http://mujidi.blogspot.com/2008/02/cap-imlek-karman.html

*Hasan Karman Bersama Cap Go Meh*

Imlek dan Cap Gomeh merupakan suatu paket yang tidak bisa dipisahkan. Ucapan
itu mengalir deras dari lisan pria yang duduk di kursi persis di depan saya.
Untuk ukuran orang Indonesia, tinggi badannya ideal, tidak terlalu tinggi
dan gemuk. Baju batik berwarna merah menyala berpadu putih dan hitam serasi
dengan kulitnya yang putih. Senyum selalu tersungging dari bibirnya yang
lumayan tipis.

Ia Hasan Karman, ia menjabat sebagai Walikota Singkawang, dan baru dilantik
tanggal 17 Desember 2007 yang lalu. Ia saya temui di kantornya, Jumat lalu,
dengan tujuan untuk mengupas Imlek dan Cagomeh di Kota Singkawang.

Sebagai warga kelahiran kota Singkawang, Hasan Karman punya obsesi yang
besar untuk memajukan Kota Singkawang lima tahun ke depan. Ini terlihat
dengan salah satu rumusan program kerjanya yang ingin memajukan pariwisata
di Kota Singkawang, salah satunya melalui event perayaan Imlek dan Cap
Gomeh.

"Dengan event itu, kita tarik para tamu dari luar untuk masuk ke Kota
Singkawang," ujar Hasan Karman.

Untuk memanjakan tamu yang datang, dalam rentang waktu lima belas hari
antara Imlek dan Cap Gomeh akan disuguhkan bermacam ragam atraksi. Dengan
sistem seperti itu, para pengunjung tidak akan mengalami kebosanan di Kota
Singkawang. Dan apabila suskes, kemungkinan di tahun-tahun yang akan datang
para tamu akan datang kembali, dan semakin bertambah.

Dengan banyak datang tamu di Kota Singkawang tidak hanya menguntungkan
pemerintah. Akan tetapi juga berdampak bagi kesejahteraan hidup masyarakat.
Pada perinsipnya, pemerintah hanya menfasilitasi, dan rakyatlah yang
menikmati. Sebagai contoh, dengan datangnya para pengunjung, maka semakin
banyak barang sebagai buah tangan yang akan dibeli. Kamar-kamar di hotel
akan terisi. Tempat-tempat wisata akan dikunjungi.

***
Banyaknya tamu yang datang tidak sebanding dengan jumlah penginapan.
Berdasarkan riset yang dia lakukan, sampai saat ini semua kamar hotel dan
losmen di Kota Singkawang sudah terisi penuh. Untuk mengatasi hal tersebut,
banyak turis yang terpaksa menginap di Pontianak.

Mereka berangkat pagi ke Singkawang untuk menyaksikan Capgomeh, setelah itu
ke Pontianak untuk menginap di tempat penginapan yang lebih memadai.
Berharap investor segera membangun hotel baru dengan tingkat hunian yang
rendah dan hanya ramai pada saat tertentu, jelas tidak layak.

Namun dapat dipertimbangkan rumah, toko, mess atau bangunan kosong yang
diubah menjadi tempat penginapan. Untuk mewujudkan ide ini, tentu diperlukan
koordinasi dan pengelolaan yang tepat; agen-agen perjalanan dan pariwisata,
serta pusat-pusat informasi harus dapat dimanfaatkan untuk memberikan
informasi alternatif ini.

Tahun 1980-an, Hasan Karman pernah menyaksikan dan ikut merasakan menginap
di rumah masyarakat Tengger di daerah Gunung Bromo, Jawa Timur, ketika
menyaksikan perayaan Kasodo, dimana penduduk Tengger melakukan upacara
sesajen kepada sesembahan yang dipercaya sebagai penunggu gunung berapi di
sana. Pagi-pagi pemilik rumah telah menyiapkan sarapan singkong goreng,
jagung rebus dan kopi panas. Kesan positif ini masih tertanam sampai kini.
Harga yang harus dibayar juga tidak memberatkan, dan hal ini tinggal
ditawarkan saja. Konon di daerah Garut (Jawa Barat) yang menawarkan wisata
alam, juga menyediakan tempat penginapan di rumah-rumah penduduk.

Kita tentu berharap para turis yang datang ke Singkawang menginap lebih lama
dan mendatangkan nilai tambah yang lebih besar, karena itu potensi ini
jangan dibiarkan lewat begitu saja. Jika sarana perhotelan yang resmi belum
cukup tersedia pada saat puncak perayaan, kenapa tidak dipikirkan alternatif
ini.

"Hal seperti itu akan kita lakukan, dan mungkin di tahun-tahun yang akan
datang akan tetap menjadi alternative untuk menampung para tamu yang datang
ke Kota Singkawang," ujar Hasan.

***

Dalam pertemuan yang hanya berlangsung sekitar 15 mentit tersebut, Hasan
Karman juga menitipkan dua buah pemikirannya. Dua buah pemikiran tersebut
juga pernah ditulis dalam dalam situs United
Singkawang<http://www.singkawang.us>.
Buah pikiran tersebut berisikan bagaimana Capgomeh mendatangkan added-value
(nilai tambah) kepada masyarakat luas.
"Pertama, penyediaan buah tangan berupa souvernir dan atau oleh-oleh makanan
yang mudah dibawa," kata Hasan.

Hasan berpandangan hampir semua tempat tujuan wisata maju di dunia, tak
pernah ketinggalan dengan pelbagai souvenirs seperti kaos, patung, ukiran
dan sebagainya, yang menampilkan nama atau tulisan khas daerah wisata
tersebut. Sebagai misal, Singapura dengan pelbagai souvenirs berlogo singa
berbadan ikan; Vietnam dengan gambar gadis bertopi caping dengan pakaian
khas celana kulot dan baju lengan panjang; Bali dengan gambar puranya dan
seterusnya.

Souvenir khas tersebut sangat sulit, jika tidak mau dikatakan tidak tersedia
di Singkawang. Ini menyebabkan turis yang berdatangan pada saat Capgomeh
kesulitan membawa oleh-oleh untuk relasi dan handai-taulannya. Sebenarnya
barang-barang itu merupakan peluang bisnis yang senantiasa melengkapi
industri pariwisata. Masyarakat luas bisa turut menikmati peluang ini dengan
membuka kios-kios yang menyediakan kebutuhan para turis itu.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa banyak orang Singkawang yang sukses sebagai
pengusaha garment atau konfeksi di Jakarta. Mereka jelas tidak akan
berpangku tangan jika peluang ini digarap. Jika ada kaos-kaos
bertulisan/bergambar icon-icon tempat kelahirannya, pasti mereka juga turut
bangga karena ada rasa memiliki. Janganlah misalnya turis dari Jakarta malah
ditawari kaos bertulisan Jakarta, atau turis Hong Kong yang datang ke
Singkawang ditawari kaos bertulisan Hardrock Cafe – Hong Kong, mestinya
mereka ditawari kaos bertulisan Singkawang dan gambar-gambar khas kota ini.

Hal yang sama juga terjadi pada bidang penyediaan oleh-oleh makanan khas
seperti Lempok (dodol durian), Asam Maram (Atapson), Licison, Terasi, Petis,
Ikan Jambal Asin, Ebi dan lain-lain. Meski relatif tersedia, namun
kemasannya belum dibuat secara menarik, dan ketika musim puncak (peak
season) pariwisata, oleh-oleh makanan ini kerapkali tidak tersedia.
Pengelolaan yang bagus dan terencana tentu tidak akan menyebabkan kekurangan
pasokan ini. Suatu industri yang baik harus menjamin kesinambungan pasokan
produk yang dihasilkannya. Untuk itu instansi-instansi terkait yang
bertanggungjawab membina harus dapat memberikan penyuluhan dan bantuan
pengetahuan, jika perlu permodalan melalui kredit perbankan UKM (Usaha Kecil
Menengah).

"Penyediaan buah tangan ini dapat dikembangkan lagi ke produk-produk seperti
patung, ukiran, perhiasan dan sebagainya, yang menunjukkan ciri khas daerah
ini," ujar Hasan.

***
"Kedua, tetap membuka usaha atau menyediakan tempat belanja atau restoran
dan tempat makan-minum lainnya," kata Hasan.

Sudah menjadi tradisi hampir semua suku bangsa pada saat perayaan hari
besar, mereka tidak membuka usaha, demikian juga pada hari besar atau
perayaan tertentu, kebanyakan toko dan tempat makan di Singkawang tutup.
Pendatang akan kesulitan untuk belanja dan mencari makanan.

Khusus untuk restoran, meski tetap memasak untuk makan keluarga, bahkan
berpesta, namun umumnya mereka tidak membuka usahanya. Agar para turis
mendapat kemudahan dan kenyamanan, perlu diupayakan koordinasi agar ada
tempat usaha yang tetap buka, demikian juga restoran dan tempat makan-minum
lainnya.

"Salah satu unsur penting yang melengkapi keberhasilan pariwisata adalah
wisata kuliner (berkenaan dengan makanan)."

Boleh dikatakan setiap tempat wisata yang banyak dikunjungi, pasti tersedia
restoran-restoran yang menyajikan hidangan khas lokal atau internasional.
Untuk Singkawang, memiliki pelbagai hidangan khas, warung-warung yang
menyajikan kopi dan teh serta macam-macam penganan dan sebagainya.

Kekurangan unsur kuliner ini akan membuat suatu daerah wisata menjadi
hambar. Tentu bagi pengusahanya sendiri, urusan buka atau tidak buka adalah
hak mereka, namun instansi-instansi terkait yang bertanggungjawab atas
pariwisata dan unsur-unsur pendukungnya harus sanggup menjamin agar para
turis tidak kesulitan memenuhi kebutuhan mereka. Hal yang sama juga sering
terjadi di tempat pembuatan keramik khas Singkawang di Sedau, dimana pada
saat hari raya tidak ada aktivitas, padahal tempat tersebut merupakan salah
satu daya tarik pariwisata.

Bagi Hasan, tidak terlalu dibesar-besarkan jika perayaan Capgomeh Singkawang
di masa mendatang dapat disejajarkan dengan peristiwa budaya seperti Ngaben
(upacara pembakaran jenazah umat Hindu di Bali), atau semacam Carnaval Rio
de Janeiro di Brazil yang sudah dikenal secara internasional.

Masalahnya terletak pada seberapa profesional segenap insan Singkawang
menggarap potensi peristiwa budaya yang pernah diberangus pada masa Orde
Baru itu. Capgomeh ini merupakan salah satu primadona yang dapat dijual dan
diangkat nilai tambahnya, dan dapat menjadi pilot project atau proyek
perintis yang akan menjadi lokomotif yang menghela potensi-pontensi lainnya.

Masih banyak event yang bisa diangkat, misalnya musim sembahyang kubur
masyarakat Tionghoa atau Chin Min (Qing Ming). Pada saat berlangsungnya
musim ini, bukan hanya masyarakat Tionghoa kelahiran Kalimantan Barat saja
yang mudik menyembahyangi leluhurnya, namun kerapkali mudiknya mereka
disertai oleh anak-cucu yang bukan kelahiran setempat, mereka bahkan kadang
membawa serta relasi atau handai-taulan yang berasal dari daerah lain.

Kesempatan yang senantiasa terulang setiap tahun ini sebenarnya tidak boleh
disia-siakan begitu saja. Janganlah panen rezeki ini hanya dipetik oleh agen
tiket dan pengusaha penerbangan, namun hendaknya juga mendatangkan nilai
tambah bagi masyarakat luas. Belum lagi bicara soal perayaan Imlek, atau
mudik yang terjadi pada saat Lebaran, atau perayaan Naik Dango dan
sebagainya. Semua daya tarik dan potensi wisata yang telah dicanangkan oleh
Pemerintah Kota jangan hanya sebatas wacana, namun harus digarap secara
serius dan profesional.

Kota Banjarmasin memiliki Pasar Wadai yang dibuka sore hari selama bulan
Ramadhan menjelang buka puasa. Pasar dadakan yang menjaja kue-kue ini
seperti semacam festival yang selalu dipadati oleh masyarakat Banjarmasin
maupun turis dari luar.

Sebenarnya setiap orang kelahiran Singkawang atau orang luar yang pernah
berkunjung bisa menjadi agen atau duta yang dapat mempromosikan Singkawang.
Hanya saja Singkawang kekurangan alat untuk melakukan promosi itu. Souvenir
kaos dan lain-lainnya yang penulis maksudkan dalam strategi pertama dalam
tulisan ini sebenarnya dapat menjadi alat promosi. Jika kita sering melihat
orang memakai kaos bertulisan Hawaii, Hardrock Cafe, Bali, dan sebagainya,
lalu kenapa Singkawang tidak menyediakan kaos seperti itu.

Setiap orang yang memakainya di luar Singkawang akan turut mempromosikan
Singkawang, disamping itu tentu harus disertai dengan pelbagai promosi
lainnya. Beberapa tahun yang lalu, Hasan mengaku pernah pergi ke Vietnam dan
membeli beberapa kaos bertulisan Saigon, yaitu nama lama untuk kota Ho Chi
Minh City.

"Memang tidak luar biasa, namun kesan bahwa kita pernah mengunjungi tempat
tersebut akan tertanam dalam sanubari kita, lebih-lebih lagi jika tempat
yang pernah dikunjungi itu menarik dan memberikan kesan yang menyenangkan,
maka kita akan menjadi agen atau duta yang menceritakan eksotika tempat
tersebut," jelas Hasan.

Kirim email ke