Maaf (mohon dibenarkan kalau saya salah), saya tidak tahu persis bagaimana
detail atau
prosedur pembagian kekuasaan/wewenang antara sebuah pemerintah kota dengan
sebuah perusahaan negara yang bekerja di kota tersebut, tapi saya rasa tidak
logis / tidak fair kalau dikatakan permasalahan listrik di sebuah kota tidak
ada urusannya dengan pemerintah kota tersebut. Bagaimanapun, saya rasa semuanya
saling berurusan. Menjadi pemerintah dari sebuah kota seharusnya dan memang
sudah tugasnya untuk berurusan dengan isu-isu perkotaan seperti itu, entah itu
listrik, bbm, air, ataupun elemen-elemen lainnya. Apalagi di zaman seperti ini,
adekuasi listrik sudah menjadi salah satu prasyarat primer perkembangan rumah
tangga sebuah komunitas yang kontemporer. Listrik tidak bisa dipungkiri
merupakan
salah satu elemen fundamental dalam sebuah kota. Bagaimana mungkin tidak ada
urusan dengan pemerintahnya ? Menjadi pemerintah kota yang ideal dan solid
menurut saya, seharusnya mengurusi segala yang berhubungan dengan kelangsungan
perkembangan kota tersebut. Termasuk juga terhadap isu-isu penghematan dan
“pembocoran” bahan bakar seperti kabar angin yang pernah beredar. Bukan tidak
mungkin akan ada prasangka negatif bahwa malah ada oknum-oknum pemerintah kota
sendiri yang “berkoordinasi” dan berkonspirasi dengan oknum-oknum lembaga
negara penyedia listrik itu. Yah, kita sama-sama tahu saja, atau mungkin
sama-sama “tidak tahu” saja. Mungkin semuanya perlu kembali ke inisiasi dan
koordinasi yang lebih sehat dan efektif antara lembaga-lembaga negara yang
bekerja,
bukannya saling lempar tanggung jawab.Tidak tahu, mungkin tradisi /
sifat hipokrit bangsa kita barangkali yang sekian lama membentuk mental seperti
itu. Kalau ada kemajuan atau keunggulan, saling mengklaim sebagai hasil kerja
sendiri / kelompok sendiri, kalau ada kelemahan atau kesalahan, saling lempar
tanggung jawab.Jika kita mengganggap kota adalah
sebuah sistem (sosial, ekonomi, budaya, ekologi, dsb), kata-kata Soekarno tahun
1950an yang masih segar dalam ingatan saya (soalnya baru saya baca beberapa
hari yang lalu) mungkin akan bisa jadi solusi untuk isu-isu seperti itu, bahwa
dalam sebuah sistem, perlu
ada pemimpin yang mampu memutuskan, dan kepemimpinan itu amat penting bagi
sebuah sistem. Jika variabel sistem itu adalah Kota Singkawang, maka apakah
variabel pemimpinnya ? Pemerintah kota atau perusahaan penyedia listrik ?
jangan-jangan
tidak ada yang mau ngaku juga. Heheheheheh. Ya sudahlah.
Regards.
To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Mon, 30 Mar 2009 10:46:32 +0000
Subject: Re: [Singkawang] [PP] Aksi Keep Earth, 1 Jam Singkawang Gelap Gulita
Dear Eugenia,
Yang pasti ini sih bukan urusannya Pemkot, tapi PLN sebagai perusahaan penyedia
listrik bagi rakyat. Nah, moga saja pemadaman yang secara teknis memang logis
ini tidak dimanfaatkan oknumnya sebagai lahan buat pribadi. Kita semua tahu
kalau listrik padam sekian waktu maka juga akan hemat sekian liter. Penghematan
ini harus riil, bukan "bocor" ke oknum.
Salam,
Hendra B.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: eugenia wu
Date: Sun, 29 Mar 2009 20:46:52 -0700 (PDT)
To: <[email protected]>
Subject: Re: [Singkawang] [PP] Aksi Keep Earth, 1 Jam Singkawang Gelap Gulita
Iya, harusnya Singkawang mendapatkan penghargaan tuh akan kepeduliaannya
terhadap lingkungan :) / penghematan energi maupun air :)
From: ardy prasetya <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Monday, March 30, 2009 1:40:36 AM
Subject: RE: [Singkawang] [PP] Aksi Keep Earth, 1 Jam Singkawang Gelap Gulita
Heheheh. Ironis yang berdarah-darah.
Regards.
To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Sun, 29 Mar 2009 16:59:49 +0000
Subject: Re: [Singkawang] [PP] Aksi Keep Earth, 1 Jam Singkawang Gelap Gulita
Benar, Bung Ardy..
Makanya saya tidak ikutin aksi keep earth kemarin, abis tiap 5 hari rumahku
dapat jatah pemadaman 3-4 jam, lebih lama dari aksi keep earth kemarin, he-he..
Saya pun dari dulu tidak pakai genset, yang Honda punya mahal sih, ngak
kejangkau..
Salam,
Hendra Bong.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: ardy prasetya
Date: Sun, 29 Mar 2009 23:56:17 +0700
To: <singkaw...@yahoogro ups.com>
Subject: RE: [Singkawang] [PP] Aksi Keep Earth, 1 Jam Singkawang Gelap Gulita
Hm ? Bukannya di Singkawang memang sering ada Earth Hour bergilir ?
To: singkaw...@yahoogro ups.com
From: w...@singkawang. us
Date: Sat, 28 Mar 2009 19:23:45 +0700
Subject: [Singkawang] [PP] Aksi Keep Earth, 1 Jam Singkawang Gelap Gulita
Sabtu, 28 Maret 2009 , 10:16:00Aksi Keep Earth, 1 Jam Singkawang Gelap Gulita
SINGKAWANG – Organisasi pecinta lingkungan sedunia melakukan sebuah voting di
internet dengan dua tema terkait penyelamatan bumi dari kehancuran dan
kepunahan, akibat penggunaan energi fosil bahan bakar listrik. Yakni Global
Warming dan Keep Earth. Dari dua vote tersebut, terpilihlah Keep Earth. Salah
satu aksi yang dilakukan menindaklanjuti itu, adalah dengan mematikan listrik
selama satu jam pemakaian. Pemerintah Kota Singkawang lewat Badan Lingkungan
Hidup pun bereaksi. BLH mengajak masyarakat untuk bersama-sama mematikan
penggunaan listrik pada Sabtu (28/3) mulai dari jam 22.00 sampai dengan 23.00
WIB. “Kalau di dunia mulai dari pukul 20.30 sampai dengan 21.30 WIB. Namun,
kita sesuaikan dengan kondisi Kota Singkawang pada malam minggu. Makanya pada
tanggal 28 Maret mulai jam 22.00 sampai dengan 23.00 WIB kita bersama mematikan
penggunaan listrik,” kata Kepala BLH Kota Singkawang Ramzy Nurdin kepada
wartawan di ruang kerjanya kemarin.
Mengapa tanggal 28 malam? Ramzy menjelaskan, hal itu sudah merupakan
kesepakatan seluruh dunia sebelumnya dalam pertemuan yang diadakan di Bali
beberapa waktu lalu yang membahas masalah lingkungan hidup. Meskipun, hari
lingkungan hidup sedunia jatuh pada tanggal 5 Juni. Ia menambahkan, tujuan
mematikan penggunaan listrik selama satu jam tersebut, merupakan wujud
solidaritas terhadap penghematan energi yang tak terbarukan, yang selama ini
digunakan untuk mesin pembangkit tenaga listrik.
“Energi fosil merupakan sumber energi yang tak terbarukan. Kalau digunakan
terus maka akan habis,” jelas Ramzy. Ia menambahkan, hal itu juga untuk
menggugah kepedulian masyarakat kepada bumi. Dan juga agar masyarakat bisa
melakukan tindakan nyata dalam rangka menyelamatkan bumi. Ramzy berharap, jika
sudah dimatikan nanti, jangan ada masyarakat yang menggunakan mesin genset.
“Genset juga menggunakan bahan bakar dari sumber energi fosil. Lagipula,
mematikan penggunaan listrik tersebut hanya satu jam saja,” katanya. Menurut
dia, pemerintah sudah memberikan surat edaran kepada Struktur Kerja Perangkat
Daerah yang ada di Singkawang terkait masalah ini. Ia mengungkapkan, hal itu
supaya bisa diketahui oleh seluruh pegawai negeri dan keluarganya.
Menurutnya lagi Pemkot Singkawang sudah bekerjasama dengan PLN Cabang
Singkawang. Katanya, PLN diajak untuk mengkoordinasi mematikan listrik selama
satu jam tersebut. Jika pun listrik masih dihidupkan, maka masyarakat harus
tetap mematikan sendiri listrik di rumah masing-masing. Wali Kota Singkawang
Hasan Karman melalui Kepala BLH mengimbau kepada semua masyarakat untuk
bersama-sama mendukung langkah ini. “Kepada semua masyarakat Singkawang dan
sekitarnnya, pada Malam Minggu tanggal 28 Maret 2009, untuk mematikan listrik
mulai dari pukul 22.00 sampai dengan 23.00 WIB di rumah, toko tempat hiburan
dan lainnya. Kita ingin menggugah hati masyarakat, untuk sama-sama agar bisa
menyelamatkan bumi dari kepunahan dengan cara melakukan penghematan bahan bakar
yang bersumber dari energi fosil yang tak terbarukan. Mari bersama-sama
melakukannya, agar nanti anak cucu kita tidak kehabisan sumber energi
tersebut,” imbau Wali Kota melalui BLH. (ody)
Make the most of what you can do on your PC and the Web, just the way you
want. Windows Live
Make the most of what you can do on your PC and the Web, just the way you
want. Windows Live
_________________________________________________________________
Manage multiple email accounts with Windows Live Mail effortlessly.
http://www.get.live.com/wl/all