Semoga tidak diedit atau diblacklist dari milis ini. Ini hanya
menceritakan sudut pandang saya saja. Terima kasih untuk moderator
yang berbesar hati untuk tetap memuat posting ini.

Hanya ingin berbagi sedikit curahan isi hati saja, karena banyak
training atau panduan bagi kita semua untuk menulis, mengedit sampai
ke menerbitkan buku sendiri.

Tetapi teman-teman, apa benar tugas kita hanya berada di sana?

Bagi saya pribadi, TIDAK! Bukan di sana garis tujuan kita. Garis akhir
kita adalah buku kita akhirnya menjadi buku-buku 'evergreen',
buku-buku yang akan selalu digunkan sepanjang masa, misalkan :
Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain - karya Dale
Carnegie dan lainnya.

Tentu saja untuk bisa sampai ke tahap itu, yang kita perlukan bukanlah
keahlian menulis, bukan juga teknis menulis atau teknis mengedit dan
menerbitkan buku sendiri. Memang, dengan kita mengetahui cara
menerbitkan buku sendiri, kita bisa lebihmudah menghadapi penerbit.
Memang saat tidak ada penerbit yang mau menerbitkan buku kita, bisa
kita terbitkan sendiri. Memang, dengan bisa melakukan itu semua, maka
buku kita bisa cepat beredar.

Tetapi ada banyak hal yang harus kita ketahui sebelum memutuskan untuk
menerbitkan buku sendiri, diantaranya:
1. Modal bagi kita untuk menerbitkan buku.
   Bukan merupakan hal yang murah untuk menerbitkan buku. Andaikan
saja kita menerbitkan satu buku dan memerlukan ongkos cetak perbukunya
adalah Rp 5.000,00 dengan catatan minimum cetak 2000 eksemplar. Maka
kita sudah harus mengeluarkan modal sebesar Rp 10 juta hanya untuk
percetakan. Belum lagi biaya layout buku kita, biaya design sampulnya,
serta biaya lain-lainnya. Bisa bayangkan berapa banyak modal yang kita
butuhkan?

2. Waktu kita menjadi sangat terbatas untuk menulis buku selanjutnya.
   Sebab kita harus mengurusi segala administrasi sendiri (meski yang
paling sederhana sekalipun, tetap menyita waktu kita). Karena waktu
kita banyak tersita untuk semua hal itu (apalagi kalau kita bukan
penulis penuh waktu alias pada siang hari masih bekerja, bisa
membayangkan bahwa sore atau malam masih mengurusi administrasi?). 
Itu baru waktu untuk administrasi, belum lagi kita harus mengurus
distribusinya. Tentu semakin banyak waktu yang harus kita luangkan.Dan
tahukah teman-teman ada berapa cabang toko buku di Indonesia (anggap
Gramedia, Gunung Agung, Karisma, Uranus, Toga Mas saja yang kita
hubungi, sudah bagaimana proses penagihan fakturnya, bagaimana dengan
pengiriman stoknya, bagaimana proses kalau ada retur dari toko buku
tersebut dan lainnya. Hm......jangan-jangan kita berhasil menerbitkan
satu buku tetapi itu menjadi buku kita yang terakhir karena kita sibuk
dan stress mengurusi itu semua.

3. Promosi dan pembayaran dari buku-buku yang terjual.
   Sudahkah kita memikirkan apa promosi yang akan kita lakukan? Dan
jika kita ingin menghindari semua hal-hal tersebut di atas, kita bisa
dengan mudah mengatakan bahwa saya akan menyerahkan buku-buku saya
untuk didistribusikan oleh sebuah distributor tunggal. Tetapi
pertanyaan yang muncul selanjutnya, berapa banyak buku kita yang bisa
terjual dalam satu bulan? Apakah kita menerima pembayaran dari toko
buku itu untuk semua buku yang kita masukkan, atau hanya untuk yang
terjual saja? Berapa lama kita bisa mulai menagih faktur kita?

4. Jangan membayangkan bahwa kita bisa mendapatkan uang banyak denganc
cepat melalui menerbitkan buku sendiri! 
   Memang benar harga buku yang dijual di pasaran bisa dijual antara
4-8 kali lipat dari harga cetak buku kita. Tetapi sudah kita bahas
soal modal kita, waktu yang terbuang juga serta berbagai birokrasi
saat kita mendistribusikan buku sendiri. Apakah ini berarti kita
jangan meneruskan karya kita? TIDAK teman-teman! Yang paling penting
bagi kita adalah bagaimana kita bisa menghasilkan karya yang baik.
Karya yang bisa memberikan pendidikan untuk bangsa secara keseluruhan
tetapi sekaligus menghasilkan untuk kita. Jika kita bisa menghasilkan
karya seperti itu, maka dijamin :
 a. Karya kita akan diterbitkan oleh penerbit, sehingga kita tidak
perlu mengeluarkan biaya cetak, design, promosi dan biaya lainnya.
 b. Karya kita akan mendapatkan promosi yang layak sehingga bisa
mendongkrak penjualan buku.
 c. Mungkin kita hanya mendapatkan 10% dari harga jual buku, tetapi
ingat...itu dikalikan jumlah buku yang dicetak. jadi bisa dikatakan
meski 10% tetapi hasilnya lebih besar dan kita tidak keluar modal
untuk itu semua.
 d. Jika karya kita sudah pernah diterbitkan oleh penerbit tertentu,
untuk karya kita selanjutnya akan lebih mudah diterima. Bandingkan
kalau anda terbitkan sendiri, apa yang akan terjadi?

Saya tidak mengatakan jangan berkarya, jangan menerbitkan buku sendiri
atau jangan yang lain-lainnya.
Yang ingin saya sampaikan hanyalah apa saja kenyataan yang akan
teman-teman hadapi jika ingin menerbitkan buku sendiri. Semoga bisa
bermanfaat sedikit bagi pengalaman dari saya, mewakili seluruh
distributor buku di Indonesia ini.

Salam sukses dan terus berkarya,

Leonardus Budi Suryanto

Kirim email ke