Paris matikan api Olimpiade!
Headline yang terbaca di koran Kompas kemarin (8 April 2008) membuat 
saya kaget dan terhenyak!

Saya bingung dengan kondisi manusia-manusia yang hidup di muka bumi 
ini. Mengapa? Jelas saja bingung! Pelari yang membawa obor Olimpiade 
Beijing 2008 dikejar dan berusaha dimatikan apinya, ada yang bahkan 
menggunakan tabung pemadam kebakaran (tentu saja berhasil dicegah 
pihak berwajib), sehingga api bisa selamat pada hari-hari sebelumnya.

Tetapi kemudian headline itu muncul dan menusuk jiwa semua pejuang 
olahraga, bukan hanya atlet tetapi semua umat manusia. Tahukah mereka 
bahwa tradisi api yang ada di obor Olimpiade itu adalah lambang 
harapan, lambanga perjuangan tiada henti, lambang kekuatan untuk 
terus bertahan, berjuang dan bahkan pengorbanan untuk bisa menjadi 
pribadi yang lebih baik (lebih kuat, tinggi, jauh, cepat!) dibanding 
dulu.

Iya, memang negara penyelenggara Olimpiade (Olympic) kali ini adalah 
negara China, negara yang banyak 'menjajah' kita dengan produk-produk 
murah namun berkualitas (hayo, jujur saja sekarang ini banyak sekali 
barang berkualitas made in China). Iya, memang sempat terjadi 
konflik 'Tiannanmen' sekian puluh tahun lalu. Iya, memang juga 
terjadi konflik akibat demonstrasi 'Tibet yang ingin merdeka 
sendiri', tetapi come on guys......itu semua adalah masalah ekonomi 
dan politik.

Politik harus dijauhkan dari olahraga, dimana sportivitas, semangat 
juang harus terus dikumandangkan. Dimana keringat dan air mata 
bercampur satu saat mereka semua berlatih, berlomba dan mengalami 
kejatuhan atau pun kemenangan. Olahraga jangan disambung-sambungkan 
dengan urusan politik atau urusan lainnya. 

Jika kali ini hanya api obor Olimpiade yang padam di Paris, saya 
tidak tahu apa yang akan terjadi jika semua atlit yang telah berlatih 
dan siap untuk menunjukkan kepada dunia kebanggaan mereka bisa 
mewakili negaranya masing-masing, harus batal bertanding akibat 
Olimpiade dibatalkan. 

Saat Olimpiade dibatalkan, sejujurnya....itu bukan kekalahan bagi 
negara China...itu adalah kekalahan seluruh umat manusia di bumi ini. 
Itu adalah kekalahan bagi semangat pantang menyerah, kekalahan 
bekerja keras, kekalahan sportivitas, kekalahan kekuatan impian, 
kekalahan iman, kekalahan 'impossible is nothing', kekalahan semua 
nilai positif di dunia.......

Saat itu terjadi, saya hanya bisa berharap saya sudah terlebih dulu 
meninggalkan dunia ini dengan penuh kebanggaan, dengan masih dipenuhi 
semua nilai positif di dunia ini... (ironis? Mungkin tidak)

Just Remember to do your best, and let GOD DO THE REST!

Leonardus Budi Suryanto
0818 932638


Kirim email ke