*Rabu, 2 April 2008* *Ditolak Sekolah, Habiskan Waktu di Warung Kopi * *Melihat Kehidupan Penyandang Autisme dari Keluarga Tak Mampu*
[image: DISKUSI: Orangtua anak penyandang autisme berkumpul untuk berdiskusi dan bertukar pikiran. FOTO CHAIRUNNISA/PONTIANAKPOST] *Pontianak,-* Melihat sang anak Penyandang autisme yang terlahir di lingkungan keluarga berada lebih beruntung. Mereka mempunyai banyak kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Mereka juga bisa menjalani terapi untuk hidup normal. Namun, bagi penyandang autisme yang terlahir dari keluarga miskin, hanya hidup dengan dunianya sendiri.Tak ada kawan. Bahkan, hanya mengisi waktu di warung kopi. Chairunnisya, Pontianak Seperti diungkapkan Sumiati (58) kepada Pontianak Post. Hatinya remuk. Air mata berulang kali menetes. Terlebih lagi saat melihat Yusmita (13). Tidak ada sekolah yang mau menerimanya. Karena Yusmita berbeda dengan anak-anak lainnya. Walau bingung, Sumiati berusaha mengobati anaknya. Belasan dukun kampung didatanginya. Puskesmas juga sudah dikunjunginya. Namun, Yusmita tetaplah Yusmita. Hidup di dunianya saja. Sambil sesekali membantu Sumiati di warung kopi. "Selama ini, saya menanggung beban ini. Suami saya hanya petani dan sibuk menggarap sawah. Saya sendiri buka warung kopi. Suami saya tidak peduli dengan keadaan Yusmita, karena sibuk di sawah," ujar warga Sungai Ambawang ini kepada Pontianak Post, dua hari lalu. Menurut Sumiati, Yusmita dari balita sudah terlihat berbeda dengan balita lainnya. Dia baru bisa berjalan ketika berumur dua tahun. Yusmita juga jarang berbicara. "Sudah saya obat, baik ke kampung ataupun ke Puskesmas. Tapi tetap saja. Mau dibawa ke dokter tidak mampu karena tidak ada uang," kata Yusmita. Saat Yusmita berusia lima tahun, Sumiati menyekolahkannya di Taman Kanak-kanak. Namun, ketika akan masuk sekolah dasar, Yusmita berulang kali ditolak. Akhirnya, ada sebuah madrasah menerima Yusmita. Namun, hanya berlangsung satu tahun saja. "Saat akan naik kelas dua, sekolah angkat tangan. Mau di sekolahkan di sekolah swasta, saya juga tidak punya uang. Akhirnya, setiap hari saya membawa Yusmita ke warung kopi. Dia bisa membantu saya mencuci piring dan melayani tamu," ungkap Sumiati. Belasan tahun Sumiati hidup menanggung beban di hati. Tidak ada tempat berkeluh kesah tentang keadaan Yusmita. Akhirnya, setahun lalu, dia membawa Yusmita ke seminar tentang anak-anak penyandang autisme. "Di sana baru saya bisa menumpahkan perasaan saya. Saya bertemu dengan orangtua penyandang autisme lainnya. Saya bisa bertukar pikiran," kata Sumiati. Saat ini, ujar Sumiati, dia hanya ingin menyekolahkan Yusmita saja. Dia ingin Yusmita seperti penyandang autisme lainnya. Bisa mengembangkan bakat. "Yusmita sangat pintar menyanyi. Hanya saja dia malu jika banyak orang," aku Sumiati dengan mata berbinar. Ketua Parents Spot Group Anak Autisme Pontianak, Wiwik (46) mengatakan masih banyak penyandang autisme dari keluarga tidak mampu. Namun, dia berusaha menyadarkan orangtua anak penyandang autisme, bahwa autisme bukan akhir dari segalanya. Masih banyak yang bisa dikembangkan. Hanya saja, selama ini banyak orangtua yang berusaha memecahkan masalah mereka sendiri. "Melalui Parent Spot Group, para orangtua penyandang autisme bisa berkumpul. Di Pontianak, termasuk di Indonesia tidak ada data tetap tentang jumlah penyandang autisme. Di Parent Spot Group ini, anggotanya sudah 80 orang. Kita berkumpul dan saling bertukar pikiran," ungkap Wiwik. Wiwik juga menilai pemerintah Kota Pontianak tidak mempunyai perhatian terhadap penyandang autisme. Padahal angka perkembangan autisme cukup pesat. Berdasarkan data yang ada, kata Wiwik, jumlah kejadian autisme di Amerika yaitu 1: 150 anak, di Inggris sebanyak 1: 100 anak, di Australia sebanyak 1: 50 anak, dan di Indonesia sebanyak 1: 500 anak. "Maka itu, kita sangat mengharapkan pemerintah. Bagi orangtua anak penyandang autisme, bisa berkumpul bersama kita. Bisa menghubungi saya langsung di 081345250189," ujar Wiwik, yang tidak segan bertukar pikiran dengan orangtua anak penyandang autisme di mana saja. Autis merupakan kelainan perilaku dimana penderita hanya tertarik pada aktivitas mentalnya sendiri, seperti melamun atau berkhayal. Gejala ini umumnya mulai terlihat ketika anak berumur tiga tahun. Beberapa waktu lalu, saat berkunjung ke Pontianak Post, Sekretaris Yayasan Autisma Indonesia Jakarta, Dra Dyah Puspita, menegaskan autisme bukan gangguan jiwa. Autistic bisa ditangani sejak dini, secara kontinu, dan perbaikan secara signifikan. Gangguan yang harus sudah tampak sejak usia di bawah tiga tahun ini, gejalanya meliputi aspek gangguan komunikasi, gangguan interaksi kualitatif, dan gangguan perilaku. Banyak hal yang bisa dilakukan seluruh keluarga, antara lain kemandirian, bila masalah ditangani secara terpadu, komprehensif, intensif dan kontinu. "Sudah terlalu banyak contoh kasus di seluruh dunia menunjukkan bahwa bila anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan autistik ini ditangani dengan kasih sayang keluarga serta pola asuh yang tepat, banyak perbaikan dapat diperoleh," ujarnya. (*)
