Jum'at, 28 Maret 2008 23:56 WIB Pembuat 'Ketika Cinta Bertasbih' Mohon Restu PP Muhamadiyah
*JAKARTA--MI:* Para pembuat film *Ketika Cinta Bertasbih* termasuk sutradara Chaerul Umam dan penulis novelnya, Habiburrahman El Shirazy, Jumat berkunjung ke kantor pusat PP Muhamadiyah Jakarta dan memohon restu dari Din Syamsudin. Dalam pertemuan, Ketua PP Muhamadiyah Din Syamsudin mengatakan sangat mendukung pembuatan film yang sarat dengan nilai-nilai edukasi dan pencerahan. "Masyarakat kita, terutama masyarakat muslim sangat mendambakan munculnya film yang mencerahkan, mencerdaskan, dan menggugah daya rasa dan pikiran," kata Din. Menurutnya, hingga saat ini kondisi perfilman dan pertelevisian nasional cenderung masih mengkhawatirkan, banyak karya film dan sinetron yang hadir justru telah kehilangan fungsi edukasi dan pencerahan. Sekarang ini, katanya, film dan sinetron yang ada kebanyakan justru membodohi masyarakat, dan dirinya melihat melihat ada upaya pembodohan massal yang dilakukan secara sistematis. *Ketika Cinta Bertasbih* adalah novel kedua Habiburrahman (Kang Abik) yang diangkat ke layar lebar, setelah *Ayat-Ayat Cinta* yang sampai saat ini laris di pasaran. Sinemart Pictures merencanakan film tersebut sudah bisa beredar pada akhir tahun ini. Selain Chaerul Umam, sineas terkenal yang dilibatkan untuk pembuatan film tersebut di antaranya Imam Tantowi sebagai penulis skenario, dan El Badrun (Saur Sepuh) sebagai penata seni (*art director*). Sesuai novelnya, film itu berkisah tentang sosok Abdullah Khairul Azzam, seorang mahasiswa Indonesia dari pelosok desa di pulau Jawa yang melanjutkan studi di Mesir. Dua tahun menjalani pendidikan, kabar duka datang, ayahnya meninggal dunia. Sebagai tulang punggung keluarga, Azzam kuliah sambil bekerja di Mesir, membuat bakso dan tahu. Kang Abik mengatakan, kisah dalam novel ini terispirasi saat saya mengajar di Solo. Waktu itu, saya menemukan mahasiswa yang gamang, mau lulus malah takut kehilangan status karena tidak dapat kerja dan menjadi pengangguran. "Saya ingin mengajak anak muda untuk tidak hanya berprestasi di akademik, tapi mengajak anak-anak muda ini juga untuk berprestasi di bidang lain. Sehinga tumbuh kemandirian. Saya lebih senang menyebut novel ini sebagai novel motivasi," katanya. Sementara itu, humas SinemArt, Azis, mengakui pihaknya masih mencari para pemain untuk terlibat dalam penggarapan film tersebut. Lokasi syuting direncanakan di Solo dan Klaten serta di Kairo dan Alexandria, Mesir. "Siapa pun boleh ikut (*casting*). Tapi ada syaratnya, kita berharap mereka sudah pernah membaca bukunya, sehingga *feel*-nya dapat," katanya. (Ant/OL-03) NB : Novel ketika cinta bertasbih.. sangat Bagus.. perjuangan seorang pemuda indonesia yang sederhana dan bersahaja mempunyai keimanan yang tak perlu diragukan dan belajar memperdalam ilmu agama diluar , merangkap menjadi penjual tempe..untuk mengirim nafkah pada ibu dan adik2 perempuannya di Indonesia. Novel ini juga memperlihatkan Keagungan cinta..dan menunjukkan KEBESARAN & KEHEBATAN SANG PENCIPTA, Kalau memang Cinta dan Jodoh sudah ditetapkan / digariskan ALLAH.. kemanapun dan selama apapun waktu telah berlalu, banyak kejadian yang mungkin sudah terjadi, suatu saat nanti pasti dipertemukan dan dimiliki karena Kuasa Ilahi,.Percayalah !!!!!! Kita harus mempercayai dan mengingat bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini adalah merupakan ketentuan dan karena Ridho ALLAH. (yy) "Selamat Berakhir pekan bersama orang2 yang kita sayangi "
