http://www.singkawang.us/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid=37

Koran National News, Jumat 24 November 2006


Man Of Today: Hasan Karman

"Menyekolahkan anak pada institusi pendidikan yang antidiskriminasi sangat 
penting. Terutama ini menjadi dorongan psikologis agar anak-anak tidak sedih 
atau kecewa jika di tengah pergaulan mendapat sikap diskriminasi dari seseorang 
atau kelompok yang masih memelihara cap buruk itu."

Hasan Karman, Presiden Komisaris PT Prima Rezeki Pertiwi mengungkapkan hal itu 
sebagai alasan mengapa ia menyekolahkan anak-anaknya pada institusi pendidikan 
yang antidiskriminasi.



Why Him
    PENDERITAAN yang pernah dialami Hasan Karman hanyalah sekelumit dari 
ketidakadilan yang bertahun-tahun mendera suku Tionghoa di Tanah Air. 
Kegigihannya terus mencari jalan untuk mendorong terciptanya keadilan di negeri 
ini patut mendapat apresiasi.

    Kesuksesannya dalam bidang bisnis tak menyurutkan Hasan untuk terus 
berkiprah mendorong terciptanya keadilan yang lebih sempurna. Terlebih karena 
langkah terpuji itu ia lakukan mulai di dalam keluarga sendiri, sebelum 
kemudian berkiprah lewat organisasi masyarakat dan politik.

    Kini setelah keadilan itu semakin baik di negeri ini, terutama terhadap 
suku Tionghoa, putra Indonesia antidiskriminasi ini tak lantas berhenti berbuat 
bagi kemajuan bangsa dan negara. Paling tidak, ini terlihat dari keaktifannya 
dalam partai politik, dan visi realistisnya terhadap pembangunan Singkawang, 
Kalimantan Barat, kota kelahirannya.



Hasan Karman
Getol Hapus Diskriminasi

    'Penderitaan' yang dialaminya menjadikan Hasan Karman tertantang. Karena 
itu, dia tak berhenti menyuarakan antidiskriminasi.

    Terlahir dari suku Tionghoa tak mengubah keyakinan Hasan Karman bahwa ia 
adalah putra Indonesia. Kebanggaan sebagai putra Indonesia itu ditunjukkan 
sejak kecil. Di kota kelahirannya, Singkawang, Kalimantan Barat, pria yang 
menamatkan pendidikan dasarnya di SD Katolik Bruder, Singkawang, ini selalu 
membaur dan bermain bersama anak-anak sebayanya tanpa adanya perbedaan. Dan 
Hasan sangat menikmati masa-masa kecilnya yang jauh dari diskriminasi tersebut.

    Tapi masa-masa bahagia itu berlalu saat memasuki sekolah lanjutan atas 
hingga perguruan tinggi. Di sini, Hasan mengalami 'penderitaan' baru karena ia 
mulai merasakan ketidakadilan.

    "Saya tersisih dari pergaulan hanya karena mata saya sipit dan kulit 
putih," ujarnya. Padahal, persoalan seperti ini sama sekali tak pernah 
menderanya di masa kecil

    'Penderitaan' panjang tersebut tak membuat Hasan berputus asa. Sebaliknya, 
kebanggaan sebagai putra Indonesia mendorong suami Emma Febri ini untuk ikut 
mendorong terciptanya keadilan di negeri yang bersuku bangsa majemuk ini.

    Dan itu diawali dari keluarga sendiri. Agar ketidakadilan tersebut tak 
terulang, Presiden Komisaris PT Prima Rezeki Pertiwi ini menyekolahkan 
anak-anaknya di institusi pendidikan yang antidiskriminasi. Hasan juga selalu 
memberikan pengertian tentang pembauran dalam arti yang luas kepada keluarga.

    Di luar itu, Hasan mengkampanyekan pembauran melalui organisasi 
kemasyarakatan Perkumpulan Masyarakat Singkawang dan Sekitarnya (PERMASIS). 
Hasan yang duduk sebagai wakil ketua di organisasi itu bersama pengurus lainnya 
getol melakukan pembauran etnis guna menghapus istilah nonpribumi bagi suku 
Tionghoa.

    "Lewat Permasis, saya ingin mewujudkan pembauran melalui pendekatan budaya, 
sosial dan kebersamaan di berbagai aspek. Meski terlahir dari suku Tionghoa, 
saya tidak merasa sebagai orang China. Saya putra Indonesia. Begitu pula 
anak-anak saya." jelasnya.

    Kini, Hasan Karman mengaku sedikit lega. Persoalan diskriminasi lambat-laun 
sudah tergerus. Pemerintahan saat ini jauh lebih baik. Suku Tionghoa sudah 
banyak menjadi pegawai negeri, polisi, tentara, bupati bahkan menteri.

    "Contohnya Kwik Kian Gie, pernah menjadi menteri, dan Basuki Tjahaja 
Purnama yang kini menjabat Bupati Belitung Timur. Dua tokoh itu merupakan hasil 
reformasi," terangnya.



Politik Adalah Akal Sehat

    SELAIN pengusaha, Hasan Karman juga dikenal sebagai seorang politisi. 
Kiprahnya di dunia politik dimulai pada 2004 ketika menjadi calon legislatif 
(caleg) DPR dari Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB) untuk pemilihan 
daerah Kalimantan Barat. Tapi karena minimnya persiapan ia gagal meraih kursi 
Dewan.

    Kegagalan itu tak membuat Hasan patah arang dan meninggalkan organisasi 
politik, pasalnya berorganisasi sudah menjadi kegemarannya sejak di bangku 
kuliah. Bahkan setelah lulus, ayah dari Stella, Sonya dan Shianne ini juga 
aktif di banyak organisasi kemasyarakatan.

    Pengalaman itu ditambah pengetahuan dan wawasan serta pergaulan dan lobi 
yang cukup luas pula, mengantarkan Hasan menjadi aktivis di Partai Perhimpunan 
Indonesia Baru (PPIB). Kini di tengah kesibukannya sebagai pengusaha dan 
advokat di Law Firm RAH & Partner, Kantor Paten Ambrosius International Patent, 
ia juga duduk sebagai Bendahara Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PPIB.

    "Saya memang suka politik karena politik itu adalah akal sehat," ujarnya.

    Tapi ia menolak masuk partai lantaran semata-mata ingin menjadi presiden, 
menteri, gubernur, bupati, atau anggota DPR. "Bukan itu tujuan saya," tegasnya.

    Lantas apa yang menjadi tujuan sebenarnya? "Saya hanya ingin memberi 
kontribusi kepada daerah kelahiran dan bentuk kepedulian saya sebagai warga 
negara Indonesia terhadap masalah negara," imbuhnya.



Dijagokan Jadi Walikota
    
    PEMILIHAN Walikota dan Wakil Walikota Singkawang, Kalimantan Barat, baru 
akan berlangsung pada 2007 mendatang. Tapi nama-nama kandidat sudah mulai 
dilambungkan. Salah satu sosok yang disebut-sebut berpeluang menduduki jabatan 
itu adalah Hasan karman.

    "Sejauh ini saya memang ditawari menjadi kandidat Walikota Singkawang, 
tempat kelahiran saya, oleh beberapa partai dalam pilkada mendatang. Saya 
sendiri belum memutuskan, meski dorongan hati keci saya ingin memperbaiki 
pembangunan di sana agar tidak tertinggal," kata Hasan.

    Dorongan itu sendiri muncul karena Hasan karman memiliki visi yang 
realistis untuk pembangunan Singkawang. Visinya antara lain ingin memajukan 
kota kelahirannya sebagai kota industri, perdagangan, jasa, pariwisata, dan 
bidang-bidang krusial lainnya.

    Dalam melaksanakan visinya itu, menurut Hasan, Singkawang tidak bisa 
dilepaskan dari kerjasama dengan Bengkayang dan Sambas. Ketiga kota ini 
memiliki keterkaitan historis dan kepentingan yang tidak terpisahkan.

    "Untuk menghadirkan investor di Singkawang, harus diciptakan gula. Seperti 
pepatah, dimana ada gula di situ ada pula semut. Saya memiliki kiat untuk itu," 
jelasnya. 


Belajar Dagang Sejak Kecil

    SAMA seperti anak suku Tionghoa lain, Hasan Karman tak bisa seenaknya 
menghabiskan waktu senggangnya untuk bermain. Sepulang sekolah di SD Katolik 
Bruder, Singkawang, Hasan kecil biasanya langsung pulang ke rumah. Selepas 
mengganti seragam sekolah dan makan siang, ia bergegas menghampiri ibunya yang 
membuka warung kelontong. Bukan untuk mengambil makanan kecil, atau sekadar 
bercengkerama bersama ibunya, tapi membantu melayani para pembeli.

    Rutinitis yang berjalan hingga ia menamatkan pendidikan di SMP Katolik 
Bruder ini lambat-laun menempa Hasan untuk memahami seluk-beluk dagang. Bahkan, 
bakat bisnis dari ibu kemudian menurun ke Hasan.

    Terbukti setelah sempat menduduki berbagai jabatan di Barito Pasific Group, 
Hasan mulai merambah ke dunia bisnis. Bisnis yang digelutinya mulai dari 
makanan, batu bata putih, dan media elektronik radio.

    Di bidang makanan, Hasan membuka usaha restoran. Kini ia memiliki dua gerai 
rumah makan yang diberi nama Restoran Bong di Kawasan Sunter dan Kelapa Gading. 
Untuk bisnis batu bata putih, ia garap lewat PT Prima Rezeki Pertiwi. Bisnis 
batu bata tersebut menelan investasi sekitar 5 juta dollar AS. Pabrik batu 
batanya terletak di Rangkas Bitung, Banten. Di bidang media elektronik, Hasan 
yang memiliki hobi bermain frekuensi sejak remaja ini mendirikan Radio Niaga 
Omega.

    Beragam usaha yang digeluti pengusaha ini tak terlepas dari prinsip bisnis 
yang dipegang Hasan. "Kalau ada peluang usaha dan menguntungkan, ya...saya 
ambil," jelasnya.

    Bisnis batu bata putih, misalnya menurut Hasan sangat berprospek. Kebutuhan 
batu bata putih untuk lima tahun ke depan akan terus meningkat. Meski begitu, 
jumlah produksi tetap belum mampu menutupi permintaan. Apalagi produsennya 
masih sedikit. "Itu alasan kenapa saya masuk ke bisnis ini," terangnya.


Kirim email ke