Referensi dari milis tetangga

   * *

**

*Kita datang ke dunia ini sebagai saudara, tapi mengapa kita mesti diikat
pada daging dan darah, yang ternyata hanya memisahkan kita?"*

Cinta itu tidak mengenal batas. Ia bisa lintas bangsa, ras, suku, dan agama.
Cinta abadi juga tidak bisa diikat oleh sang waktu, bahkan oleh kematian
sekalipun. Dalam legenda Sam Pek dan Eng Tay, cinta abadi mereka menjelma
dalam sepasang kupu-kupu kuning yang terbang ke utara.

Tragedi cinta antara sepasang kekasih yang berdarah Cina dan Jawa menjadi
sentral cerita novel *Putri Cina* yang ditulis oleh *Sindhunata *ini.  Tokoh
Putri Cina dalam novel ini melesat menembus waktu dan jaman, antara jaman
Majapahit hingga kerusuhan Mei berdarah 1998. Dia hadir sebagai Putri Campa
pada jaman Prabu Brawijaya, Roro Hoyi pada jaman Amangkurat, Eng Tay pada
legenda Sam Pek dan Eng Tay, dan hadir sebagai sosok Giok Tien pada masa
"kerajaan Medang Kamulan Baru".

Tragedi berdarah yang menimpa keturunan etnis Cina selalu berulang.
Celakanya mereka tidak pernah belajar dari sejarah. Sindhunata melakukan
otokritik terhadap etnis Cina yang tidak pernah belajar dari sejarah
(kebetulan Sindhunata juga berdarah Cina, berayahkan Liem Swie Bie dan
beribu Koo Soen Ling). Orientasi etnis Cina yang ada di tanah Jawa selalu
mengejar harta dan kekayaan dunia, melupakan tradisi leluhur bangsa Cina.
Akibatnya mereka menjadi kelompok kaya elitis yang berada di tengah-tengah
mayoritas etnis Jawa yang tertinggal secara ekonomi. Keahlian mereka di
bidang perniagaan dimanfaatkan betul  oleh penguasa, sejak jaman Belanda
hingga sekarang. Mereka tidak sadar sedang dijadikan sapi perah, dan siap
dikorbankan sewaktu-waktu.  Kondisi ini secara laten bisa meledak sebagai
bom waktu. Dan bom itu benar-benar meledak (atau tepatnya "diledakkan")
ketika pecah kerusuhan Mei 1998.

Tragedi Putri Cina yang diwakili oleh tokoh Giok Tien dalam peristiwa
kerusuhan Mei 1998 oleh Sindhunata diubah layaknya lakon ketoprak dengan
mengganti nama masa Orde Baru dengan nama Kerajaan Medang Kamulan Baru,
dengan raja bergelar Amurco Sabdo. Di sana muncul intrik antara senapati
Gurdo Paksi, Patih Wrehonegoro, dan lurah prajurit Tumenggung Joyo Sumengah.
Lakon ini mengingatkan pembaca pada perseteruan antara Wiranto dan Prabowo.
Putri Cina digambarkan sebagai istri dari senopati Gurdo Paksi yang kemudian
menjadi korban intrik tingkat tinggi hingga Giok Tien ternodai harga diri
kewanitaannya oleh syahwat kuasa Amurco Sabdo dan menjadi rebutan antara
Tumenggung Joyo Sumengah dan Gurdo Paksi. Keduanya telah menaruh hati kepada
Giok Tan semenjak dia menjadi primadona ketoprak keliling Sekar Kastubo.
Pada kenyataanya cinta Giok Tien hanya untuk Gurdo Paksi, yang waktu itu
masih prajurit bernama Setyoko. Cinta Giok Tien yang Cina, dan Setyoko yang
Jawa terjalin sudah. Dan itu membawa dendam kekalahan bagi Tumenggung Joyo
Sumenggah yang juga termehek-mehek mengharap cinta dari Giok Tien.

Novel ini sangat menyentuh dan mampu mengungkap sisi kelam sejarah dan latar
belakang budaya Cina-Jawa serta intrik politik yang melatarbelakangi
berbagai peristiwa kerusuhan yang  menjadikan etnis Cina selalu sebagai
korbannya.

*Di dunia ini semua manusia menanggung nasib yang sama, karena kita hanyalah
debu. Cina dan Jawa , sama-sama debunya. Mengapa kita mesti bertanya,
siapakah kita? Toh dengan dilahirkan di dunia, kita semua adalah saudara?*





Book from my friend : Hartono – *Supervisor of* *Training Mobilization
(USAID Project)*




<<image001.jpg>>

Kirim email ke