congratulation,... halah,... selamat buat teman2 haliaster,...

 
________________________________
Asman A Purwanto
+6281319633321
http://4raptor.wordpress.com
http://asmanadi.blogspot.com





________________________________
From: Bird Watcher <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Monday, March 16, 2009 11:18:03 AM
Subject: Re: [SBI-InFo] Mengamati Burung, Melestarikan Lingkungan (Kompas, 
Sabtu 14 Maret 2009)


selamat!!!.. .

--- On Sat, 3/14/09, arman anang <argo...@gmail. com> wrote:


From: arman anang <argo...@gmail. com>
Subject: [SBI-InFo] Mengamati Burung, Melestarikan Lingkungan (Kompas, Sabtu 14 
Maret 2009)
To: sbi-i...@yahoogroup s.com
Date: Saturday, March 14, 2009, 5:29 AM


Mengamati Burung, Melestarikan Lingkungan
Sabtu, 14 Maret 2009 | 06:45 WIB
http://regional. kompas.com/ read/xml/ 2009/03/14/ 06455243/ mengamati. 
burung.melestari kan.lingkungan. .

KOMPAS.com - Pelestarian lingkungan dapat dimanifestasikan dalam 
berbagai bentuk, salah satunya adalah kegiatan pengamatan burung di alam 
bebas. Selain memberikan kenikmatan tersendiri, kegiatan ini juga 
dianggap edukatif. Lalu, apa menariknya?

Bagi para pegiat pengamatan burung (bird watching), kegiatan tersebut 
menarik karena memiliki berbagai dimensi manfaat baik bagi manusia 
maupun untuk lingkungan sendiri. Menyenangi burung bukan berarti harus 
ditangkap dan dipelihara, tetapi justru membiarkan mereka hidup di alam 
bebas.

"Kami dapat menikmati keindahan dan keunikan burung dari ciri fisiknya 
hingga suaranya, tanpa harus menangkapnya. Bedanya dengan berburu, kami 
membidik mereka dengan teropong bukan dengan senjata," kata Karyadi 
Baskoro, koordinator Semarang Bird Community (SBC), ketika sedang 
mengamati migrasi burung pemangsa di Hutan Wisata Penggaron Kabupaten 
Semarang, Jumat (13/3).

SBC adalah komunitas pelestari burung yang beranggotakan sekitar 60 
orang dari berbagai elemen baik organisasi maupun perorangan. Dari 
tanggal 7-15 Maret ini, SBC mengadakan program acara migration festival 
2009 atau festival migrasi burung pemangsa (raptor) yang melintasi 
Semarang, tepatnya di Hutan Wisata Penggaron.

Dengan mengamati burung, para anggota SBC bisa mengetahui berbagai 
karakter burung, manfaat burung bagi alam, dan mendata berbagai jenis 
spesies yang terdapat di alam bebas. Proses edukasi ini membuat seorang 
pengamat semakin menghargai lingkungannya.

Dalam sebuah pengamatan, para anggota SBC berbagi peran. Ada yang 
mengamati dengan teropong, menghitung jumlah dan mengidentifikasi 
spesies burung, dan mendokumentasikan hasil identifikasi tersebut.

Menurut Baskoro, hal yang paling menarik dari pengamatan burung adalah 
proses pencariannya. Kepuasan tersebut terdapat ketika sang pengamat 
menemukan obyek yang diburu .

"Terdapat berbagai macam bentuk pengamat, dari yang senang mengamati 
berbagai jenis burung hingga pengamat yang memburu burung-burung jenis 
tertentu yang langka. Pemburu burung-burung langka ini rela pergi ke 
berbagai negara agar bisa mengamati burung tersebut. Mereka seperti 
kecanduan," kata pengajar di Jurusan Biologi Undip ini.

Tak heran, jika para anggota SBC juga bepergian ke berbagai tempat, 
seperti Jepara, Blora, Kendal, dan Kedung Ombo, demi mendapatkan 
kepuasan dari kegiatan bird watching.

Ketua Pelaksana Migfest 2009 Muhammad Nurhasyim menuturkan, festival 
migrasi diadakan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai 
fenomena migrasi burung. "Selain itu, kami ingin mengenalkan hutan 
wisata Penggaron sebagai salah satu tempat ekowisata," kata mahasiswa 
Pencinta Alam Biologi Undip Haliaster ini.

Hutan Wisata Penggaron merupakan salah satu lokasi di Indonesia yang 
berciri bottle neck flyway (penggabungan jalur migrasi burung), sehingga 
menjadi tempat yang strategis untuk mengamati perpindahan burung.

Selain mengamati migrasi burung raptor, rangkaian kegiatan Migfest 2009 
sendiri terdiri atas, pelatihan identifikasi dan pembuatan data migrasi, 
pendidikan lingkungan hidup, publikasi dan kampanye konservasi 
lingkungan hidup, dan lomba menggambar.

"Kebanyakan pesertanya mulai dari anak yang bersekolah di TK hingga 
kelas 6 SD. Hal ini karena kami ingin memperkenalkan dunia konservasi 
lingkungan melalui burung sejak dini," kata Hasyim.
 

   


      

Kirim email ke