akan digunakan untuk melepas 
raptor tersebut. hal-hal yang harus di perhatikan dalam penilaian habitat 
adalah;
1. Data umum(luas dan aksesbilitas)
2. Tipe habitat dan ekosistem
3. Keberadaan dan kepadatan populasi alami
4. Daya tampung terhadap satwa yang mau dilepas
5. Faktor pendukung lainya(kelimpahan pakan, gangguan, dll)
 
selain yang di atas, kita juga harus memperhatikan Keuntungan dan Tujuan kita 
melepas raptor tersebut;
 
(Dengan prasyarat medis, genetis dan pemeriksaan lainya dilaksanakan dengan 
baik dan program pemantauan pasca pelepasan dikembangkan. (IUCN 1998)).
1. Mengembalikan peran dan fungsi ekologis dan biologis satwa yang 
dilepasliarkan.

2. Meningkatkan potensi konservasi jangka panjang spesies dan kawasan. 
3. Membuat pernyataan politis/pendidikan yang kuat tentang nasib satwa dan 
promosi nilai-nilai konservasi lokal. 
 
Apalagi kalau raptor tersebut jenis migran. kita harus benar2 teliti ketika mau 
melakukan hal terebut.Info buat teman2 juga. saat ini sudah ada fasilitas 
rehabilitasi untuk jenis2 raptor di indonesia. Untuk jenis2 raptor pegunungan 
seperti elang jawa, elang brontok, elang ular bido, dll sudah ada di daerah 
Panaruban Subang yang dikelola oleh Yayasan Pribumi Alam Lestari dan masyarakat 
lokal. Teman2 bisa lihat profit Raptor Center tersebut di www.raptor.or. id.

Sedangkan untuk jenis2 raptor pemakan ikan seperti elang bondol dan elang laut 
sudah ada di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu yang tepatnya di Pulau Kotok 
Besar. teman2 bisa liat profilnya di www.jakartaanimalai d.com. Untuk raptor 
center yang di kepulauan seribu dulu di inisiasi oleh PPS Tegal Alur kemudian 
di lanjutkan oleh International Animal Rescue(IAR) Indonesia dan sekarang di 
kelola oleh Jakarta Animal Aid Network. 

Kebetulan saya dulu jadi team pengelola juga di raptor center yang ada di 
kepulauan seribu. Ady, Dwi Mulyawati(wati) Jihad dan beberapa teman2 dari JBC 
juga pernah terlibat sebagai tim monitoring,. .. 

 
ok, mungkin itu saja dari saya.
Silahkan teruskan diskusinya.
 
Asman Adi P
 
 
 


----- Original Message ----
From: Don Darjono <don_darjono@ yahoo.com>

To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Sent: Friday, July 25, 2008 10:45:07 AM
Subject: Re: [SBI-InFo] Reintroduksi raptor yg telah punah, mungkinkah??









Sekarang PaKar-nya mau ikut nimbrung (Pak Kar alias setelah menikah dengan Bu 
Kar saya mau pakai nama Pak Kar).
 
Yang penting kita usahakan agar tersedia habitat yang mendukung untuk hidup 
jenis-jenis burung, selanjutnya kita sadarkan masyarakat sekitar untuk sayang 
burung dan menjaga.
Hasil pengamatan di kawasan Krakatau dimana habitatnya dapat pulih secara alami 
dan lingkungan dijaga maka proses rekolonisasi oleh flora dan fauna (termasuk 
burung) dapat kita amati berlangsung. Dan kami memang sempat menyaksikan 
fenomena ini langsung.

 
Pak Kar (alias Pak Don)

--- On Wed, 7/23/08, jihad jiji <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote:

From: jihad jiji <[EMAIL PROTECTED] co.id>
Subject: Re: [SBI-InFo] Reintroduksi raptor yg telah punah, mungkinkah??

To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Date: Wednesday, July 23, 2008, 12:56 AM









sebagai sesama yang awam ikutan nimbrung jg aah
kalo saya pengen juga siy kalo bisa ngeliatin si alap-alap capung 
di monas!
cuma ngenes juga kalo inget yang mbak irma bilang 
ntar malah pemburu burung yang lebih banyak nongkrong dimonas..hehehe
soalnya ngeliatin si Sikep Madu Asia terbang rendah di cibubur aja saya udah 
seneng bgt 
 


--- Pada Rab, 23/7/08, Irma Dana <[EMAIL PROTECTED] com> menulis:

Dari: Irma Dana <[EMAIL PROTECTED] com>
Topik: Re: [SBI-InFo] Reintroduksi raptor yg telah punah, mungkinkah??
Kepada: [EMAIL PROTECTED] s.com

Tanggal: Rabu, 23 Juli, 2008, 2:45 PM





kalo raptor di lepad di Monas...pasti di uber2 sama pemburung burung deh Mas 
Hasto:)
di hutan aja abis di buru, apalagi di tengah kota ya....he...he. ..ini jawaban 
dari orang awam juga lho! 

Ayo teman-teman pencinta raptor...dijawab ya...

peace,
irma


2008/7/23 Hasto P Irawan <hpirawan2005@ yahoo.com>:










Mas2, Mbak2, dan Adik2 para aktivis n ahli perburungan di milis ini (kayaknya 
gw doang ya orang awam yg nyelonong jadi member milis ini?), gw mo nanya, 
mungkin gak sih melakukan reintroduksi (semacam pelepasliaran) spesies burung 
raptor yg telah punah di suatu daerah (dengan melepas burung yg berasal dari 
tempat lain) supaya populasi spesies itu kembali recover di tempat tersebut??


Selama ini gw udah liat berbagai daftar spesies2 burung yg hidup di monas, 
senayan, atau di kota bandung, tak pernah ada satu pun spesies raptor di 
dalamnya. Bahkan di pedesaan pun raptor adalah pemandangan yg sangat langka di 
indonesia, terutama raptor resident, bukan migrant. 


gw pikir para raptor itu tak dijumpai lagi di jakarta semata2 bukan karena daya 
dukung habitatnya tak lagi memadai untuk survival raptor, tapi terutama
 lagi karena campur tangan manusia (ditangkap untuk diperdagangkan, ditembak 
dll) yg menyebabkan kepunahannya. 

Jadi, menurut gw, populasi mereka sebenarnya bisa pulih seandainya ada uluran 
tangan/bantuan manusia. Misalnya dengan mereintroduksi spesies raptor yg 
dulunya ada tapi sekarang telah punah di tempat itu, dgn mendatangkan dari 
tempat lain kemudian dilepas di situ. 


Untuk di kota jakarta, terutama bisa dicoba untuk raptor2 kecil. Kalo raptor 
besar sih  kemungkinan habitatnya memang tak mampu lagi mendukung kelangsungan 
hidupnya, karena ketiadaan mangsa berupa burung2 yg berukuran besar yg tinggal 
di kota. 


(Aneh juga soal ini, padahal di tempat2 lain, raptor besar  semacam Falco 
peregrinus masih banyak bertahan hidup di kota2 besar, misal di kota2 Eropa 
sana. Juga di pedesaan Inggris, menurut video Return of the Eagle Owl keluaran 
BBC,
 di situ dikatakan rata-rata ada sepasang common buzzard tiap jarak 800 meter 
di sana. berarti densitas raptor di sana cukup tinggi)

Memang gw awam dan belom pernah melakukan studi kelayakan apakah habitat 
semacam jakarta masih memungkinkah untuk hidupnya raptor kecil. Tapi saya 
memperkirakan, raptor2 kecil semacam alap2 capung (Microhierax fringilarius) 
pasti bisa bertahan hidup di jakarta, seandainya saja ia dihadirkan kembali. 
Sebab, mangsa yg merupakan makanan alap2 capung masih cukup banyak dan ada 
dimana2 dari kawasan permukiman sampai taman2 kota, misalnya burung gereja 
(Passer montanus) dan berbagai jenis bulbul (kutilang, cerukcuk dll) yg juga 
masih cukup banyak.


Coba bayangin, andai saja si alap2 capung berhasil direintroduksi di kawasan 
Monas or Senayan, maka sembari duduk2 di taman kita bisa menyaksikan atraksi
 yg menarik: alap2 capung mengejar2 atau berburu burung gereja dan bulbul. 
Asyik, kan? Selama ini gw cuma bisa ngeliat foto raptor mini yg imut tapi kekar 
itu memangsa burung2 kecil sembari perching di kabel listrik. tapi itu kayaknya 
di thailand atau malaysia. Gw yakin di jakarta habitatnya juga masih mampu 
mendukung survival si elang kerdil ini. 


Hasto P. Irawan








-- 
Irma Dana
http://dawala. wordpress. com [lagi belajar nulis]

http://www.friendst er.com/dawala 


Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers 






      
      

    
    
        
        
        
        


        


        
        
        
        
        




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke