Senin, 01 Juni 2009 , 08:51:00 Swasta Diusulkan Kelola PDAM Pemkot Kaji Tiga Opsi<http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=19465#>
SINGKAWANG – Pemerintah Kota Singkawang saat ini tengah mengkaji tiga opsi untuk pembenahan manajemen PDAM. Yaitu tetap dikelola pemerintah, swastanisasi alias dikelola pihak swasta dan yang ketiga adalah joint venture, yakni pemerintah dan swasta sama-sama mengelola perusahaan yang belum lama lepas dari kabupaten induk tersebut. Ada yang usul jika PDAM lebih baik dipegang oleh pihak swasta saja. “Nampaknya PDAM perlu diubah menjadi PSAM (Perusahaan Swasta Air Minum). Sebab, baik masih milik Kabupaten Sambas maupun Kota Singkawang sama saja,” kata Abdul Rani, salah satu aktifis pemuda Kota Singkawang kemarin. Ia berkeyakinan dengan dikelola oleh pihak swasta, akan ada kemajuan bagi PDAM tersebut. Sebab, alasannya, pihak swasta lebih profesional, dan tidak sekedar wacana atau basa-basi. “Yang penting bukti dapat memenuhi kebutuhan konsumen,” katanya. Menurut dia, soal tarif agak mahal jika dikelola oleh pihak swasta nantinya, itu tidak menjadi masalah. Ia menambahkan, daripada konsumen punya pengeluaran ganda, yakni untuk membayar tarif bulanan PDAM, dan juga untuk membeli air tanki atau galon untuk minum ataupun mengabaikan mata pencaharian. “Sebab kebutuhan air yang mendesak. Masyarakat benar-benar, makan hati selama ini. Jika telat bayar di denda, tak peduli apapun alasannya. Tapi ketika air tidak mengalir, pihak PDAM bisa merangkai 1001 alasan,” kata Abdul Rani. Menurut dia, tanpa air dalam kehidupan sehari-hari sama dengan kotor. Aktifitas pun, tambah dia, jadi tersendat, dan waktu banyak terbuang. Bagi orang yang finansialnya kuat, dijelaskan Rani, tinggal telepon saja maka air pesanan langsung datang. “Tapi bagi yang pas-pasan hanya bisa antre mengambil air, dan itu menyita waktu dan tenaga. Bagi orang yang bermodal, krisis air merupakan kesempatan untuk berbisnis mencuri kesempatan dalam kesempitan,” ungkapnya. “Dari dulu sampai sekarang PDAM tidak juga berubah, sekalipun sudah menjadi milik Singkawang. Pembenahan, perbaikan, peninjauan hanya bertitik pada wacana-wacana tanpa terlaksana. Banyak masyarakat Singkawang menjerit di tengah hentakan kata spektakuler,” tambah aktifis dari BIS Demokrasi dan GSC ini. Dia menambahkan lagi, “Bersih adalah pangkal sehat. Antara bersih dengan air adalah dua hal yang tidak boleh terpisahkan. Kota Singkawang krisis air sama dengan kotor dan tidak sehat yang berujung kepada penyakitan. Ibu rumah tangga mengeluh sebab panci, piring sendok belum dicuci. Padahal semalam mungkin di utak-atik tikus ataupun kucing.”Ia juga menagih jani walikota saat kampanye dahulu, untuk melakukan mengatasi permasalahan air besih ini. “Semoga saja janji tidak dilupakan,” ungkapnya. Seperti dilansir Pontianak Post sebelumnya, meletakan kebutuhan air bersih bagi masyarakat merupakan suatu yang urgen, Pemerintah Kota Singkawang, Pemerintah Kabupaten Bengkayang, dan Pemerintah Kabupaten Pontianak duduk satu meja membahasnya. Ketiga daerah sepakat untuk mencarikan solusi yang terbaik, pada ekspos Pembangunan Prasarana Air Bersih Lintas Kabupaten dan Kota, Rabu (27/5), di Mess Bengkayang. Keberadaan Kabupaten Bangkayang dengan gunung dan hutannya yang masih asri, membuat daerah ini menjadi potensi sebagai daerah resapan air. Banyaknya sumber air yang mengalir, membuatnya menjadi salah satu tempat yang dirasakan mampu untuk memecahkan persoalan distribusi air kepada masyarakat, khususnya bagi Kota Singkawang dan Kabupaten Pontianak. Mengingat kedua daerah ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Bengkayang. Pernyataan itu diungkapkan Bupati Kabupaten Bengkayang, Yacobus Luna dalam kesempatan tersebut. Dimana atas hasil survey pihak konsultan, maka ketersediaan air di Bumi Sebalo ini mampu menangani sebanyak 10.000 konsumen. Saat ini, baru dimanfaatkan untuk mengaliri 2.000 pelanggan. Luna juga menjelaskan distribusi air yang digunakan adalah lebih banyak dengan sistem gravitasi. Hal ini tentu membuat biaya operasionalnya menjadi lebih murah bila dibandingkan dengan sistem pompanisasi. Sumber air yang ditawarkan adalah Riam Marum yang memiliki debit air andalan rata-rata sebesar 2,492 m3/detik (Survey Tahun 2008, Balai Penelitian Teknik Untan). “Pertemuan ini untuk menyatukan persepsi (tentang pentingnya air bersih). Bengkayang punya peluang dan potensi kekayaan alam berupa air dari gunung,” harap Luna yang mengisitilahkan pertemuan itu sebagai Pertemuan Bengkayang dan akan ditindaklanjuti dengan pertemuan lainnya demi kepentingan masyarakat. Walikota Singkawang, Hasan Karman mengatakan PDAM Kota Singkawang sedang melakukan pembenahan dan penataan adiministrasi pasca penyerahan dari kabupaten induk. Diakuinya, melihat sumber air yang dimiliki oleh Kabupaten Bengkayang dirasakan dapat menjadi salah satu solusi dalam memecahkan masalah air di Kota Singkawang. Ia berpendapat pertemuan ini akan terus berlanjut dalam upaya pemenuhan kebutuhan air bersih. Sejumlah tahapan tentu akan dilalui termasuk pembahasan dengan DPRD. “Persoalan air bersih harus segera diselesaikan, kalau tidak nanti kita yang disalahkan oleh anak-cucu kita,” ucapnya yang memandang kebutuhan air bersih sebagai kebutuhan kemaslahatan umat. (ody)
