Pemanasan Global
Bongkahan Besar Es Longsor
AP Photo/National Snow and Ice Data Center / Kompas
Images<http://www.kompasimages.com/>
Foto satelit yang dirilis oleh National Snow and Ice Data Center di
University of Colorado di Boulder ini memperlihatkan bongkahan pada beting
es Wilkins tanggal 6 Maret 2008 di Semenanjung Antartika barat daya yang
mulai terlepas. Beting es berukuran tujuh kali wilayah Manhattan itu mulai
lepas dan ambruk pada 28 Februari lalu.
Kamis, 27 Maret 2008 | 01:03 WIB
Washington, Rabu - Sebongkah es dari Antartika yang besarnya setara dengan
tujuh kali luas Manhattan tiba-tiba longsor. Kejadian ini membuat sisa es
yang lebih besar akan berisiko longsor pula. Demikian disampaikan para
ilmuwan di Washington, Amerika Serikat, Rabu (26/3).
Citra dari satelit menunjukkan bongkahan yang terlepas berukuran 160 mil
persegi atau 414,4 kilometer persegi dan sudah mulai runtuh pada 28 Februari
lalu. Bongkahan itu merupakan tepian dari beting es Wilkins yang telah ada
di sana sejak ribuan tahun, mungkin 1.500 tahun yang lalu. Beting es Wilkins
merupakan hamparan es yang secara permanen terapung. Jaraknya sekitar
1.609kilometer sebelah selatan Amerika utara, di barat daya
Semenanjung
Antartika.
"Peristiwa ini jelas merupakan dampak dari pemanasan global," ujar David
Vaughan dari British Antarctic Survey.
Karena para ilmuwan menerima citra dari satelit itu dalam hitungan jam,
mereka segera mengalihkan kamera satelit, bahkan tidak sedikit yang segera
terbang ke atas bongkahan yang longsor untuk mengambil gambar foto dan
video.
Akibat longsor ini, sebagian besar beting yang luasnya sekitar
12.950kilometer persegi kemudian hanya ditopang oleh bentangan es
kecil yang
panjangnya hanya 5,6 kilometer. Es penopang ini berada di antara dua pulau.
"Ini merupakan peristiwa yang tidak sering terjadi," ujar Ted Scambos,
ilmuwan yang memimpin tim riset dari National Snow and Ice Data Center di
Boulder, Colorado.
"Jika ada sedikit saja guncangan, penopang ini akan longsor juga dan
tampaknya kita akan kehilangan separuh dari total area es dalam waktu
beberapa tahun saja," ujar Scambos.
Scambos mengatakan, beting es telah berada di tempatnya selama ratusan
tahun, tetapi udara yang hangat dan paparan ombak membuatnya terbelah-belah.
Selama setengah abad ini, Semenanjung Atlantik telah menjadi hangat lebih
cepat dibandingkan dengan bagian lain di muka bumi ini.
"Pemanasan yang terjadi di semenanjung itu sangatlah jelas terkait dengan
kenaikan gas rumah kaca serta perubahan yang terjadi di sekitar kawasan
Antartika," ujar Scambos.
*Seperti dibom*
Walaupun gunung es secara alamiah kadang memang longsor dari gunung utama,
kejadian longsor semacam ini sangat tidak biasa, tetapi terjadi lebih sering
dalam dekade belakangan ini, jelas Vaughan. Longsornya bongkahan es itu sama
seperti yang terjadi ketika sebuah gelas kaca dihantam palu dengan keras,
katanya lagi.
Jim Elliot yang turut di pesawat Twin Otter yang membawa tim British
Antarctic Survey menggambarkan, keadaan setelah longsor sangat berantakan
seperti habis dibom.
"Saya tidak pernah melihat kerusakan seperti ini, sangat menakutkan. Kami
terbang di atas pecahan utama dan memerhatikan pergerakan pecahan terjal
akibat dari longsoran itu. Bongkahan es ada yang setara dengan rumah kecil,
tampak terlihat telah terlempar. Seperti telah terjadi ledakan bom,"
katanya.
Sisa beting es Wilkins yang kira-kira sama besarnya dengan Connecticut masih
bertahan pada lapisan es yang tipis. Para ilmuwan khawatir kelak akan lebih
banyak lagi bongkahan es yang akan longsor.
Vaughan memperkirakan beting es Wilkins akan longsor semuanya dalam waktu 15
tahun dari sekarang. Bongkahan yang baru saja longsor sekitar 4 persen dari
seluruh beting yang ada. Bagian itu merupakan bagian yang penting karena
dapat menyebabkan bagian lain ikut longsor.
Masih ada kesempatan bagi sisa bongkahan agar dapat tetap selamat hingga
tahun depan karena saat ini merupakan akhir dari musim panas di Antartika.
Udara dingin akan segera datang dan menyelamatkan sisa bongkahan es, kata
Vaughan.
Para ilmuwan itu tidak mengkhawatirkan kenaikan permukaan laut akibat
kejadian ini, tetapi mengatakan bahwa kejadian itu merupakan pertanda
pemanasan global semakin menjadi-jadi.
*Perubahan iklim*
Vaughan mengatakan, beting es Wilkins terpecah dan tidak akan memengaruhi
permukaan air laut ketika longsor.
Selama setengah abad ini Semenanjung Antartika di sebelah barat telah
mengalami perubahan temperatur yang paling tinggi. sekitar 0,5 derajat
Celsius per dekade. Iklim di Antartika saat ini sangat rumit dan lebih
terisolasi dari bagian lain di bumi ini.
Menurut perhitungan para ahli, kenaikan permukaan laut per meter sekitar 3
milimeter per tahun dan pada akhir abad ini permukaan air laut akan naik
hingga 1,4 meter.
Kejadian longsor es itu merupakan indikasi akan penyebab adanya perubahan
dalam sistem iklim, kata Sarah Das, ilmuwan dari Woods Hole Oceanographic
Institute.
"Sekali meleleh, bongkahan es itu akan lenyap untuk selamanya," ujar Das.
(AP/AFP/REUTERS/JOE)