Tekanan Ekonomi Memicu Kekerasan
Beberapa Ibu Bunuh Anak Sendiri
Kamis, 27 Maret 2008 | 01:02 WIB

Jakarta, Kompas - Tekanan ekonomi yang kian mengimpit dan ketidakpastian
masa depan, menyebabkan sejumlah ibu nekat membunuh anak kandungnya sendiri.
Kasus yang sudah beberapa kali terjadi ini perlu dicermati dan ditangani
serius agar tidak semakin berkembang di masyarakat.

Demikian pendapat sejumlah akademisi, psikolog, sosiolog, kriminolog, dan
penggiat lembaga swadaya masyarakat, Rabu (26/3), menanggapi maraknya kasus
kekerasan di rumah tangga, dalam bentuk ibu membunuh anak kandungnya
sendiri. Kasus terakhir terjadi di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, yakni dua
anak balita, Sabila Putri Khaera (3) dan Fadli Muhamad Nizan (4 bulan),
ditemukan tewas di dalam bak kamar mandi, Sabtu malam pekan lalu. Sabila dan
Fadli diduga dibenamkan oleh ibu kandung mereka, Ny YIY (25). Dalam
keterangannya, Rabu kemarin, Ny YIY yang kondisinya masih labil mengatakan,
selama empat tahun menikah dirinya tidak mendapat nafkah ekonomi yang layak.

><Sebelumnya, kasus serupa terjadi di Bekasi. Diduga stress Ny Is (35), 14
Maret lalu, membunuh kedua anaknya masing-masing Aldi Rasyid (4 bulan) dan
Mutiara Yusuf (2 tahun) dengan cara dibenamkan di bak mandi.

Di Kota Malang, Jawa Timur, Ny JM bunuh diri dan sebelumnya membunuh keempat
anak kandungnya sendiri. Meskipun keluarga membantah, tetapi polisi
menyimpulkan pembunuhan massal ini terjadi karena beban hidup dan tekanan
ekonomi yang menghimpit.

*Tekanan ekonomi*

Kriminolog Universitas Indonesia Ronny Niti Baskara mengatakan, secara
psikiatrik-kriminologik, pada tipe bebeberapa kepribadian tertentu, tekanan
ekonomi yang dialami kelas bawah akan menimbulkan rasa frustrasi. Adanya
hambatan dan ancaman terhadap pencapaian cita-cita serta harapan masa depan,
pada gilirannya menjelma menjadi bentuk perilaku menyimpang atau kejahatan.
"Jadi, meningkatnya kekecewaan hidup seseorang diekspresikan dalam bentuk
kejahatan," ujarnya.

Ketua Persatuan Spesialis Dokter Kejiwaan Indonesia Cabang Malang dr Roekani
Hadi Sepoetro SpKJ mengatakan, dalam kasus Ny JM yang membunuh keempat
anaknya, hal itu merupakan reaksi dari depresi berat dengan gejala psikotik.
Hal itu terlihat dari bagaimana ia membunuh anak-anak kesayangannya terlebih
dahulu sebelum akhirnya ia bunuh diri. Itu dilihat Roekani sebagai upaya
menyelamatkan orang-orang yang dikasihinya dari tekanan perasaan dan pikiran
yang membebaninya.

"Persoalan ekonomi selalu saja menjadi alasan kasus kekerasan dalam rumah
tangga. Bahkan, kalau parah, mereka yang merasa tertekan bisa bunuh diri,"
tutur Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal
Kepolisian Resor Kota Malang Inspektur Dua Jayanti Mandasari Harahap.

Jayanti mengatakan, di Malang setiap bulan selalu muncul kasus kekerasan
dalam rumah tangga (KDRT) yang rata-rata penyebabnya adalah tekanan ekonomi.
Dalam catatan PPA, dari Januari hingga Maret 2008 ini telah ada 35 kasus
yang ditangani PPA

Psikolog Universitas Indonesia Yudiana Ratna Sari berpendapat, pembunuhan
ibu terhadap anak disebabkan rendahnya pendidikan dan kemampuan ekonomi yang
saling berkait satu sama lain. Menurut dia, tingkat pendidikan yang rendah
membuat kepribadian orang tidak stabil. "Orang cenderung berpikir pendek dan
emosional. Mudah goyah, dan emosional, ketika merealisasikan
rencana-rencananya yang sulit diwujudkan," ujarnya.

Rendahnya tingkat pendidikan juga memengaruhi kemampuan seseorang memutar
roda ekonominya. "Orang dengan basis pendidikan dan ketrampilan rendah,
tidak akan mampu melihat peluang atau alternatif memutar roda ekonominya,
apalagi berpikir untuk membuat lapangan kerja. Keadaan menjadi kian buruk di
tengah sempitnya lapangan kerja dan tingginya tingkat pengangguran," lanjut
Ratna.

*Kaji mendalam*

Sosiolog dari Universitas Indonesia Paulus Wirutomo mempunyai pendapat
berbeda. Menurut dia, belum dapat dipastikan apakah sejumlah kasus
pembunuhan anak oleh ibu merupakan fenomena sosial atau kasus individual.

Untuk dapat dikatakan sebagai fenomena sosial setidaknya terjadi peningkatan
kasus dalam batasan waktu tertentu. "Bisa saja secara jumlah tidak terlalu
tinggi, tetapi karena kasusnya sensasional maka memunculkan pemberitaan yang
besar. Namun, secara sosiologis itu sebetulnya belum menggejala," ujarnya.

Ia menyimpulkan, kasus-kasus yang terjadi secara sporadis di sejumlah daerah
tersebut secara ilmiah belum dapat dikatakan sebagai gejala sosial yang
menunjukkan kondisi tertentu di masyarakat.

Akan tetapi, Paulus menekankan, harus diwaspadai jika pembunuhan itu
dilatarbelakangi tekanan ekonomi. "Kasus-kasus yang terkait dengan
kemiskinan biasanya cepat meningkat dan merata," ujarnya.

Elly Risman, psikolog sekaligus Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati, menolak
tegas anggapan tekanan ekonomi menjadi penyebab utama seorang ibu tega
membunuh anak kandungnya sendiri.

"Ini adalah kasus kehancuran jiwa. Faktor kejiwaan si ibu melatarbelakangi
tindakannya. Dengan kondisi yang demikian, si ibu kurang kesiapan untuk
menjadi orangtua," kata Elly Risman, Rabu.

*Pemerintah harus waspada*

Terjadinya kasus-kasus ibu membunuh anak, menurut Paulus, merupakan suatu
peringatan kepada pemerintah bahwa peningkatan kemiskinan sudah pada level
sangat membahayakan masyarakat.

Pemerintah perlu segera bertindak memperbaiki ekonomi secara keseluruhan.
Pada sisi lain, perlu ada kesetiakawanan sosial sehingga ada tempat
bergantung bagi orang-orang yang sedang mengalami kesulitan, baik itu
bergantung pada keluarga, tetangga, lembaga sosial maupun pemerintah.

Psikolog Elly Risman berpendapat, agar kasus serupa tidak terulang kembali
diharapkan masyarakat waspada. Masyarakat perlu memiliki kepekaan sosial dan
saling membantu di tengah kondisi ekonomi yang semakin
sulit.(WIE/NEL/WIN/INE/ DIA/THY)

Kirim email ke