|
Senin, 27 Maret 2006
Biarpun Kertas Dianggap Mewakili Aslinya Keunikan Persembahan Ziarah Kubur Singkawang,- Dari depan sebuah toko dibilangan jalan Sama-Sama Singkawang, kondisinya terlihat hampir sama dengan kebanyakan toko yang menjual aneka keperluan bagi sembahyang atau ritual warga Tionghoa. Memasuki toko tersebut, ternyata tak hanya perlengkapan sembahyang berupa lilin, dupa dan sebagainya yang ada, tetapi toko tersebut terlihat layaknya sebuah "supermarket" Athin (58) yang menggunakan setelan kaos singlet putih dan celana pendek warna krim tersenyum ramah dari dalam tokonya. Pria setengah baya itu sudah enam tahun menggeluti pekerjaannya sekarang ini. Tokonya pun diberi nama "Bahagia Indah" yang terletak di jalan Sama-Sama No.38 yang sederet dengan toko lainnya yang menjual produk yang nyaris sama. Memasuki toko lelaki yang "pindah usaha" dari Jakarta ke
Singkawang itu, terlihat sejumlah produk dipajang mulai dari lantai hingga
digantung di langit-langit toko. Di toko yang berukuran sedang itu, Athin juga
menjual baju kemeja laki-laki, blus wanita hingga kepada pakaian dalam wanita
pun ada. Merknya pun bermacam-macam, mulai dari merk terkenal seperti Crocodile
hingga merk lainnya seperti Laurent Bran, Gold Dragon Brand dan Swan Brand.
Motif baju yang ditawarkannya pun beragam serta tampak indah yang dibungkus
dengan dua kemasan yakni plastik dan di dalam kotak transparan.
Disisi lain, terlihat banyak jenis dan model alas kaki
seperti sepatu dan sandal baik untuk pria maupun wanita dengan merk beragam. Tak
jauh dari situ, dapat terlihat juga perlengkapan dapur untuk memasak,
perlengkapan rumah tangga seperti setrika dengan merk terkenal.
Bahkan, di sisi lain, Athin juga menyediakan kendaraan
seperti sepeda engkol, radio, televisi, handphone, PDA, dan beraga perhiasan
sampai kepada emas batangan juga ada !
"Selain nyun kho (uang perak), kim kho (uang emas) dan
kim chi (uang kecil) yang biasanya dibeli orang untuk kebutuhan ziarah atau
sembahyang kubur, ada pula yang membeli replika yang terbuat dari kertas," kata
Athin yang sempat tak beraktifitas selama dua tahun setelah dia pindah dari
Jakarta beberapa tahun silam.
Dikatakan dia, dalam satu tahun, ada dua kali sembahyang
atau ziarah kubur yang biasa dilakukan warga Tionghoa. Saat moment tersebutlah,
Athin yang juga menjual passport, kartu kredit, kartu ATM, cek dan karcis bis,
setidaknya dapat lebih padat dikunjungi pembeli selain hari-hari biasanya.
Berlabel "Bank of Hell", Hell passport, Bank of Hades,
kartu-kartu yang juga terbuat dari kertas itu cukup diminati. Namun, kata dia,
dari semua replika perlengkapan, perhiasan, peralatan yang terbuat dari kertas
itu, yang kerap dan paling banyak dibeli adalah uang kertas. Untuk mereka-mereka
yang sudah berdomisili di luar Singkawang atau Kalbar, tokonya sudah
mempersiapkan replika uang kertas itu dalam sebuah bentuk. Pasalnya, memerlukan
persiapan yang lebih panjang untuk mempersiapkan replika uang kertas itu ke
dalam bentuk tertentu. "Kalau yang domisilinya di Singkawang, sebagian besar
membeli yang masih lembaran-lembaran dan akan dibentuk sendiri dirumah
masing-masing," katanya sambil menambahkan untuk replika uang kertas yang sudah
dibentuk memiliki harga yang sedikit lebih mahal. Itu dikarenaka ditambah ongkos
atas jasa yang telah dikeluarkan untuk membentuk replika uang kertas itu menjadi
bentuk-bentuk tertentu. Kurang lebih setengah bulan ini, Athin dan rekan-rekan
seprofesinya, akan melayani pembeli yang memerlukan persembahan saat sembahyang
atau ziarah kubur.**
===================================================== Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply United Singkawang - [www.singkawang.us] ===================================================== YAHOO! GROUPS LINKS
|
