Teman2...

Banyak sekali "masalah yang sudah ada" ataupun "masalah yang baru timbul" di 
kota tersayang kita, Singkawang. Tentu saja kita sebagai masyarakat Indonesia, 
khususnya warga Singkawang harus menyadari mana yang harus diprioritaskan. 
Dalam artikel satu ini, saya merasa sedih sekali melihat hak para guru untuk 
mendapatkan tunjangan profesi sebesar Rp 100.000,- / bulan yang belum 
direalisasikan, mengingat hak tersebut seharusnya sudah berlaku sesuai dengan 
Surat Edaran Presiden pada bulan Januari 2007 .

Apapun alasannya, baik SDM ataupun sistem, saya pikir pemkot kita tidak perlu 
waktu 1 tahun lebih (saat ini adalah Agustus 2008) untuk merapikan data2 
administrasi yang dibutuhkan untuk membayarkan uang tunjangan profesi tersebut 
kepada para guru. Mengingat para guru adalah sangat berpengaruh kepada 
perkembangan intelijensi anak2 bangsa.

Melalui tulisan ini, saya berharap para pejabat ataupun PNS kota Singkawang 
yang membaca tulisan ini, harap memperhatikan hal ini, berusaha dan pasti mampu 
untuk secepatnya membuat hak tunjangan profesi para guru dapat direalisasikan. 
Dan jika, hanya saja jika para pejabat atau PNS tidak ada di dalam milist ini 
atau saking sibuknya tidak sempat membaca tulisan ini, aku berharap kepada 
teman2 yang kenal kepada mereka, harap sampaikan hal ini. Terima kasih.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun, semata-mata untuk 
kemajuan standar kehidupan para guru dan kemajuan pendidikan kota Singkawang.

Jika ada kata2 yang salah, saya mengucapkan maaf.
Atas waktu dan perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.


Salam,
Ali Hartono Lie
Jakarta


--- On Sat, 8/23/08, united.singkawang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: united.singkawang <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Singkawang] Equator - Tunjangan Profesi Tak Dibayar, Guru Serbu 
Kantor Diknas
To: [email protected]
Date: Saturday, August 23, 2008, 8:49 AM

Singkawang, Puluhan guru Kota Singkawang terpaksa meninggalkan para
murid, dan nekat menyerbu Kantor Diknas Kota Singkawang, Kamis (21/8),
guna menanyakan tunjangan profesi.

Mereka mengaku sangat kecewa terhadap Pemkot serta Diknas  yang tak
kunjung membayar hak sekitar 200 pendidik tersebut. "Setiap bulan
sesuai Surat Edaran Presiden, maka para guru harus mendapat tunjangan
profesi sebesar Rp 100 ribu. Itu sudah berlaku sejak Januari 2007.
Ironisnya, sampai sekarang uang itu belum dibayarkan," sesal Yusri
yang sehari-hari bekerja sebagai guru SMPN 5. 

Para "Oemar Bakrie" tersebut sudah hadir di halaman Kantor Diknas
sejak sekitar pukul 09.00. Hanya saja tak satu pun pejabat terkait
yang bersedia menerima, maupun memberi penjelasan hingga pukul 10.40.

Dalam rentang waktu dua jam tersebut, mereka hanya dapat berdiri
seraya mengumpat terhadap buruknya kinerja pejabat terkait di halaman
kantor. "Kami sangat memerlukan kejelasan, kapan uang tunjangan
fungsional tak  dibayarkan. Sementara para guru di Sambas, Sintang,
Melawi dan daerah lain sudah mendapatkannya," bebernya Yusri.

Senada, para guru berprasangka ada unsur kesengajaan, serta kelalaian
dengan tujuan memperkaya demi kepentingan pribadi sehingga salaam 18
bulan tunjangan profesi mereka tak kunjung cair. "Guru-guru hanya
ingin menuntut haknya sejalan dengan kewajiban yang telah
dilaksanakan. Selama ini, guru selalu dijadikan kambing hitam terhadap
kegagalan pendidikan. Sementara pihak yang berkompeten tidak
menjalankan fungsi pengawasan. Diknas Kota Singkawang tidak
memperjuangkan nasib guru," sesal Wakil PGRI Ranting 4, Jayadi, SPd.

Puas diterpa panas terik matahari, para guru dipersilakan masuk ke
Aula Diknas. Di meja depan, telah hadir Kabag Kepegawaian Kota
Singkawang, Drs Juandi, Plt Kabid Pendidikan Dasar Diknas, Rasyid
serta jajarannya.

"Kami hadir sebagai bentuk solidaritas sesama guru yang belum mendapat
bayaran tunjangan profesi. Kami sudah berkali-kali minta penjelasan,
namun tak kunjung digubris. Sementara uang itu sangat penting untuk
Bulan puasa dan Ramadan," timpal Siswardi menyampaikan unek-unek
kepada para pejabat tersebut.

Terhadap itu semua, Juandi dengan tegas mengatakan persoalan yang
dikemukakan para "pahlawan tanpa tanda jasa" tersebut sebenarnya sama
sekali bukan suatu permasalahan. "99 persen sudah rampung. Dan akhir
Agustus atau paling lambat awal September tunjangan profesi itu akan
kita bayarkan," janjinya. 

Juandi berkelit dengan melontarkan pertanyaan seputar waktu datangnya
petunjuk pelaksanaan pembayaran tunjangan profesi dari Pemerintah
Pusat. Demikian juga jumlah stafnya hanya empat orang dalam memproses
tunjangan sekitar 2.000 guru di Kota Singkawang. Belum lagi PNS pada
dinas-dinas lain yang keseluruhan mencapai 4.000 orang.

"Aplikasi pembayaran tunjangan profesi tidak sama di seluruh
Indonesia. Dari pusat tidak ada aplikasi, sehingga kita sendiri yang
membuatnya. Ini yang membuat proses menjadi lama," tandas Fredly salah
satu staf pada Setda Kota Singkawang.

Menanggapi hal tersebut, para guru merasa dobodoh-bodohi para pejabat
yang terhitung mendapat ilmu dari mereka sebagai pendidik. "Semua
penjelasan sepertinya ribet sekali. Sementara itu-kan sudah menjadi
risiko pekerjaan. Kami juga sudah jenuh dengan masalah  itu ke itu.
Data tidak pernah akurat jadi data yang telah kami serahkan selama ini
mana?" gugat salah satu guru kepada para pejabat.

Para guru juga meminta konsekuensi bila sampai awal September
tunjangan profesi guru tak juga cair. "Kepada Kabag Kepegawaian yang
hadir di sini, kalau permasalahannya SDM yang hanya empat orang,
sehingga tidak mampu membayar tunjangan profesi guru tepat pada waktu,
maka langkah apa untuk mengatasinya?" cibir para guru. (man)

Source : www.equator-news.com



------------------------------------

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~Yahoo! Groups Links






      

Kirim email ke