Tokoh Agama Bersatu Tolak Film Belanda Meresahkan
 Jumat, 14 Maret 2008 | 08:35 WIB

*Keresahan tingkat tinggi tengah melanda para pemuka agama di Indonesia.
Bahkan, Ketua PBNU, Hasyim Muzadi, mengibaratkan akan ada limbah berbahaya
akan segera menyerang komunitas umat beragama Indonesia. Keresahan itu
bermula dari kabar yang disampaikan duta besar Belanda, Nikolaos van
Dam,akhir pekan lalu. Kabar apa yang begitu membuat resah tersebut ?
*

Suasana kantor PBNU di Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (13/3) siang tampak
berbeda. Tak seperti biasanya. Gedung berlantai delapan itu kedatangan tamu
para pemuka agama yang khusus diundang Ketua PBNU, KH Hasyim Muzadi.
Beberapa diantaranya yang hadir adalah Ketua Konferensi Wali Gereja
Indonesia, Mgr M.D Situmorang, Ketua Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia,
Pdt.A.A Yewangoe. Mereka berkumpul untuk menyatakan penolakan terhadap
"tamu" yang dianggap bakal merusak harmoni kehidupan beragama di Indonesia.

Hasyim lalu bercerita panjang lebar. Akhir pekan lalu, ia kedatangan tamu
duta besar Belanda untuk Indonesia, Nikolaos van Dam. Kepada Hasyim, van Dam
yang menguasai bahasa Arab, bercerita perihal kabar yang tengah geger di
Belanda. Kabar itu adalah soal rencana seorang anggota parlemen Belanda dari
Partai Kebebasan, Geert Wilders yang tengah siap meluncurkan filmnya. Bukan
film biasa. Wilders yang diketahui sebagai orang atheis, tengah menyiapkan
film yang konon berisi hujatan terhadap agama islam dan Al-Qur'an.

Dikatakan Hasyim, dirinya memang belum tahu langsung film tersebut. Namun,
dari bocoran yang disampaikan Nikolaos van Dam, dirinya mengaku punya
gambaran, betapa berbahayanya film tersebut. "Dari yang saya dengar dari
dubes Belanda, dalam film itu, Wilders mencomot ayat-ayat Al-Qur'an kemudian
diberi visual semisal terorisme, hukuman yang berlaku dalam islam, atau juga
poligami. dan dari sumber yang bisa dipercaya, dampaknya akan sangat luar
biasa," kata Hasyim dengan mimik serius.

Hasyim lalu mencontohkan bagaimana reaksi umat Islam ketika kartun nabi
Muhammad yang dimuat oleh koran Denmark, beredar di internet. "Itu baru
karikatur umat marahnya bukan main. Apalagi kalau ada tayangan visual,"
katanya.

Hasyim mengatakan, oleh Perdana Menteri Belanda, Jan Peter Balkenende,
Wilders sudah diingatkan agar mengurungkan niatnya itu. Tapi, sesuai
namanya, Wilders tetap liar (wild). Dia tak mau berhenti. Wilders kabarnya
juga sempat melobi sejumlah stasiun televisi di Belanda untuk menyiarkan
kreasinya itu. Tapi, tak ada stasiun TV yang berani. Kabar terakhir, Wilders
berniat menyebarkan itu lewat internet. "Kalau sudah masuk ke internet, akan
sulit dibendung," lanjut Hasyim.

Selain melakukan penolakan, berkumpulnya para pemuka agama tersebut
sekaligus juga sebagai early warning (peringatan dini). Hasyim menyebut,
jika beredar di Indonesia, ia khawatir, umat Islam yang tidak paham, akan
mengira bahwa film tersebut adalah serangan dari luar Islam untuk mencederai
Islam. Hasyim berharap, kalaupun film Wilders itu tetap beredar, umat Islam
tidak akan salah paham. "Saya khawatir kalau umat Islam salah paham dan
menganggap film itu disebarluaskan oleh kalangan non Islam untuk menyudutkan
Islam. Itu bisa mengancam harmoni yang sudah terbentuk. Padahal yang membuat
kan orang atheis," kata Hasyim.

Kesepakatan penolakan itu dibacakan oleh Ketua KWI, Mgr.M.D Situmorang,
dengan lantang dan serius. Situmorang mengatakan, penolakan tersebut
dilakukan untuk menyelematkan harmoni diantara umat beragama yang selama ini
terbangun dengan sangat baik. "Kami juga ingin buktikan bahwa munculnya film
itu, bukan hanya umat Islam yang akan dihujat, tapi juga umat beragama pada
umumnya. Film ini tidak hanya akan mencederai umat Islam, tapi juga bisa
menciptakan ketegangan baru. Karena itu kami menolaknya," ujarnya.

Ia mengatakan, para pemuka agama akan terus berupaya menyerukan kepada
pemerintah Indonesia agar mencegah penyebaran film membahayakan tersebut.
Hasyim kembali menuturkan, para pemuka agama berharap pemerintah kerajaan
Belanda dapat berusaha maksimal untuk mencegah pemutaran film dan
penyebarannya. Dan pemerintah Belanda berjanji akan melakukan tindakan tegas
terhadap sesuatu yang bisa meresahkan. Tapi, sekarang ini,  pemerintah
Belanda belum bisa mengambil tindakan terhadap Geert Wilders. Sebab, film
itu belum beredar.

Hasyim juga menolak tegas jika penolakan yang mereka lakukan melanggar asas
kebebasan berekspresi. "Tidak bisa kita bebas berekspresi dengan mencederai
kebabasan yang lain," lanjut mantan cawapres ini," pungkas Hasyim.*(Persda
Network/Hadi Santoso)
*


**

*NB : Ya Allah.. mohon engkau lapangkan hati kami semua.. agar
sabar..tawakal.. dan ampunkanlah dosa bagi orang2 yang menebar fitnah atas
agama kami, berikanlah  mereka  Hidayah dan Petunjuk bagi orang2 yang
membuat kami-kami merasa tak lagi tenang. Kami Tahu Engakau Maha Segala NYA.
Amien.
*

Kirim email ke