*Kamis, 3 April 2008*
*Kirim SMS ke SBY, Tulis … Itu Sih Presiden Tempe
* *Kisah Felix Setiawan Hidayat; Kepala TK Dipenjara karena SMS Presiden?*

[image: KASUS SMS : Ivonm menjelaskan nasib yang dialami anaknya. Foto
Shando Safela/Pontianak Post]

*Pontianak,-*  Ivon (70) merasa resah. Hari tuanya mulai terusik. Sang anak,
Felix Setiawan Hidayat (37), yang berprofesi sebagai Kepala Taman
Kanak-Kanak tak pulang. Felix sudah hampir 20 hari mendekam di penjara. Dia
mengatakan Presiden SBY sebagai presiden tempe melalui short message service
(SMS). Benarkah?

Catatan Chairunnisya, Pontianak

PINTU sebuah rumah di Gang Rambutan Jalan Komyos Sudarso Pontianak tertutup
rapat, Rabu (2/4) pukul 14.00 WIB. Di bagian atas tertempel papan
bertuliskan TK Karitas, SIO No 5771/114/R/1987. Berulang kali wartawan koran
ini mengetuk pintu pagar, yang juga tertutup rapat. Berulang kali
mengucapkan selamat siang. Tak juga ada jawaban.

Selang 10 menit, keluar seorang perempuan. Hanya mengenakan daster cokelat
bercorak batik. Setelah berbincang saling mengenalkan diri, dia pun mengajak
ke dalam. "Maaf, saya tinggal sendirian. Sekarang ini, jika ada tamu asing,
tidak saya bukakan pintu," ujarnya ramah.

Di ruangan dalam rumah, terdapat sedikitnya 40 kursi. Di dinding terdapat
poster-poster bergambar pakaian daerah, abjad dan angka-angka. Juga terdapat
miniatur rumah-rumah ibadah dari seluruh agama di Indonesia.

Ivon mengaku saat ini hanya tinggal sendiri. Anaknya, Felix sudah hampir 20
hari mendekam di balik jeruji besi Polda Kalbar. Sunyi semakin terasa saat
malam datang. "Kalau pagi, masih ada anak-anak yang belajar. Saya juga bantu
mengajar karena Felix tidak ada. Saya juga tidak tahu kapan Felix pulang.
Anak-anak juga setiap hari tanya kapan Felix pulang. Saya bingung mau jawab
apa," kata Ivon.

Ivon menceritakan, awal ditangkapnya Felix ini bermula dari kasus sengketa
tanah hingga berujung SMS kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan
istrinya, Anni Yudhoyono.

Kejadian bermula ketika Felix ingin memperluas Taman Kanak-Kanak miliknya.
Dia membeli sebidang tanah di sebelah rumahnya sekaligus TK, seluas 110
meter persegi. Tanah tersebut milik tetangganya. Setelah ada sertifikat,
Felix pun hendak memagar tanah tersebut, untuk dijadikan tempat bermain
anak-anak. Sebagian besar murid-murid TK tersebut berasal dari keluarga
tidak mampu.

"Tapi ternyata tidak boleh sama tetangga di belakang. Katanya kena tanah
mereka. Sudah diukur sama BPN, ternyata memang tanah kita. Bahkan, saat akan
bangun, ada yang datang dan tinju Felix. Akhirnya sampai sekarang tidak
dibangun," ujar Ivon.

Namun, Felix tidak menyerah. Dia berusah mengadukan masalah tersebut hingga
ke presiden. Setelah mendapatkan nomor pengaduan milik SBY, Felix pun
berulang kali mengadukan masalah tersebut. Namun, tidak ditanggapi. Lantas
Felix kembali mendapatkan nomor pengaduan Ibu Ani SBY, dan juga mengadukan
masalah tersebut. Namun, tetap tidak ditanggapi.

Akhirnya, Felix mengirim SMS berisikan kritikan kepada SBY. "Soal tempe kok
turun langsung. Kenapa masalah pendidikan tidak. Itu sih presiden tempe".

"Itu SMS yang saya tahu. Tapi yang lainnya saya tidak tahu," kata Ivon.

Akhirnya, Sabtu (15/4) sekitar pukul 23.30 WIB, rumah mereka didatangi
sekitar 10 orang. Mereka mencari Felix.

"Saat itu saya masih di kamar. Lalu saya keluar untuk buang air. Setelah itu
saya intip, mereka memeriksa kamar Felix. Mereka juga periksa kamar saya.
Semuanya digeledah, juga bongkar lemari. Mereka juga bawa uang saya turun
dan tanya jumlahnya. Tapi uang saya tidak dibawa. Felix yang dibawa pergi
sama laptop, printer, dan tiga handphone. Mereka hanya ngomong SMS," cerita
Ivon.

Selepas penahanan Felix, Ivon menjadi bingung. Dia beberapa kali menjenguk
Felix, dan Felix menceritakan soal SMS SBY tersebut. Akhirnya, Ivon meminta
pendampingan dari Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP).
Penanggungjawab FRKP, Br Stephanus Paiman OFM Cap mengaku telah menerima
surat pernyataan dari orangtua murid dan pihak keluarga, yang meminta
pendampingan untuk kasus Felix tersebut.

"Tapi kan kita tidak mau terjebak dalam melakukan pendampingan. Makanya,
saya cek cerita ke keluarga, ke Felix dan ke Kabid Humas Polda Kalbar,
ternyata ceritanya sama. Yaitu soal SMS berisi penghinaan kepada kepala
negara," ujar Stephanus, kemarin.

Ketika melihat siswa-siswa yang belajar di sana, dia pun bersedia melakukan
pendampingan. Karena sebagian besar siswa berasal dari keluarga tidak mampu.
"Kita bersedia mendampingi. Tapi kasus awal yaitu sengketa tanah tidak bisa
didiamkan. Kita akan menghubungi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia,"
kata Stephanus.

Stephanus menambahkan dia juga sudah bertemu Felix. Felix bersedia meminta
maaf dan menulis surat langsung kepada Presiden SBY dan istrinya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Pontianak Post, Kabid Humas Polda Kalbar,
AKBP Suhadi SW mengatakan Felix ditahan bukan atas kasus penghinaan terhadap
kepala negara. Menurutnya, Felix ditangkap karena adanya pengaduan
masyarakat yang merasa dirugikan. Masyarakat yang tinggal di Jalan KH Wahid
Hasyim tersebut dituduh Felix sebagai teroris dan menerima dana dari
Singapura. Felix juga dianggap telah menyebarkan kabar tersebut melalui SMS.
Polisi pun mengecek kabar tersebut, ternyata memang ada masyarakat yang
menerima uang dari Singapura. Namun, bukan dari jaringan teroris, melainkan
dari keluarganya sendiri untuk sekolah anaknya.

"Masyarakat lapor ke polisi. Langsung kita cek dengan alat canggih. Ternyata
indikasi mengarah ke Felix. Makanya Felix diperiksa di kantor atas tuduhan
fitnah," ujar Suhadi.(*)


NB : Kasian dan Prihatin.. itu yang ada dipikiran saya, Terlepas  DARI salah
atau benar.., Wajib seseorang yang sedang menjalani masalah / Proses  hukum
mendapatKAN  perlindungan hukum juga karena itu merupakan HAK nya  sebagai
WARGANEGARA. Dan  KARENA NEGARA KITA MENGKEDEPANKAN LADASAN  PENEGAKKAN
HUKUM.

Selamat... ini PR penting buat para Advokat....dan Mereka menanti uluran
bantuan hulkum  anda2 sebagai pembela. (yy)

Kirim email ke