Ketua MPR: Belanda Seharusnya Tak Membuka Luka lama ** Jumat, 28 Maret 2008 | 12:53 WIB
*JAKARTA, JUMAT -* Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengecam diproduksinya film "Fitna" oleh produser film di Belanda.Bagi Indonesia, yang mayoritas penduduknya Muslim, hal ini akan menimbulkan sakit hati. Apalagi, film itu berasal dari negara yang pernah menjajah Indonesia selama lebih dari 300 tahun. Demikian dikatakan Hidayat Nur Wahid, Jumat (28/3). Hidayat pun menyatakan sepakat dengan apa yang telah dilakukan KH Hasyim Muzadi dan sejumlah tokoh agama KWI dan PGI dengan mengeluarkan kecaman terhadap film itu. "Belanda seharusnya tidak perlu menorehkan luka lama. Belanda seharusnya belajar dari kesalahan masa lalu," kata Hidayat. Ia juga mengatakan, tanpa mengabaikan hak kebebasan berekspresi, dengan melihat peristiwa yang pernah terjadi seharusnya hal-hal seperti ini tidak perlu terjadi. Apalagi PBB sudah mengeluarkan sebuah resolusi untuk mereka yang mengatasnamakan kebebasan berekspresi namun dengan menistakan agama. "Makanya saya berharap jangan sampai diputar atau masuk ke Indonesia. Masih banyak hal lain yang lebih penting yang butuh kita pikirkan," tandasnya. Masyarakat pun diimbaunya tak terjebak dengan kontroversi. Mengingat, film tersebut dibuat oleh seorang politisi yang mungkin saja menggunakan film itu sebagai bagian dari strategi politiknya. *(ING)*
