bermuda triangle???

kecelakaan ini terjadi murni kesalahan pihak adam air, dimana auto pilot nya ga 
berfungsi tetapi pesawat tetap diterbangkan..

jadi ga ada yang namanay bermuda triangle ala Indonesia....

Hidayat Boesran <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                             
Hasil Penyelidikan KNKT tentang Adam Air                                        
                                                                                
         KOMITE Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) hari ini (25/3) 
mengumumkan hasil penyelidikan terhadap kecelakaan pesawat Adam Air di perairan 
Majene Sulawesi Barat awal tahun lalu. Dalam kesimpulan yang dirangkum KNKT, 
jatuhnya pesawat Adam Air KI-574 selain disebabkan dua faktor utama yaitu human 
error dan technical error, konsentrasi pilot terpecah antara memperbaiki 
kerusakan instrumen pilot otomatis hingga tidak menyadari pesawat sudah 
mendekati laut. Sementara itu, pihak Adam Air juga dianggap lalai merawat 
sejumlah pesawatnya. 

Menyiamk apa yang terjadi pada penerbangan Adam Air KI - 574 dalam kesimpulan 
yang dirangkum KNKT.
Pa' Dhe teringat akan Segitiga Masalembo - The Indonesian "Bermuda Triangle"

Salam Hormat,
HB.

----- Pesan Diteruskan ----
Dari: Hidayat Boesran <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]; [email protected]
Terkirim: Senin, 25 Juni, 2007 13:32:20
Topik: Segitiga Masalembo - The Indonesian “Bermuda Triangle”

Segitiga Masalembo - The Indonesian “Bermuda Triangle”
  
Januari 16th, 2007 — Rovicky 
   Dua kecelakaan lalulintas pada awal tahun ini sangat memperihatinkan. Yang 
pertamana kecelakaan lalulintas laut yang menimpa kapal laut Senopati 
Nusantara, yang kedua kecelakaan Pesawat Adam Air. Keduanya diduga terjadi pada 
waktu yang berdekatan di kawasan yang sama berdekatan juga di laut Utara Jawa, 
dan yang satu di seputar Masalembo.
   Duapuluh enam tahun yang lalu KM Tampomas II terbakar di laut dan karam pada 
tanggal 27 Januari 1981. Ah kenapa pada bulan-bulan yang sama ya ? memang 
bulan-bulan ini merupakan bulan-bulan puncak perubahan musim seantero Indonesia 
yang kepulauannya berada di sekitar katulistiwa.
   Tetapi kenapa kejadian kecelakaan ini di lokasi yang kira-kira sama ?
 Ah jangan-jangan barangkali mungkin saja …
   Pulau Masalembo sebenarnya sebuah pulau kecil yang berada di ujung Paparan 
Sunda (hayo masih ingat Paparan Sunda dan Paparan Sahul nggak ?, ini pelajaran 
SD dulu kan ?). Pulau-pulau kecil ini berada di daerah “pertigaan” laut 
yaitu laut jawa yang berarah barat timur dan selat Makassar yang memotong 
berarah utara-selatan.
   Pola kedalaman laut di Segitiga Masalembo ini sangat jelas menunjukkan 
bentuk segitiga yang nyaris sempurna berupa segitiga sama sisi. Lihat gambar 
dibawah.




     
   Pada peta kedalaman laut atau peta bathymetri diatas dapat dilihat adanya 
bentuk kepulauan yang berbentuk segitiga. Tinggian yang terdiri beberapa 
pulau-pulau ini saya sebut sebagai “SEGITIGA MASALEMBO” atau “THE 
MASALEMBO TRIANGLE“.
 Nah, ada apa saja di daerah seputaran Segitiga Masalembo ini. Coba kita 
buka-buka dikit-dikit ya. Tapi jangan mengharap banyak dari sisi mistisnya, 
akan lebih banyak saya urai sisi kebumian dan kelautannya saja



 
     
   Pertemuan ARLINDO (Arus Laut Indonesia)





Indonesian Throughflow (ARLINDO), indicate the relationship between the 
relationship between ARLINDO and El-Nino Southern Oscillation (ENSO) (Source, 
Gordon, A., 1998)
   Di atas ini digambarkan arus laut di Indonesia, terutama Indonesia Timur. 
Coba perhatikan arus yang melewati Segitiga Masalembo ini. Pada bagian atas 
(garis hijau) menunjukkan air laut mengalir dari barat memanjang di Laut Jawa, 
berupa monsoonal stream atau arus musiman. Arus ini sangat dipengaruhi oleh 
cuaca dan musim. Sedangkan dari Selat Makassar ada arus lain dari utara yang 
merupakan thermoklin, atau aliran air laut akibat perbedaan suhu lautan. Kedua 
arus ini bertemu di sekitar Segitiga Masalembo.
   Yah, tentusaja arus ini akan sangat mempengaruhi pelayaran laut disini. Arus 
musiman ini sangat dipengaruhi juga oleh suhu air laut akibat pemanasan 
matahari tentusaja. Kalau anda masih inget bahwa lintasan matahari itu bergerak 
bergeser ke-utara-selatan dengan siklus tahunan. Itulah sebabnya pada 
bulan-bulan Januari yang merupakan saat perubahan arus musiman (monsoon).
   Apa menariknya dari ARLINDO ini ? Arus ini membawa air laut dingin dari 
Samodra Pasifik ke Samodera Indonesia diduga dengan debit hingga 15 juta 
meterkubik perdetik !!! Dan hampir keseluruhannya melalui Selat Makassar !
   Tentunya aliran air sebesar ini bukan sekedar aliran air saja. Banyak aspek 
lain yang ikut mengalir dengan aliran air sebanyak itu, misalnya akan terdapat 
pula aliran ikan-ikan laut, aliran sedimen laut, juga aliran temperatur air. 
Apa saja efek aliran ini dengan proses kelautannya sendiri ? Wah tentunya 
banyak sekali
   Kalau digambarkan secara mudah barangkali profil selat makassar dapat 
dilihat seperti dibawah ini.





     
   Pada profil dasar selat Makassar diatas terlihat batuan kalimantan dan 
batuan sulawesi berbeda, kalau masih ingat yang aku tulis tentang pembentuka 
Patahan-Patahan Pulau Jawa maka tentunya mudah dimengerti. Hal ini disebabkan 
karena adanya perbedaan mencolok antara Indonesia barat dan Indonesia Timur 
seperti yg ditulis sebelumnya. Kalimantan merupakan bagian dari Paparan Sunda 
(Indonesia Barat) sedang Sulawesi merupakan bagian dari Indonesia Timur. Nah 
garis yang membaginya dulu diketemukan oleh Wallace disebut sebagai Garis 
Wallace (Wallace Line). Garis Wallace ini sebenernya hasil penelitian satwa 
Indonesia Barat-Timur, namun sebenarnya ada juga implikasi atau manifestasi 
dari aspek geologis (batuan penyusunnya).
   Dari Batuannya kita tahu bahwa dibawah selat makasar ini terdapat tempat 
yang sangat kompleks geologinya, diatasnya terdapat selat Makassar yang juga 
memilki karakter khusus di dunia ini dimana mengalirkan air yang sangat besar.
   Apa yang terlihat lagi ? Ya tentunya ada aspek meteorologis yang memisahkan 
antara daerah diatas air dengan daerah diatas daratan yaitu awan. Awan 
merupakan fenomena khusus yang paling banyak dijumpai diatas daratan. Itulas 
sebabnya kalau sedang di tengah laut coba tengok ke atas, carilah awan. Awan 
yang berarak akan lebih banya terdapat di daratan ketimbang di atas lautan 
seperti gambaran diatas.




Apa lagi selain awan ?
 Angin, ya angin juga akan berhembus karena perbedaan tekanan udara panas. Pada 
malam hari saat bertiupnya angin darat, para nelayan pergi menangkap ikan di 
laut. Sebaliknya pada siang hari saat bertiupnya angin laut, para nelayan.
   Perubahan angin darat laut karena suhu ini berubah dalam siklus harian, 
namun tentunya ada juga siklus tahunannya atau disebut siklus monsoon. Looh 
Monsoon, kok sepertinya juga ada monsoonal stream yang ada di Arlindo digambar 
atas. Ya, memang itulah siklus-siklus arus angin, siklus air itu bertemu 
bercampur di segitiga Masalembo ini. Runyem kan ?
   Seringkali daerah Segitiga Bermuda dihubungkan dengan kondisi magnetisme. 
Adakah peta magnetik daerah Segitiga Masalembo ini ?
   Nah aku beri sekarang peta deklinasi magnetik secara global seperti dibawah 
ini.










   Tiga peta diatas menunjukkan intesitas magnetik total, peta deklinasi, dan 
perubahan deklinasi tahunan (sumber NOAA). Kalau tertarik detilnya tinggal di 
klik saja. Yang dapat dilihat dalam ketiga peta itu adalah, tidak adanya 
sesuatu yang mencolok baik di Segitiga Bermuda maupun di Segitiga Masalembo. 
Memang sejak dulu seringkali yang menyatakan adanya keanehan kompas magnetik 
apabila melalui daerah angker ini. Secara fisik (pengukuran magnetik) tidak 
terlihat anomali itu. Hanya terlihat bahwa Indonesia secara umum merupakan 
daerah yang memiliki deklinasi dan iklinasi sangat kecil. Dan merupakan daerah 
yang memiliki total intensitas magnetik rendah, barangkali karena Indonesia 
merupakan daerah yang relatif “muda” dibandingkan daerah2 lain.
   Kalau dibandingkan dengan Segitiga Bermuda, lokasi Segitiga Masalembo juga 
tidak menunjukkan keanehannya. Sepertinya keangkeran segitiga Masalembo ini 
lebih ditentukan oleh faktor gangguan alamiah yang bukan mistis. Yang mungkin 
paling dominan adalah faktor meteorologis termasuk didalamnya faktor cuaca, 
termasuk didalamnya angin, hujan, awan, kelembaban air dan suhu udara yang 
mungkin memang merupakan manifestasi dari konfigurasi batuan serta kondisi 
geologi, oceaografi serta geografi yang sangat unik.



     
   Kalau memang Masalembo Triangle ini banyak menimbulkan masalah transportasi 
(lalulintas), tentunya perlu rambu-rambu lalulintas laut yang lebih canggih 
ditempatkan di lokasi ini. Tetapi bukan berarti zona terlarang masa sih kita 
tidak boleh melewatinya sepanjang masa. Misalnya mercusuar khusus, penempatan 
radar pemantau. Juga yang tak kalah penting penelitian saintifik tentang 
perilaku arus air laut, serta cuaca di daerah ini.





          
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!




       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers
     
                                       

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke