http://www.indobackpacker.com/milisarchive/2009/02/09/sekilas-puncak-cap-go-meh-singkawang/
Sekilas puncak Cap Go Meh Singkawang<http://www.indobackpacker.com/milisarchive/2009/02/09/sekilas-puncak-cap-go-meh-singkawang/>February 9, 2009 | By Heru Hendarto In Uncategorized | Temans, Tadi barusan dari Singkawang menyaksikan acara paling hot perayaan Cap Go Meh di Singkawang yang sudah menjadi agenda wisata nasional. Empat ratusan tatung atau lauya alias dukun tumpah di stadion Kridasana (bukan Kridosono Jogja) mempertontonkan kebolehannya masing2. Sempat bertemu Mas Danu yang ternyata sama2 dr Jogja, tapi hanya sempat ngobrol 5 menit karena selanjutnya kami terpisah di lautan ribuan manusia. Pakaian yang dikenakan bermacam2, berhubung saya awam saya hanya kelompokkan menjadi beberapa saja. Satu yang banyak dipakai adalah pakaian Judge Bao, kedua si Buta dari Goa Hantu, ketiga Nanca, ada juga dandanan ala genderuwo alias hitam semua mpe kulitnya pun dicat hitam. Lainnya berpakaian variasi termasuk singlet. Tidak hanya dukun Cina, namun Dayak pun bergabung, bahkan sering batasannya tidak jelas. Ada yang mencantumkan tulisan Dayak Iban tapi di bawahnya disambung dengan tulisan Cina. Yang Cina juga mengenakan aksesori dayak seperti mandau dan motif perisai. Apalagi wajah mereka juga serupa. Aroma dupa menyengat sekali, diiringi tabuhan gendang dengan irama monoton membuat kita bisa terbuai. Mungkin kalo ada yang hobi ajeb2 bisa tersalurkan di sini he he. Masing2 unjuk kebolehan di singgasana. Namanya memang singgasana sebagai tandu mereka, namun isinya parang, pedang, tombak dan deretan paku yang diduduki untuk memperlihatkan kekebalan mereka. Atraksi yang paling menarik adalah ala debus, menusukkan jeruji, batang besi dll ke muka. Walhasil, lauya yang paling banyak menusukkan mukanya adalah yang paling populer, dikerubuti penonton. Anehnya, walau dalam kondisi trance, mereka sepertinya sadar kalo menjadi perhatian. Buktinya hampir selalu saat saya membidikkan kamera, mereka menoleh. Bahkan ada yang saya foto dari depan dan samping sebanyak 3 shot, dia menoleh menatap garang ke saya. Entah dia narsis atau mau ngamuk ke saya ga tau bedanya ha ha ha. Ada juga seorang lauya yang melompat turun dari singgasana, sukses bermain jurus tangan kosong dan salto sana-sini, dia mengambil toya. Nah, baru sebentar main jurus, toyanya terjatuh. Jujur saya mau ketawa tapi nanti dianggap tidak menghargai akhirnya cuma buang muka senyum2. Mungkin sadar dia buat kesalahan, akhirnya dia ambil parang dan sukses menahan tusukan dan bacokan di tubuhnya. Okelah man, malu terobati. Terakhir, mereka diarak keliling kota. Nah, bagi lauya yang bosan atau capek berdiri di tandu, mereka jalan kaki sambil menari2 sesuai karakter roh yang merasuki. Ada juga yang keliling sambil gigit leher ayam berdarah2 di mulutnya. Yang kasian yang kebagian angkat tandu, saking beratnya ada yang beberapa kali istirahat bahkan ganti crew. Yang paling lucu kalo mereka sudah keteteran, tandunya di mana, lauya nya dimana…. kayak dukun ilang aja jalan sendirian. Perayaan ini juga dilakukan di kota2 di Kalbar namun memang yang paling heboh adalah Singkawang. Pontianak sendiri kalah jauh. Sangat2 menarik, belum lagi parade lampion yang meriah dan barongsainya. Saya kira rekan2 harus sempatkan menonton acara tahunan ini. Regards, R. Heru Hendarto
